Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2015

Aku,ubi, dan mamak [part 1]

Diposting oleh Unknown di 17.21 0 komentar


Oleh : Titin AW
Judul : aku, ubi,dan mamak part 1
Bismillah
Sudah menjadi kebiasaan jika hari akhir pecan aku selalu, maksudku hamper setiap minggu nya pulang kampong. Untuk sekedar menumpahkan rinduku pada si kecil, maksudku adikku yang masih umuran 3 tahun. Sampai dirumah, kulihat ada sekarung besar ubi di dapur. “ini untuk apa mak? Banyak sekali ubinya.
“udah 4 hari ini, mamak buat usaha kripik ubi. Nanti hasilnya, bisa jadi uang jajanmu dan adikmu di pondok.” Tanpa menunggu perintah aku membantu mamak mengupas ubi-ubi ini. Sedangkan mamak tetap fokus pada penggorengan. Sampai petang, aku masih saja berkutat dengan tugas baru rumahan ini. Mengupas ubi, lalu mencucinya. Mengupas gula merah tipis-tipis. Dan sesekali mengupas ubi dalam bentuk tipis-tipis. Dalam keheningan, aku berharap mamak tak mengangkat topic menjengkelkan itu.
“masih berteman dekat dengan yang dulu?”. Nah ini dia, bagaiman mau hijrah dengan tenang anak mamak yang manis ini, jika tiap pulang kampong pasti terlontar pertanyaan itu. Aku diam, dan terus saja mengupas ubi madu ini. Tapi mungkin mamak sedikit bisa membaca keadaan.
“mamak Cuma mau ingatkan, sekarang banyak sekali kejadian yang membuat kepala mamak pening”
“maksud mamak, kejadian seperti apa?”
“sekarang banyak gadis, yang hamil diluar nikah, entah itu dengan pacarnya, pacar temannya, bukan pacar sekalipun ada. Dan mamak benar-benar mengkhawatirkan mu, takut jika kejadian itu terjadi pada anak-anak mamak”. Ubi madu nya terdiam memaku, aku menghelaa napas memikirkan kata-kata yang pas untuk mamak.
“hmm ma, Fira sekarang Cuma mau cepat lulus, wisuda, cepat jadi dokter, dan bekerja. Dan malas urusin pacaran,lagian Fira juga gak punya pacar dan gak niat punya pacar.”
“yaa,,mamak Cuma takut, nanti kamu stress dengan tugas-tugas kuliah mu, kamu diajak teman lawan jenismu jalan-jalan dan kejadian, lebih baik kalu mau nikah, kamu ngomong sama mamak. Dari pada melakukan perbuatan haram itu”. Nah, begitu sudah, ujung-ujungnya bahas nikah, jujur saja masalah cinta,nikah, aku alergi untuk membicarakannya. “mak, Fira nggak akan kayak gitu”. Boro-boro mau nikah, calon idaman pun gak ada, dan malas pula mencari calon pendamping, lagipula jika ada yang dating pun aku tak berminat. Bukan karena apa-apa, hanya saja aku lupa password hatiku. Dan aku sedang fokus pada satu cinta yang abadi yang tidak semu, tidak pula bertepuk sebelah tangan.
“nanti jika kamu pilih calon pasangan, jangan Cuma berdasarkaan cinta, mamak tidak mau kejadian kayak cerita tante kamu. Menikah didasari cinta saja, gak bakalan bertahan lama. Apalagi dengan hanya melihat wajah tampan saja. Dan blab la..”. Oh My Rabb mamak masih saja ternyata membahas tema pernikahan, calon pendamping,hoaamm jujur saja kriteria saja aku tak punya, bahkan jika tak ada kuota jodoh untukku aku tidak marah pada Allah, setidaknya jika tak menikahpun aku bisa bekerja, membiayai sekolah adik-adikku. Ya, mungkin mamak terus-terusan membicarakan pernikahan karena saudara-saudara sepupu ku banyak sekaali yang menikah mingu-minggu ini.
“iya, mak. Untuk saat ini, Fira benar-benar belum terpikirkan untuk menikah lah, cari calon pendamping. Biar Allah yang atur mak, ada nggaknya satu imam buatku. Yang penting Firda dan Ezi bisa sekolah sampai tanpa hambatan biaya.”aku meneruskan memasukkan kripik ubi ini ke dalam bungkusannya. Ubi, si saksi bisu atas topik yang meng-alergi-kan ini mungkin tersenyum, dengan topik yang tak pernah aku berminat untuk membiacarakannya. Toh bukannya, masih banyak topic menarik yang belum dibenahi, akidah kita, masalah tauhid, masalah iman kita, serta sejauh mana kita mengetahui islam. Lalu mengapa selalu saja yang jadi topik hangat adalah JODOH,NIKAH,& CINTA?
Ups maaf, itu opini ku, mungkin tidak sepenuhnya benar.
[Aku, ubi, dan mamak part 1]

kehilangan yang membuat lebih dekat kepadaNYA

Diposting oleh Unknown di 17.15 0 komentar

Oleh : Titin AW
“kehilangan yang membuat lebih dekat kepadaNYA”

20 September 2015 05.15 am
Tiap pagi begini, selepas shalat subuh aku biasa jalan-jalan pagi, terkadang memakai sepeda sekedar berkeliling di area kompleks sekitaran tempat tinggalku. Begitu terus setiap pagi, dan yang terakhir tentu saja aku takkan melewati semburat langit saat fajar sambil mengambil beberapa gambar dengan kamera DSLR ku yang aku ambil diatas atap rumahku. Sesuai dengan namaku fajar, Fajar Ardian. Saat fajar menyingsing, itu adalah saat langit mengeluarkan kecantikannya bagiku. Udara masih segar tanpa polusi, dan kota metropolitan ini masih belum terlalu ramai. Dulu, yang seringkali menjadi objek pengambilan gambar juga adalah saat matahari akan tenggelam. Saat senja, langit senja sama indahnya dengan langit saat matahari akan terbit atau saat fajar. Tapi, sekarang senja bukan objekku lagi, aku juga tak ingin melihatnya lagi,itu jika bisa. Tuhan melenyapkan senja hari dan langsung petang, itu lebih bagus. Karena bagiku, jika sore hari saat terlihat semburat langit senja, aku akan mengingatnya lagi. Dan aku tidak suka.

21 September 2015
 Hari utama dalam segala kegiatan persekolahan,dan bekerja dimulai lagi. Tidak ada yang menarik, tidak pula membosankan yang kata orang senin adalah hari paling berat, paling sibuk, dan rasanya ingin tetap menarik selimut selepas shalat subuh. Begitu ungkap murid-muridku saat aku memberikan tugas rumah. Aku adalah seorang guru, tutor, dan penulis. Tulisan ku sering dimuat di majalah, Koran, dan kadang diangkat menjadi naskah skenario film pendek. Hidupku bisa dibilang merupakan impian anak muda zaman sekarang. Fasilitas rumah, kendaraan, finansial selalu terpenuhi, dengan prestasi gemilang pula. Tak pernah ada kegagalan berat dalam hidupku. Itu selepas aku diangkat menjadi anak asuh salah seorang pengusaha kaya raya nan baik hati. Sebelum tinggal di Jakarta, aku dahulunya tinggal di daerah Bukittinggi Lombok Barat,NTB. Pastinya kalian baru dengar daerah asalku. Ya siapa yang mengira, ada daerah bernama Bukittinggi selain di Sumatra. Daerah dengan kemiringan jalannya sampai 70 derajat. Dengan akses jalan yang masih bebatuan serta sinyal operator apapun yang datang dan pergi. Tapi beberapa hari lalu ku dengar akses kesana sekarang sudah lumayan bagus. Pemerintah sudah melakukan operasi pemulusan jalan, dari Desa Jeringo sampai Desa Gelangsar. Suatu saat aku akan mengunjungi daerah asalku itu. Mengunjungi air terjun yang dahulunya tempat aku memandikan kuda warga, dengan upah makan satu piring penuh.
Sekarang, di kota metropolitan ini, aku sebenarnya tinggal dengan ayahku dan keluarganya, ayah angkat tepatnya. Tapi akhir-akhir ini beliau selalu sibuk mengurusi usaha nya, menyiapkan hewan kurban, dan sibuk diperpustakaan dengan buku-buku yang hampir semuanya cetakan luar negeri, dan kebanyakan buku tebal dengan bahsa arab tanpa baris pula, melihat nya saja aku sudah pusing apalagi membacanya, tentu saja aku tidak pernah sekalipun mengenyam pendidikan di pondok pesantren.
Selepas shalat ashar, aku berharap bisa menikmati scangkir teh dengan ayah karena akhir-akhir ini aku merasa tidak puas dengan segala hal yang ada dalam hidupku, kali saja jika aku mendiskusikan hal ini dengannya, aku bisa menemukan jalan keluarnya. Ya biasanya selepas ashar beliau akan duduk di beranda belakang rumah sambil memberikan makan ikan di kolam. Ah, itu ayah “mbok, satu cangkir teh juga ya” sambil duduk disamping beliau. Beliau masih saja serius dengan ikan-ikan dikolam tersebut. Aku mencoba untuk berdehem, beliau hanya melihat ku sebentar lalu tak menggubrisku malah menyeruput tehnya. “kemana saja kau anak muda? Sebegitu sibukkah menulis sampai tak pernah menemani ayah lagi tiap sore menikmati teh dan mengobrol ringan?” kini giliran aku yang pura-pura tidak mendengar, menyeruput teh dan menatap ikan-ikan di kolam, beliau hanya tersenyum. “ayah, akhir – akhir ini aku merasa seperti tak puas dengan hidupku, padahal hampir tak ada masalah dalam pekerjaan, maupun dengan relasi,,”
“apa yang kau perlukan lagi? Ayah akan penuhi insyaAllah.”
“bukan, bukan soal materi ayah, tapi entah rasanya ada yang kurang, aku tidak merasa bahagia dengan segala karunia yang Allah berikan ini, seperti..” aku menggantungkan kalimatku, menemukan kata-kata yang pas. “ kau perlu pendamping hidup”
“maksud ayah? “
“Ya, saat uring-uringan seperti ini, saat kau pulang bekerja, saat kau butuh seseorang untuk mendengarkan cerita mu yang penting, ia akan selalu setia mendengarkanmu, melepas rasa lelahmu dengan senyum mu”. Ayah menunggu responku yang hanya memainkan ujung cangkir. “sepertinya, aku masih belum bisa mencari pendamping hidup ayah”
“alasannya? Apa belum ada gadis yang tepat?”
“hampir”
“hampir? Hmm..sepertinya putra ayah sedang mengalami masa kegalauan. Haha, ceritakan pada ayah, kali saja ayah bisa membantumu”
Apa harus aku bercerita? Ah rasanya aku malu menceritakan hal seperti ini, apalagi pada ayah. Mungkin jika pada ibu bisa saja, ah tapi aku laki-laki. Ah ya sudah, toh aku sedang mencari jalan keluar permasalahanku. “2 tahun lalu, aku pernah dekat dengan seorang wanita”. Ayah mengangkat alisnya, aku bisa membaca gelagat ayah yang keheranan, mendengarku dekat dengan seorang wanita padahal selama 13 tahun aku hidup bersama beliau tak pernah melihatku dekat bahkan membicarakan satu wanita pun kecuali ibu. “itu sudah lama ayah, dan sekarang aku sudah tak pernah berhubungan lag dengannya. Kedekatan kamipun hanya sebatas jalan bersama, hanya itu. Tapi 1 tahun lalu, ia mulai menghilang, aku mencoba menghubunginya karena khawatir. Sampai suatu hari ia memutuskan untuk mengakhiri kedekatan kami padahal selama kami dekat tidak ada masalah, saat aku Tanya alasannya bahwa hubungan yang kami jalani ini tidak di ridhoi Allah. Aku mengatakan, bahwa aku akan melamarnya, tapi ia mengatakan akan fokus pada studi nya dulu. Jika berjodoh, suatu saat Allah akan mempertemukan kita, sekarang kita sama-sama memantapkan diri, itu kata-kata terakhir yang ia katakan”
“oh kau diputuskan karena Allah? Lalu masalahnya dimana? Haha seperti sinetron saja.”
“ah..bukan disitu ending ceritanya ayah”
“nah, lalu?”
“dia gadis baik, berjilbab, pintar, dan sopan. Dia juga menundukkan pandangan pada pria yang bukan muhrimnya. Ya, aku mungkin dulu sedikit menggoyahkan imannya sampai akhirnya aku jalan dengannya, tapi karena kedekatan itu aku rajin shalat ke masjid, rajin beribadah. Sampai saat dia memutuskan pergi karena Allah, aku mengikhlaskannya. Karena aku yakin dia adalah jodohku, dia pasti akan ku lamar nanti saat studinya selesai. Sampai beberapa bulan kemarin, aku tak sengaja melihatnya sedang tertawa bersama seorang temanku. Aku meyakinkan diriku, bahwa itu hanyalah scenario seperti di film-film yang melihat mantan kekasihnya bersama orang lain tertawa bersama lalu mantannya cemburu. Tapi suatu saat di toilet pria. ponsel nya ditinggalkan didekat wastafel tempatku mencuci tangan, tiba-tiba ponsel nya berdering, kulihat nomor yang sangat aku kenali, lalu ia segera keluar dari toilet meraih ponsel nya dan..tiba-tiba rasanya seperti semua yang aku lakukan sia-sia, isi pembicaraannya menanyakan pada si penelpon sudah makan belum, buku yang kemarin dipinjam akan dikembalikan, bertemu di tempat biasa. Dan sisa nya aku tidak ingin lagi mendengar, aku keluar”. Kulihat ayah menghela napas panjang, menyeruput teh nya ”hanya, sampai itu? Kau belum mengomfirmasi kan kedekatan mereka, ah kau terlalu terbawa emosi jar”
“yah, setelah itu, aku langsung  menanyakannya, tapi yang ia katakan ia bahkan tak pernah saling berhubungan dengan temanku itu lewat via telpon, dia hanya bilang dia meminjam buku untuk keperluan tugas kuliahnya, saat aku Tanya tentang hubungannya dia menjawab hanya sebatas teman biasa. Aku hanya kecewa ayah, saat aku begitu mempercayainya, memantapkan ia menjadi jodohku kelak, serta mengikhlaskan nya karena Allah, ia malah bersama orang lain. Dari kejadian itu, aku tak mau lagi merancang masa depanku, aku sudah tak mau lagi menjalin hubungan dengan siapapun” bukannya menanggapi keluh kesahku dalam acara 4 mata bersama ayah, malah beliau masuk ke kamar Adin, lalu keluar dengan membawa mainan puzzle.”untuk apa puzzle ini yah? Astagaa,, aku sudah umur 23 tahun, diajakin main puzzle?”
“sudah,,,,susun saja dulu puzzle nya”. 30 detik saja puzzle ini selesai aku kerjakan, tapi tunggu puzzle yang dibagian akhir dimana? Aku mencari-cari pasangannya, setelah aku dapat malah diambil ayah. “ayah, itu puzzle terakhir, jika aku tak memasangnya, puzzle nya tentu tidak terlihat sempurna. Ayah hanya mengulum senyum “lalu bagaimana jika yang ayah ambil bagian puzzle yang ditengah?”.
“ah ayah, hanya akan membuat semakin tidak sempurna, kalau malah bolong di tengah makin tidak enak lah dipandang”. Lalu ayah menaruh potongan puzzle di tengah kembali. Dan potongan puzzle terakhir, beliau ambil dari puzzle yang gambar lain. “lho, yah,,itu bukan pasangannya, gimana bisa nyatu pasangannya?”
“ kamu belum coba pasang, sudah bilang gak nyatu, coba pasang puzzle terakhir dengan puzzle ini”. Ah ayah ada-ada saja, mana bisa puzzle ini disatukan, kan beda gambar. Gambar ini potongannya orang yang sedang berdoa, padahal kan puzzle kedua terakhir harusnya diisi dengan potongan tangan animasi yang bergandengan, tapi tunggu,,kenapa malah bisa cocok seperti ini?
“sekarang kamu mengerti maksud ayah? Ayah hanya mengambil potongan terakhir dari puzzle, tapi kamu se gusar itu, padahal masih terlihat lengkap kan? Coba jika yang potongan tengah yang paling besar, sangat terlihat tidak lengkap. Begitu pula dengan apa yang kau alami, semua yang kau punya hampir terpenuhi, tapi hanya karena Allah mengambil sekeping hati mu, kau lupa bersyukur dengan segala nikmat dan karunia-Nya. Dan perhatikan setiap sudut dari puzzle ini”. Aku memperhatikan dari sudut atas kiri dengan tulisan ALLAH,lalu sudut atas kanan ALLAH juga, sudut Kiri bawah ALLAH lagi, dan terakhir sudut kanan bawah ALLAH. Barulah aku sadar, bahwa puzzle ini bukan mainan, tapi salah satu media perentasi pemasaran usaha ayah.”itulah nak, mengapa ayah menyuruhmu menyusun puzzle ini, karena dari awal sampai akhir segala sesuatu yang ingin kita capai, diniatkan dengan nama Allah, maka saat kau menemukan jalan buntu, terpuruk, atau bahkan kehilangan segala sesuatu yang kau cintai di dunia ini, tempat pelabuhan hatimu adalah ALLAH semata. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati kita”
Semburat senja sudah terlihat, dan magrib akan segera tiba, kami segera bergegas ke masjid, aku mendapat pelajaran berharga hari ini, dan aku sudah menemukan titik balik kehidupanku. Titik balik yang jiwaku yang selama ini hanya terisi cinta duniawi. Kini aku tahu apa yang harus kulakukan. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.
[maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?] (QS ArRahman:13)
[…sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati…] (QS AlAnfaal:43
[innahu ‘aliimun bidzaatishuduur] ( QS AlMulk:13]

Senin, 10 Maret 2014

when a real story can't fused with a fiction

Diposting oleh Unknown di 18.58 0 komentar


Rabu 25 desember 2013
Diketik 26 desember 2013 14.20 WITA to 18.00 WITA
Kali ini bukan malam-malam seperti sebelumnya. Bukan malam minggu bukan pula malam jumat (apa hubungannya ya? Ah whatever). Kuberitahukan padamu kawan...kau takkan percaya, yeah begitu pula denganku. Aku saja yang jadi pemeran utama disini tak percaya dengan kejadian ini, ini benar-benar nyata, tapi mungkin kalian yang tak pernah mengalami akan merasa bahwa kejadian ini tak pernah terjadi yeah walaupun pernah entah itu dimana, ya aku juga pun berfikir begitu secara gitu...hidup ini bukan a fairytale tapi aku bisa menjamin bahwa kisah dibawah ini benar-benar terjadi hanya saja aku susah menuliskan sesuai dengan apa yang aku temui di lapangan hahaha seperti penelitian saja, tapi aku serius ini benar-benar terjadi. Hmm..tapi satu yang jadi masalah, dimana kenyataan takkan mudah bersatu dengan khayalan, mungkin sebagian dari kalian merasa ada yang salah (mbak...harusnya khayalan tak mudah bersatu dengan kenyataan)oh tapi maaf kawan...maksudku tak seperti itu, yang ku maksud disini adalah...dimana sebuah kenyataan harus bisa ku satukan dengan khayalan. Ya benar, aku harus bisa menyatukan sebuah kisah realita dengan sedikit khayalanku yeah! (Kenapa harus gitu? Kan bisa tuh sekali-kali tulis aja realita nya,susah amat!) ya kau benar kawan...tapi jika ku tuliskan realitanya maka ending kisah ini akan datar ya datar dan tak terlalu menarik. Aku juga sebenarnya ingin menyempaikan lewat tulisanku ini bahwa betapa kenyataan itu sulit sekali di satukan dengan apa yang ada di khayalan. Kisah ini insyaAllah cocok dengan kawan-kawan yang dalam khayalannya menanti seseorang yang tepat dalam idaman selama ini dan berharap menemukannya dalam dunia nyata(aseeekkkk!!!). Tapi jika saat kau menemukannya tapi agak tak sesuai dengan apa yang kau impikan selama ini, maka jangan sedih jangan kecewa, bercerminlah apakah kekurangan dia lebih banyak daripada kekuranganmu? Hehehe bukan maksud menggurui, tapi terkadang kita memang terlalu sibuk mencari kesempurnaan sampai-sampai setiap kita menemukan kecacatan sedikit maka kita merasa itu merupaka kesalah besar. Come on! Hidup itu gak selama nya diseriusin kadang kita juga perlu merelaksasikan hidup ini(hehe kayak jantung aja di relaksasiin). Oke..hehe maaf kebanyakan cuap-cuap nih dari tadi si penulis bosen baca ya? Yayaya Jadi disini...tujuanku adalah untuk menghibur kalian,oleh karena itu aku menaruh bumbu-bumbu khayalanku sedikit, jadi, jika saat membaca kisah ini dan menemukan letak ketidaknyambungannya...pada saat itulah si penulis mengerahkan sekuat tenaga untuk menyatukan 2 dunia tapi apa daya..sulit sekali rasanyaL. Dan akhirnya setelah di aduk-aduk (walaupun sebenarnya tak bisa bersatu okelah, semoga bisa dimengerti, kalaupun tak bisa dimengerti, ngertiin aja ya susah amat!nah lho?hehe ntar ada garis khatulistiwa eh ada garis underscot yang ngebatasin sebuah kerumitan ketidakdapatnya menembus sebuah batas-batas ketidakmungkinan) dan..akhirnyaa jadilah sebuah kisah menarik(mudah-mudahan aamiin ya Rabb). It’s ok! Kasi aku waktu Tarik napas dulu sebentar. Hmmmfff  -__- bismillahirrahmanirrahiim
Malam itu...aku benar-benar jengkel, kecewa, nyesek, hmm ada yang bisa memberikanku kosa kata untuk rasa ini?. Okelah tak apa...akan ku teruskan. Dia..ya dia...aku heran mengapa dia selalu membuat hatiku tak karuan, kehilangan kata-kata, dan kadang ingin jingkrak-jingkrak sendiri ups! Stop ! jangan terlalu terbawa suasana, bukan karena apa-apa tapi yaahh..pokonya tak usah lah, aku yakin jika kamu terbawa suasana maka semua akan terlihat seperti love story hueekk, novel cengeng dan lagu-lagu galau overperasaan itu. Well, jujur aku memang suka semuanya, tapi entah kenapa, akhir-akhir ini aku merasa tak suka lagi mengkhayal. Aku lebih senang segala sesuatu yang realistis!!! Bosan aja menghayal tidak karuan dan akhirnya aku takkan siap rasanya saat aku harus terhempas ke bumi saat aku merasakan terbang ke awang-awang.
“ video call yuk!”. “nggak!!!” aku menolak tegas. Yaa sudah ku bilang, aku ingin yang realistis, gak mau yang dunia maya. Dia adalah teman chatting ku selama setahun lebih ini, ya it’s like LDR. Dia merasa aku berlaku tak adil. “ kenapa teman-temanmu bebas melihat wajahmu, sedangkan aku tidak? Mengapa ia bisa memegang tanganmu ? menatap mu lama-lama? Memijit? Memeluk? Hey STOP !STOP! apa-apaan nih? Aku paling tidak senang di tuduh yang tidak-tidak emm maksudku memang tapi itu benar. Tapi sungguh, aku tak suka jika sudah seperti ini, calm down...senja, “tunggu...tunggu...maksud ku bukan memeluk yang seperti itu, tapi...”
“tapi apa?”
“tapi...”aku menggigit bibir, memikirkan kata-kata yang pas. Hmm..tapi kok tidak ada ide sama sekali yaa? Okelah aku angkat bendera putih.
“tuh kan..kamu aja gak bisa jawab, meluk ya meluk pasti melingkarkan tangannya ke padamu kan?”
“tapi...dia banci...dia sepertinya tak nafsu juga pada wanita”
“bukankah itu sama ? jika aku dipeluk oleh seorang cewek tomboy ?”
“oh gitu??? Ya udah terserah kamu mau definisiin kayak gimana” aku mulai merasa hmmmff sabar...gak usah memperburuk masalah senja. Aku meyakinkan diriku sendiri. Aku bukan tipe orang yang mau menjelaskan panjangn lebar, toh nanti takkan ia mengerti keadaanku.
“oh besok aku mau ganti nomor ponsel, lagi bentar liburan mau jalan-jalan sekalian cari temen yaa sekedar buat have fun lah, tapi tenang aja. My heart just for you”
“oh bagus tuh..kenapa besok? Sekarang aja tuh diganti. Sekarang aja tuh cari teman buat have fun!!!” mood ku sudah hilang. Terserah...omong kosong cinta, setia, atau apalah nama istilah-istilah yang membuatku merasa makin hilang mood saja.
“ kamu marah?”
“nggak!!!”
“tuh kan kamu marah...nada bicaramu sudah berbeda dari setengah jam yang lalu. Tenang...aja Cuma temen kok...kamu gak usah khawatir. Aku sudah bilang. Aku Cuma sayangnnya sama kamu.”
“siapa yang marah??? Terserah kamu sih...mau cari temen kek, mau ngapain aja terserah kamu,,,sekalian aja pelukan atau whateverlah sama siapa aja maumu. Apa peduliku??!!!”
“kamu marah??? Bagaimana rasanya? Sakit kan? Gitu lah perasaan ku saat tiap kali kamu ceritain hal-hal yang pernah kamu lakuin disana. Sakit...sakiitt senja...aku baru saja menyebutkan rencanaku, kamu udah semarah itu, bagaimana jika aku benar-benar melakukannya? Dan kamu...aku hanya ingin satu hal. Dan itu hal kecil. Kamu gak mau lakuin. Katamu...aku adalah orang spesialmu. Tapi apa buktinya? Kalau udah marah gini..aku pasti aku yang minta maaf. Kamu nyadara gak? Kalo kamu salah..kamu gak pernah minta maaf sama aku. Selalu aku yang salah dan kamu yang benar. Aku tau, kita emang beda kamu cewek dan aku cowok. Hmm..dan sekarang, aku gak mau minta maaf.” Dia terdiam.
“udah???” aku benar-benar sudah tak mau berbicara lagi. Percuma, ya percuma. Rasanya yaa bagaimana yaa...memang aku ini barang? Jika tak setuju dengan apa yang aku lakukan, ya sudah pergi saja. Aku benar-benar merasa sudah...aargghh.
“aku tau apa yang kau lakukan bukan inginmu. Ya aku ngerti. Hmmm...ya aku memang cowok yang ingin semuanya harus perfectionist jadi jika ada yang kurang aku merasa rapuh. Hmm...kamu bisa pahami kan?”
“ oh gitu?!!!”
“ayolah senja...haruskah aku yang minta maaf?”
“siapa juga suruh kamu minta maaf?!!!” aku sudah benar-benar merasa terlukai. Dia berkali-kali mengatakan kata-kata romantis yang memang benar adanya. Bahkan ia menceritakan apapun yang bisa membuat mood ku kembali tapi aku yaah begitulah aku, paling tak senang dituduh yang tidak tidak, ya memang benar adanya tapi aku benar-benar merasa arghh mungkin semua cewek akan merasakan apa yang ku rasakan. Tak ada guna menjelaskan, aku aku...sudah benar-benar merasa ... ya hanya wanita yang tahu rasa ini.
“ baiklah...aku minta maaf. Aku memang salah...aku memang bodoh maksudku aku aku memang tak mengerti apa yang kau rasakan. Sekarang aku mohon kamu ngomong dong. Jangan diem gini, gimana aku bisa ngerti...kalo kamu gak mau ngomong sepatah kata pun?”
“ kamu tau..hah? kamu tahu...aku paling gak seneng dituduh yang nggak-enggak sama orang yang aku sayang...”
“baiklah...jadi kamu mau menjelaskan apa yang tidak aku mengerti?”
Aku benar-benar sudah tak ada gairah lagi untuk melakukan apa-apa. Yang kulakukan adalah duduk dan terdiam.
“ayolah...senja,,,”
“udah malem, aku mau tidur”
“please...jangan kayak gini dong, kita bisa ngomong baik-baik kan? Ayolah...”
“hmm aku ngantuk...aku mau tidur.”
“hmm...kamu bilang paling gak seneng dituduh yang nggak-enggak sama orang yang kamu sayang, sekarang aku juga mau kamu tahu...aku paling gak seneng saat orang yang paling aku sayangi tak mau menjelaskan kenapa ia marah padaku...”
“hmm terserah kamu dah...aku lagi males males banget!”
“aku udah minta maaf, aku udah berusaha buat kamu tersenyum lagi, mengembalikan mood mu lagi. Membuktikkan bahwa aku bener-bener sayang sama kamu, terus saja memikirkan mu. Jadi..ku mohon jangan kau tak acuhkan ku seperti ini. Bayangin aja rasanya jika kamu yang harus di posisi ku. Aku juga sakit sakitt rasanya, harus lelah mengharapkanmu. Tapi kamu selalu saja tak mengerti aku. Tiap aku mengatakan sayang padamu...aku merasa benar-benar deg-degan tiap kata itu ku ucapkan. Tapi kamu..sekalipun tak pernah mau menyatakan rasa itu. Apa sebenarnya yang membuatmu merasa tak bisa? Tak ada kan? Iya kan”
Aku benar-benar paling malas jika sudah pada suasana ini. Dan tahukah apa yang ku lakukan kawan? Ya aku hanya terdiam dan terdiam...seandainya kau tahu..aku mencintaimu juga dengan caraku. Bila mereka dengan mudahnya bisa. Maka aku berbeda. Dan kau tak perlu menyuruhku untuk menjadi dirimu juga agar ku bisa merasakan rasa sakit hatimu. Sungguh tak perlu! Kau sepertinya belum tahu...aku juga seorang cewek lemah ya...cewek kebanyakan...jika pun aku salah, ya aku tak mau disalahkan, tak mau diberondong dengan pertanyaan yang harusnya aku bisa jawab, tak mau dihakimi seperti ini. Ya...aku memang selama ini selalu berpura-pura tegar di depanmu, tapi di belakangmu...tak usah lah kau tahu toh tak penting juga bagimu.
“senja...senjaa...ngomong dong,,jangan diem gini,,hmm apa yang harus aku lakuin biar kamu mau maafin aku?oke ini memang bukan yang pertama kali aku melukai mu seperti ini, tapi bukankah kamu yang selalu bilang kalau aku harus jujur jika aku memiliki unek-unek ku tentang mu dan kamu akan menerima dengan baik kan? Tapi sekarang..aku ngomong kamu diemin aku kayak gini. Please...senyum lagi, aku bener-bener gak tenang liat kamu diemin aku kayak gini. Lebih baik kamu marah daripada harus diemin aku kayak gini...”
Percuma..percuma..kamu mau ngomong panjang lebar. Aku udah bener-bener coba sabar tiap kali harus bertengkar sama kamu. Sudahlah tak usah memaksa untuk mengerti keadaanku. Tak perlu. Aku memang jauh dari kesempurnaan yang kau inginkan. dan selamanya kau takkan mengerti itu. Jadi cukuplah sampai disini. Biar saja aku terluka. Toh aku bukan cewek cengeng yang sedikit-sedikit nangis, aku adalah cewek tegar. Toh aku juga sudah terbiasa terlukai seperti ini. Jadi tak perlu susah-susah mengkhawatrikan aku dengan apapun yang terjadi saat ini. Sungguh, aku tak apa-apa...
Sampai beberapa menit berlalu tak ada hasil, dia tetap berusaha melakukan apapun untuk mengembalikan senyum ku. Dan aku..tetap diam tak bergeming walaupun personel OVJ bahkan YKS kau datangkan. Aku tetap pada pendirianku, jadi sebenarnya aku mugkin memiliki bakat terpendam untuk menjadi pemenang peserta TAHAN TAWA di TransTV, ya bisa jadi!
“baiklah jika memang kamu tak mau juga memaafkan ku, lihat gedung berlantai 4 itu? Aku akan lompat dari atas sana.” Ia menunjukkan dengan sangat percaya diri, seakan-akan itu tak sulit dilakukan baginya.
 “oh...coba aja!” dia fikir ini film-film & novel-novel cengeng di Gramedia itu apa? Huh,,,aku tidak sebodoh itu untuk di bohongi..itu gaya lama. Dan sudah basi..yeah I knew that.
-----------------------------------------------------------------------------------------
Kulihat dia mulai bangkit dari duduknya. Meninggalkan jaket kulitnya yang berwarna krem di samping kursi panjang tempat ia duduk tadi, dan mulai berjalan agak berlari ke gedung tinggi itu. Aku diam saja. Sampai bayangannya hilang. Dan ponselku berbunyi...aku baru sadar ternyata dia hanya membawa ponselnya tadi.
“halo...senja...aku udah di mau sampai ke lantai 4...”benar ia sudah sampai disana, ku dengar derap langkahnya menaiki tangga(oh no! Jantungku rasanya berdenyut tak karuan)dan tak sampai beberapa detik kulihat seseorang memakai baju v-shirt putih dengan celana hitam yang agak terlipat sedikit sengaja karena tadi basah oleh rumput-rumput di sekitar bukit ini ya siapa lagi itu kalau bukan dia astagaaa dia benar-benar sudah kehilangan logikanya.
“halo..still there? Maafin aku ya, aku gak main-main..”
“oh ya??”
“aku serius”
“ya udah lompat aja!”
“yakin gak nyesel?”
“gak akan!!”
“okelah kalo gitu”dia mulai berjalan ke arah pinggir atap gedung itu. Ya bisa kulihat sedikit, tapi jika ia benar-benar lompat..sepertinya takkan terlihat karena setelah ia ke pinggir yang paling pinggir..aku sudah tak bisa melihatnya dengan jelas. Dan aku mulai khawatir
“kamu ngpain disana????” aku sudah tak bisa menyembunyikan rasa khawatirku yang tak terkendali.
“aku udah bilang kan...aku mau lompat dari lantai 4 ini, karena kamu gak maafin aku... sssshhh tut tut tut” kudengar hanya suara angin...Tuhaan, bangunkan aku jika ini hanya mimpi...
“kamu....” issshhhh...sial, dia gila benar-benar nekat... sekarang giliranku...cemas, takut, dan aargghh tak tahu apa yang harus ku lakukan. Sial sial...kenapa juga harus beneran ,ah aku tak percaya, aku mengirimi ia pesan “aku tahu, kau tak benar-benar melakukannya” 1 menit,2 3 4 5 tak ada jawaban. Ku kirimi ia pesan lagi “ gaya lama, udah basi,aku tahu kamu bohong!” 1 menit 2 3 4 5 6 oke oke...aku benar-benar tak bisa bersandiwara lagi, aku akhirnya menelponnya, “nomor yang anda tuju sedang tid...” isshhh menyebalkan...air mataku sudah menggenang di pelupuk mataku. Aku harus menghubungi siapa pun ya siapapun itu temannya...ku hubungi tak ada jawaban... sampai aku menyerah...benar-benar menyerah. Mungkin sebagian dari kalian akan melakukan apa yang ada dalam pikiranku..ya menyusulnya ke gedung itu untuk memastikan apa ia benar-benar melakukan hal bodoh bin gila itu. Tapi sebelum aku bangkit...aku mendengar suara deruan mobil ambulan dan kerumunan orang. Aku benar-benar syok, tubuhku gemetar...aku diam dan duduk lagi sambil melipat kaki ku memeluk lutut ku erat-erat dan membenamkan wajahku,,bukan bukan karena dingin nya udara tapi aku..aku...
“senja...”
Aku sempat mengangkat muka ku sebentar mendengar suara yang sangat ku kenali itu. Tapi...tidak tidak itu hanya halusinasi ku, aku yakin...itu mungkin itu karena rasa sayang dan rasa ketidakinginanku kehilangan dia.
“senja...kamu baik-baik aja kan?”aku menoleh ke belakang dengan hati-hati...takut melihat kenyataan bahwa sebenarnya tak ada orang. Dan ternyataa...ku lihat senyum yang selalu membuatku merasa nyaman di dekatnya.
“kamu...kamu...” aku benar-benar kehilangan kata-kata dibuatnya, aku aku ingin memeluknya memukul-mukul dadanya, aku benar-benar hampir merasa menyesal seumur hidupku. Tapi yang aku lakukan hanya hanya diam tak bergeming dan melemparinya dengan jaket kulit dan sepatu nya,,,
“maaf ya...aku minta maaf banget ,kamu mau maafin aku kan?” sempat-sempatnya ia tersenyum sambil memeluk erat jaketnya. Tak tahu bagaimana aku hampir frustasi dengan apa yang kulihat tadi.”kamu masih heran kan? Sini coba liat deh gedung yang tadi ku naiki. Kali ini aku benar-benar memperhatikan gedung bertingkat itu. Oh My Rabb... ternyata ini rumah sakit pantas saja ada ambulan tadi tepat dibawahnya dan kerumunan orang tadi...oh itu hal biasa jika ambulan baru datang di depan unit emergency. Dan akhirnya aku malu sendiri memertawakan kebodohanku sendiri.
“fajar...kamu jangan buat aku ketakutan kayak gitu lagi,,, aku bener-bener merasa takut takuutt banget kehilangan kamu. Kami duduk di kursi panjang tadi. Kulihat ia memperhatikanku menunduk.” Kamu nangis ??? yaelaah gak segitunya kali ah hahaha” sial ia masih saja bisa mencandaiku seperti itu.” Siapa yang nangis?? PD banget siih ditangisin!!”aku menjawab ketus
“tapi bener lho...aku memang tadi hampir bener-bener lompat...tapi kalo inget kamu bakalan nangis...aku urungkan niatku. Aku bener-bener sayang sama kamu senja,aku ingin kita bersama selalu bersama selamanya,,,jadi mau kan maafin aku?”
“iya..asalkan....”
“asalkan....”
“kamu gak usah ngelakuin hal-hal gila kayak tadi lagi...nanti siapa lagi yang akan menjadi fajar ku, shoulder to cry on ku,dan guardian angel ku?”
“insyaALLAH...yuk pulang udah malam banget nih aku juga ngantuk” ia mengulurkan tangannya...aku mau menolak tapi hatiku hmm di jalan setapak ini aku menggenggam erat tangannya melingkarkan di lengannya,dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Terimakasih ya Allah..telah kau kirimkan seseorang yang membuatku merasa tenang dan nyaman.



 

Titin Agustina Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting