Jumat, 27 Desember 2013

Sekeping Hati untuk Zhee

Diposting oleh Unknown di 16.22

Sekeping Hati untuk Zhee
(ratu juga yg buat ni…!bwt ujian bindo)


‘’kesana kemari membawa alamat  ting-ting....
    Namun yang  ku temuai bukan dirinya sayang’’
 
                  Suara merdu Ayu ting-ting mengalun memenuhi udara di kamar bernuansa biru langit itu.sementara si pemilik kamar  sibuk  berkutat dengan fisikanya.  ‘’hoam....capek juga ternyata .’’ ujarnya seraya bangkit dari duduknya lalu memindahkan channel radio tersebut. ’’norak’’  gumamnya sendiri. Ditelaahnya lagu-lagu yang sedang diputar di tiap-tiap  stasiun radio, lama akhirnya pilihannya jatuh pada ‘’thinking of you’’ miliknya katty perry.  Pandangannya pun beralih ke jendela, menatap langit biru yang bersih ’’ pagi dunia...’’  sapanya pada hari sambil membuka kedua daun jendelanya.

 Liburan masih belum usai, tapi dirinya sudah bosan dengan aktifitasnya yang sepi, ia rindu pada kawan di teather angkasa.Ia rindu pada perpustakaan sekolah. Ia juga rindu  pada ruang sekretariat mading sekolah.  Ia rindu pada aktifitas-aktifitas yang slalu memenuhi jadwal hariannya. ’’Kapan liburan usai??’’ batinnya bertanya. Ditatapnya  kembali langit biru yang kini mulai terhias awan.  Ia tersenyum samar.’’aku harus bergegas kalau tak ingin terlantar’’ujarnya tiba-tiba.

 Di bawah...kehidupan sudah mulai terlihat dari pukul 06.00.tadi nyonya Arsy sudah menyiapkan sarapan.Tuan Ardinan sudah menyiapkan mobilnya untuk bertugas.begitu pula dengan Aldi ...anak sulung  keluarga Drajat. Ia sudah mulai menyiapkan diri untuk hiking bareng teman-teman  kuliahnya.
      ‘’’Ma zhee pergi!serunya dari atas tangga tiba-tiba.
       ‘’zhee...sarapan  dulu!’’  seru nyonya Arsy tak kalah nyaringnya.
       ‘’ntaran ma! disisain aja. Zhee pergi!’’ serunya tanpa sempat berpamitan pada kakak dan juga papanya. Mereka hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku zhee ‘’ mulai deh sembrononya’’ gumam Aldi
                                                                        J                  J                            J

Jalanan  masih sepi hari itu  memang masih musim liburan. Tapi jalanan tak seramai yang perkiraannya. Perjalanannya hanya ke tujuan pun bebas hambatan. Segera ditunjukan kartu anggotanya begitu ia diperbolehkan masuk.dicarinya  tempat duduk favoritnya, setelah menemukan tempat  duduk yang dicarinya, ia segera mencari buku-buku yang ingin dibacanya’’ aku bukan malaikat yang slalu di sampingm /mendengar semua hasrat di hatimu //’’suara vokalis nano band  dari black berry  milik zhee terdengar pelan tapi cukup membuatnya jadi pusat perhatian. Dirogohnya saku skirtnya untuk menghentikan senandung sendu nano.dan ternyata itu sms dari Reinald.

                       ‘’lagi  dimana??” gue mau ke rumah.

           Segera dibalas  memberitahukan tempat dirinya sekarang.
-delicio- tulisnya sebelum mengganti profil black berry-nya dengat mute. Dan sekarrang zhee sudah memeluk 5 buah dalam satu tumpuk. Entah  habis atau tidak, yang jelas ke-5 buku itu adalah buku-buku yang diicarnya saat ini. Begitu tiba di tempat duduuk favoritnya, ia sudah mendapati breakfast-nya tersedia. Dibacanya buku pertama sambil menghabiskan sandwich tuna-nya dengan khusyuk.
     ‘’kalo mau  makan tuch  makan aja nggak usah sambilan! Ujar seseorang di hadapannya sambil menarik  paksa buku yang sedang dibaca zhee.
        ‘’ah....rese’ loe. Baru mulai nih lagian gue juga dah biasa kale’’  jawabnya ketus seraya mennjulurkann tangannya berniat unntuuk menarik buku kedua  tapi belum sempat ditarik olehnya reinald  lebih dulu menarik tumpukan buku itu ke hadapannya.
           ‘’reinald rese’! ujar  Zhee  “loe tuch. Ngomong-ngoomong....gue nggak ditawarin sarapannya???  Tanya reinaldd iseng
          ‘’pesan aja sendiri!siniin buku gue! ujar  Zhee.  ‘’nggak... sebelum loe yang mesenin breakfast buat gue’’  jawab Reinald
      ‘’untung aja loe sobat gue. Lok nggak...dah gue timpuk pake sendal gue’’ ujarnya masih ketus‘’ makanya....pesenin nggak??  Ntar gue yang bayarin dech...’’ pinta Reinald lagi. ‘’iya...iya....loe mau apa?? roti bakar sandwich...or anything else?? ’’ tanya Zhee  layaknya seorang waiters.
       ‘’ green sandwich, minumnya mocha aja deh mbak’’ jawab Reinald asal.  ‘’Fhe!!!’’  seru Zhee begitu Reinald selesai menyebutkan pesanannya.
       ‘’ what’s up Zhee...??? tanya re menghampiri keduanya.
       “ nich...si tuan songak mau pesen green sandwich ma mocha” sebut Zhee simple.
       “ ah...masih aja loe berdua kayak minyak ma air. Gak pernah kompak omongannnya.”  Ujar sambil menahan tawanya.
       “ dia minyaknya gue airnya” serbu Reinald cepat yanng dibalas tatapan tajam Zhee. Reinald tersenyum menang.  Fhe hanya  tertawa melihat keduanya.
       “ tunggu bentar....nanti gue akan balik kesini membawa pesanan loe ” ujar Fhe pada Reinald seraya meninggal kedua dengan tawa.  Sementara Zhee masih gondok pada Reinald.
       “dah...baca ja tuh buku. Nggak usah manyun-manyun segala!” ujar Reinald santai
       “sewot amat loe.”  jawab Zhee ketus. Reinald hanya tertawa tertawa melihat ekspresi muka Zhee yang kayak gitu. Membuat Reinald geli untuk menggodanya lagi.
       “loe tuh lok ketemu ma orang bukannnya nanya kabar kek,apa kek,eh...ni malah diketusin”  ujar Reinald sambil mengambil buku pada tumpukan paling atas.
       “ngapain nanya orang biasanya loe bakal ngejelasin sendiri kronologinya” ucap Zhee tanpa mengalihkan pandangan dari buku di hadapannya. ”oh....gitu ya. Amnesia nih kayaknya” balas Reinald mencoba melucu         
   “garing!” ujar Zhee singkat. Reinald hanya mengulum senyum. Ia lupa kalau kawannya yang satu ini adalah seorang kutu buku baru saja ia mau menjahili Zhee tiba tiba saja getaran lembut mengagentkannya .
      ”ya ma....” ujar Zhee begitu black berry miliknya menempel di telinganya. ” iya...ne Zhee lagi sarapan. Gak apa apa...tinggalin  aja. Ntar Zhee bakal ngerapiin kok.Iya..iya..dah mama...” ceracaunya
     “mau kemana??”  tanya reinald tiba-tiba. ”gak kemana-mana” jawab Zhee simple sambil menekuni kembali buku dihadapannya. ” maksud gue...nyokap loe mau kemana?”  “ oh...nggak penting” jawab Zhee masih simple.
Hening...reinald kehabisan kata-kata. Zhee lupa sekitar kalau sudah membaca bahkan...sandwich tuna favoritnya masih belum dihabiskannya green tea di sedari tadi di hadapanya pun tak disentuh. Ia sudah kenyang dengan buku rinal hanya bisa geleng-geleng kepala memperhatikan gadis tomboi di depanya
“nich...’’ sodor re dihadapan Reinald. “ kali ini gue nggak bisa ngobrol bersama kalian
 Dech. Soalnya kateringnya lagi banyak, dan kita lagi kekurangan orang di belakang. So...gue tinggal ya??” tanya Fhe pada keduanya. Zhee masih tidak bergeming, Reinald yang menyadarinya langsung menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari  Zhee. ” ok..next time khan masih bisa” jawab Reinald.
“Kalau gitu..selamat menikmati” ujar Fhe seraya meninggal kedua sahabatnya
      “Zhee....” panggil Reinald pelan.
      “hmm....” jawabnya acuh tak acuh
“buka mulut loe!!! perintah reinald masih pelan. Gadis dihadapanya menurut tapi pun dengannya masih terfokus pada buku yang digelutinya. Reinald memasukkan potongan kecil sandwich tuna milik Zhee yang belum sempat ia habiskan. Bak robot, mulut Zhee langsung tertutup begitu potongan sandwich tuna itu masuk ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya.
  “loe tuh...kalau dah membaca semuanya dilupain” gumam Reinald sambil menikmati green sandwichnya tapi cukup menyadarkan  Zhee beberapa detik, sebelum akhirnya kembali fokus pada buku dihadapannya.    

                                                   J                         J                    J

“wah...sorry Fhe...Zhee....gue da janji ma liana.kalian lanjutin aja JJSnya,ok??  ” ujar reinald dari seberang  Zhee menatap Fhe  meminta keputusan.
“ya udah kalau gitu. Sorry ganggu” jawab Fhe
“ fine...gue yang salah nggak kasih tahu sebelumnya kalo’ dah punya janji” ujar Reinald lagi   
“iya...nggak apa apa...dah ya, ntar keburu rame nich disto-ya” jawab Zhee kali ini
“yupzz..titi dj ! see you!” balas Reinald
“ya...too...” balas keduanya berbarengan kemudian  memutuskan  komunikasi singkat itu.
“jadi,,,?” tanya Fhe pada Zhee yang masih memandang  hampa BB- nya
“jadi apa??” tanya Zhee balik
“ya,,,jadi gimana ma JJS kita??”  “lanjutin dah kita sudah di tengah jalan gini juga”  ucapnya kemudian melangkah menuju Distro tujuannya. Zhee mengerti keadaan Reinald tapi ia benar-benar hampa .Tak ada lagi yang menjahilinya kalau pun ada itu disela-sela waktu Reinald dengan Liana. Semenjak itu pula, mereka juga  jarang keluar bertiga  
                                                     J                      J                        J       

                       “Zhee ditunggu Reinald!” seru Aldi pada adik semata wayangnya, dan tanpa berkata apa-apa kepada sang kakak ia pun pergi menghampiri Reinald.

“ada angin apa loe jemput gue??  Biasanya juga jemput si liana atau,,,jangan-jangan ada masalah nih ma dia ? tebak Zhee yang dibalas senyum samar Reinald . 

“Tau aja....” ujarnya 

“Yaelah ....loe udah berapa tahun kenal gue ? lama banget kali Nald ! “ ujar Zhee.
“ Terus ada apa ? ” tanya Zhee kemudian to the point “
“She is childish !” ujar Reinald simpel yang membuat Zhee tertawa . 
“ Kenapa ketawa ?” tanya Reinald .
“Loe kok baru nanya dari sekarang ? Liana memang childish lagi “  Ujar Zhee disela tawanya “ 
“she isn’t childish before ! ” tukas Reinald  .
“Ooo....i see....so...the complacation?” tanya Zhee kalem 
“Manja! loe taukan gue gak suka orang kaya gitu, apa lagi....dia suka nambek tiba – tiba gimana gue gak kesel coba! “ tutur Reinald.
“Ya.....ya....entar gue kasih tau Liana deh , i think she just kidding . Only a joke !” jelas Zhee tenang .
“Bercanda? loe gila? loe pikir gue anak kecil dikibulin gitu? ”tanya Reinald yang tiba-tiba dengan suara tinggi . 
“Waits....calm down ....its just my opinion , siapa tau bener entar deh gue omomg keorangnya . Akhir-akhir ini dia memeng rada jutek gitu “ terang Zhee pelan moncoba menenangkan Reinald . 
“Zhee ....gue capek tau ngertiin dia melulu, sekali aja dia ngertiin gue napa sih “ masih dengan nada yang sama .
“Tau gak .... apa kata ad band tentang wanita? “ ujar Zhee menyela yang dijawab dengan gelengan oleh Reinald .
“Karena wanita ingin dimengarti ....” tutur Zhee yang cukup  membuat Reinald makin gondok .  Zhee tersenyum menang .
“Zhee....gue serius! dia gak kaya dulu, bawaannya main-main terus, seenaknya bilang break, entar tiba-tiba dia bilang bercanda . Apa sih maunya ?”  tutur Reinald masih dengan nada yang sama . Zhee hanya tersenyum menaggapinya.
“Mungkin dia cuma main-main, dan bercanda “ terang Zhee lagi.
“Zhee....dalam pacaran itu gak ada istilah bercanda “ ujar Reinald ketus . 
“Emang loe suaminya ?” tanya Zhee tepat sasaran . Reinald yang ditanya hanya bisa diam membenarkan “ kalau bukan ....udah biarin aja. Baru pacaran udah kaya suami istri “lanjut Zhee ” udahlah....mungkin cuma bentar entar juga blik lagi kaya biasa. Namanya juga cewek, yuk turun ! “ ajak Zhee yang membuat Reinald sadar bahwa mereka sudah tiba disekolah. Percakapan mereka membuat Reinald menjadi emosi,  juga membuatnya lupa kalau hari masih pagi dan ia masih harus belajar .  Zhee benar ia bukan suami Liana. Tapi salahkah ia? 
Zhee masih menatap Reinald dengan senyum simpulnya.  Entah apa yang membuatnya seperti itu, masakah Reinald dengan Liana atau karena ia dapat melihat ekspresi  Reinald lebih lama dari sebelumnya, ia juga tidak mengerti, ada yang lain ketika Reinald meny ebut nama Liana walau dengan nada tinggi. Apa dia jatuh cinta padanya, tanya hati kecil Zhee yang membuatnya mengeleng menolak mengakui . 
“Reinald, kita udah nyampe! “ menyadarka kawan baiknya itu .
“Oh iya thanks buat solusinya, loe emang benar ....”ujarnya mengambang lalu keluar bersamaan . Jangan sampai ....harap Zhee pada hati kecilnya .

J                J                 J



Rumah yang ditempati Zhee masih sepi, tapi kamar atas sudah dipenuhi dengan alunan musik romantis, ia sendiri bingung apa yang terjadi pada dirinya. Memang....sudah berapa hari ini Ia, Reinald ,dan Fhe jalan barang. Yah semenjak Reinald punya komplik dengan Liana mereka sering hang out barang. Semenjak ia lupa kalau Reinald sudah punya Liana. ” Tapi siapa yang peduli? mereka sedang break jadi apa salahnya ia senang”  ujar hati kecilnya saat itu .

“.....mengagumi tanpa dicintai ....” sepatah kata Pasha menyadarkan Zhee tentang  perasaannya . Ia akui bahwa dirinya mengagumi Reinald tapi tidak begitu dengan Reinald.

“ Tak mengapa bagiku....  
mencitaimupun adalah bahagia untukku .....bahagia untukku ....
kuingin kau tau diriku disini menanti dirimu ....
meski ku tunggu hingga ujung waktuku 
dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya....”
Zhee tersentak dari lamunannya pipinya basah karena tangis, Pasha benar, ia menyadarkannya bahwa dirinya mencintai Reinald. Salahkah? terlalu banyak yang banyak membuktikan rasanya pada Reinald. Kemarahannya ketika Reinald jadian dengan Liana. Kehampaannya ketika Reinald tidak dapat hang out barang dirinya dan Fhe . Dan kegembiraannya ketika tau bahwa Reinald sedang break dengan Reinald . Salahkah bila ia menyukai Reinald ?
J                   J                   J

Fhe memendang wajah buram  Zhee ketika sarapan dikantin. Mangkok bakso dihadapannya sudah dingin dari tadi, baksonya masih utuh hany es jeruk yang diaduk-aduk tidak jelas. “ Zhee....loe kerasukan apa semalam sampai tak nyentuh tu bakso . Kasihan duit loe “. Ujar Fhe memecahkan keheningan Zhee hanya menggeleng . 

“Eloe tuh....mentang –mentang lagi banyak duit bakso semangkok loe biarin pancing Fhe lagi “

“Makan aja kalau mau gue lagi malas “ jawab Zhee datar ia masih bingung dengan perasaannya . Menangumi seseorang yan terlalau jauh untuk digapai. Fhe  hanya memendang heran, keningnya semakun berkerut .
“Leo kenapa sih suntuk bangat. Hari ada MTK biasanya loe senang kalu ada pelajaran Pak Andi” tanya Fhe lagi.
“I’m fine Re....udahlah, gue mau kekelas entar gue yang bayar “ ujar Zhee malas sambil meloyot pergi meninggalin Fhe yang masih bingung dengan sikapnya.  Zhee tak tau harus bagaimana dihadapan Fhe, Ia tidak ingin Fhe tau tentang perasaanny pada Reinald tapi ia tak mungkin menyembumyikna hak ini dari Fhe. Ia tau setiap gerak geriknya sudah dipahami Fhe lalu apa yang dapat dilkukannya sekarang?  merubah sikapnya atau tetep seperti biasa?  ia menghela nafas panjang, seolah masalahnya sebesar  gunung. Ditatapnya nanar langit biru itu tanpa ekspresi, ini tidak bisa dibayangkan, gumamanya tak jelas ambil menyusuri koredor utama sekolah dengn galau. Apa yang sudah dilakukannya ?”
Sudah dua minggu ini  Fhe tidak melihat Zhee, begitu pila Reinald. Walupun mereka melihatnya, pasti  Zhee akan menghindar. Berpapasan dengan mereka saja Zhee langsung menunduk. Sms dari keduanya tidak pernah dibalas begitu pula dengan maised call yang tidak dijawab. Prubaha sikap Zhee cukup memebuat mereka khawatir  tentang keadaan Zhee walaupun Liana mengatakan Zhee baik – baik saja, tapi ia tetep cemas. Zhee sudah dianggapnya saudara sendiri begitu pula dengan Fhe mungkin  Reinald anak tunggal dan ia kesepian.  Jadi keberadaan Fhe dan Zhee sudah seperti saudara sendiri . 
Sudah beberapa kali dihubungi orang –orang rumah dan mas Aldy , kakak Zhee tapi jawaban yang rumah Zhee. Dan hal ini, keduanya sepakat untuk menemui Zhee seusai makan malam. Reinald sudah menunggu Fhe dari tadi didiepan pagar milik keluarga derajat .
“ Loe siap ?” tanya Rinald begitu Re tiba dari zaman kodok gue juga udah siap kali ‘.  jawab Re .
“Oke kita masuknya samaan” ujar Reinald  
“Loe tu kaya orang mau merampok aja biasa aja kali “ ucap Fhe santai.
“Oh ya...balas”  Reinald malu-malu. Keduanya menunggu didepan rumah mewah itu setelah memencet bel seorang wanita paruh baya keluar dari pintu rumah tersebut .
“Eh...den Reinald, non Fhe masuk, masuk. Maaf den, non tadi lagi sibuk dibelakang ujar pembantu tersebut ramah “
“Zhee adakan bi’ ? ” tanya keduanya bersamaan yang dijawab anggukan oleh si bibi. 
Dugaan mereka benar, Zhee keluar dengan wajah heran tapi segera dirubahnya ekspresi wajahnya tersebut begitu ia tau yang mencarinya adalah kedua sahabatnya .
“ Ada perlu apa “ tanya Zhee datar tanpa melihat keduanya .
“Penting buat Loe gue sama Reinald “ jawab Fhe to the point .
“Dalam hal apa?” tanya Zhee lagi masih dengan nada malas .
“Sikap loe berubah gak kaya dulu “ kita salh apa sama loe “ kali ini Reinald yang berbicara. Walau hanya sepersekian detik ekspresi wajah Zhee berubah lalau kembali. Lalu keduanya menagkap ekspresi dari wajah Zhee . 
“Ku gak papa, Cuma lagi bosan aja main sama kalian “ jawabnya simple 
“sejak kapan loe bosan ama kita , biasanya,loe yang ribut-ribut yang nyari kita dirumah “ ujar Reinald yang dibenarkan Fhe, Zhee hanya menghela nafas .
J                          J                           J

Zhee menangis dikamarnya , gedoran dan panggilan tidak dihiraukannya , batinnya masih menangis. Setelah kunjugan dua sahabatnya tadi, Zhee hanya terdiam dia sudah menduga dari sebelumnya tapi yang ia tak sanka – sangka adalah ucapan Reinald bahwa ia mencemaskannya karena kehilangan seorang sahabat tapi kehilangan saudara . 

Zhee mambenamkan kepalanya dibantal agar tangisnya tidak terdengar batinnya semakin sakit ketika reinald mengatak bahwa Fhe dan dirinya adalah saudara. Batinnya makin terasa sakit tapi ia tidak menunjukan itu dihadapan kedua sahabatnya itu. Sahabat yang selama ini selalu ia pertimbangkan untuk Reinald  karena ia mengininkan lebih dari pada itu tapi ternyata Reinald hanya menganggapnya sebagi  sahabat  tak ada yang salah dari keduanya Re atupun Reinald. Hanya dirinyalah yang menyadari lafadz yang tersimpan. Hanya dirinya yang terlalu jauh mengartikan  senyumannya.Satu pinta zhee sebelum membuka mata esok hari, ia ingin semuanya kembali  seolah tak ada apa- apa. Rasa, kejadian dan semua masalah yang ada. Satu pinta yang  sangat diharapkannya. Agar  ia tak perlu merasakan ini, agar rasanya tidak sesakit ini. Harapnya.......

                                                     J                         J                           J 



“Kalian !!! yang bertiga dibarusan belakang, maju!” Perintah seorang senior kepada tiga remaja yang masih tertawa .

“Apa yang kalian tertawakan?”  tanya senior itu.
“Gak ada kak!” Jawab ketiganya serempak.
“Lalu.....” Desak senior itu lagi.
“Cuma kertas kecil yang menempel dibaju  belakang kakak! Ujar salah satu dari ketiganya. Kontan seluruh korban mos yang sedang dijemur, tertawa membaca kertas kecil yang menempel dipunggung senior .
“Sudah diam kalian, atau hukuman kalian akan bertambah! “ ujar senior yang lain menenangkan . Korban – korban mos tersebut langsung terdiam , tak ingin hukuman mereka ditambah. Tiga orang remaja yang masih berdiri didepan juga ikut terdiam. Tapi ketiganya masih tersenyum geli.
“mmm...meskipun ku tak dapat memiliki Reinaldi sebagai kekasih tapi dia selalu ada untukku sebagai sesosok sahabat yang siap menampung air mataku,,,,sesederhana itu,,,” gumam zhee dalam hati masih tersenyum bahagia.

1 komentar:

Unknown on 27 April 2013 pukul 20.37 mengatakan...

whoa,
gak nyangka bisa baca tulisan ini lagi.
makasi banget, tin. banget2 makasinya.

cuma.. banyak typo. lain kali di edit dulu sebelmu di posting, ya

tetap semangat buat nge-blog, ya!!! ^.^)9

Posting Komentar

 

Titin Agustina Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting