Penantian Tak Berhujung
oleh: Maharani
oleh: Maharani
Angin itu berhembus kencang menerbangkan debu-debu dan
dedaunan kering di jalanan, ia bagaikan orang yang tak mempunyai semangat hidup
lagi , ia merasa hidup di dunia tak berpenghuni, rambut indah yang ia miliki
kini terbang ria bersama debu-debu jahat yang membuat rambut indahnya kini
menjadi lusuh, kulit putihnya kini kusam, terlebih lagi sinar matahari yang
menyengat kulitnya. Akan tetapi ia tak peduli untuk hal itu saat ini ia pun tak
tau kemana arah tujuan langkahnya yang lemah lunglai tak tau arah , air mata
yang mengguyur pipi yang kusam kini sedikit terlihat putih karna basuhan tangan
dan air mata yag sedari tadi mengalir “kenapa semua ini harus terjadi
…kenapa???apa salahku …apa aku kurang perhatian sama kamu, apa aku kurang
cantik buat kamu , apa aku kurang pintar buat kamu, apa aku kurang kaya buat
kamu, apa kekuranganku?????
apa ada orang ketiga yang dapat menggantikan posisiku di hatimu???”. Hatinya brgejolak dengan pertanyaan- pertanyaan yang kini muncul di benaknya, ia tak tau apa yang harus di lakukan, kaos ungu yang ia kenakan kini setengah basah, pundaknya kini naik turun ia tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan yang tak tentu arah, tubuh semampainya kini telah bersandar di depan tiang lampu lalu lintas, semua pengendara yang saat itu sedang menuruti perintah si bulat merah di jalan tertuju padanya. Entah orang mau berkata dia gila atau apalah ia tak peduli yang ada di dalam benaknya hanyalah apa yang membuat kekasih hatinya melepaskannya dari hubungan yang telah di bangun selama 3 tahun belakangan ini. Ia tertunduk lemah di pingir jalan memeluk kedua lututnya, dari kejauhan terlihat seorang laki-laki turun dari BMW hitam kinclong berjalan cepat kearahnya “Na…” nama singkat itu keluar dari mulut laki-laki bertubuh atletis berkemeja dongker garis-garis dan celana hitam kulot, sepatu kinclong kantor. Mendengar namanya disebut ia sedikit mendongak berharap kekasihnya hadir kembali, akan tetapi harapan itu nihil ternyata laki-laki itu adalah salah satu karyawan papanya “Arvina…”ucap laki-laki itu kembali, ya Arvina nama gadis itu. Arvina tak berekspresi sedikitpun melihat kehadiran laki-laki itu… tapi terlihat jelas dari tampangnya yang urak-urakan dan air mata yang masih mengalir deras bahwa gadis itu dilanda kesedihan “Na ..ngapain di sini, kamu sakit..???” tanya laki-laki itu tapi tak ada jawaban yang terlontar dari mulut tipis Arvina ia hanya memandang sejauh mata memandang berharap kekasihnya datang mengejar kepergiannya “Na.. ikut pulang yuk..,’’ tawar Bagas ,,ya Bagas nama laki-laki itu. Tawaran Bagas tak menerima respon juga, akan tetapi Bagas tau kalo anak direkturnya sudah ngambek butuh waktu lama untuk mengembalikanya seperti semula maka dari itu tanpa pikir panjang Bagas langsung mengangkat tubuh semampai itu kedalam mobil karena si bulat merah telah di gantikan saudaranya si bulat hijau bersamaan dengan bunyi kelakson mobil di belakang mobil Bagas berbunyi nyaring tak sabaran ingin melanjutkan perjalananya.
apa ada orang ketiga yang dapat menggantikan posisiku di hatimu???”. Hatinya brgejolak dengan pertanyaan- pertanyaan yang kini muncul di benaknya, ia tak tau apa yang harus di lakukan, kaos ungu yang ia kenakan kini setengah basah, pundaknya kini naik turun ia tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan yang tak tentu arah, tubuh semampainya kini telah bersandar di depan tiang lampu lalu lintas, semua pengendara yang saat itu sedang menuruti perintah si bulat merah di jalan tertuju padanya. Entah orang mau berkata dia gila atau apalah ia tak peduli yang ada di dalam benaknya hanyalah apa yang membuat kekasih hatinya melepaskannya dari hubungan yang telah di bangun selama 3 tahun belakangan ini. Ia tertunduk lemah di pingir jalan memeluk kedua lututnya, dari kejauhan terlihat seorang laki-laki turun dari BMW hitam kinclong berjalan cepat kearahnya “Na…” nama singkat itu keluar dari mulut laki-laki bertubuh atletis berkemeja dongker garis-garis dan celana hitam kulot, sepatu kinclong kantor. Mendengar namanya disebut ia sedikit mendongak berharap kekasihnya hadir kembali, akan tetapi harapan itu nihil ternyata laki-laki itu adalah salah satu karyawan papanya “Arvina…”ucap laki-laki itu kembali, ya Arvina nama gadis itu. Arvina tak berekspresi sedikitpun melihat kehadiran laki-laki itu… tapi terlihat jelas dari tampangnya yang urak-urakan dan air mata yang masih mengalir deras bahwa gadis itu dilanda kesedihan “Na ..ngapain di sini, kamu sakit..???” tanya laki-laki itu tapi tak ada jawaban yang terlontar dari mulut tipis Arvina ia hanya memandang sejauh mata memandang berharap kekasihnya datang mengejar kepergiannya “Na.. ikut pulang yuk..,’’ tawar Bagas ,,ya Bagas nama laki-laki itu. Tawaran Bagas tak menerima respon juga, akan tetapi Bagas tau kalo anak direkturnya sudah ngambek butuh waktu lama untuk mengembalikanya seperti semula maka dari itu tanpa pikir panjang Bagas langsung mengangkat tubuh semampai itu kedalam mobil karena si bulat merah telah di gantikan saudaranya si bulat hijau bersamaan dengan bunyi kelakson mobil di belakang mobil Bagas berbunyi nyaring tak sabaran ingin melanjutkan perjalananya.
***
“Na…buka
pintunya sayang udah tiga hari kamu nggak
makan’’ bujuk wanita separuh baya yang kini berdiri di depan pintu krem
yang menjulang tinggi terkunci rapat “kalo kamu ada masalah kasi tau Mama
sayang’’ bujukan-bujukan Mamanya tak satupun di dengar ia hanya memandang
bingkai yang di dalamnya terdapat foto Davin, sang mantan kekasih hati yang
begitu sangat ia cintai yang baru tiga hari ia putus tanpa alasan yang jelas
…itulah yang tak bisa di terima Arvina, ketika ia sudah mulai mencintainya
setulus hati segenap jiwa dan perasaannya yang begitu mendalam, tiba-tiba Davin
memutuskanya tanpa alasan yang jelas …”Na …ini mama , mama kangen mau liat
senyum riang kamu, wajah cantikmu, tolong buka pintunya sayang’’ bujukan itu
entah kesekian kalinya ia masih tetap dengan posisi semula hingga sampailah
bujukan terakhir “Na… apa kabar dangan
Davin ,? kalo ada masalah dengannya biar Mama bantu menyelesaikannya’’ pegal
mulai melanda kaki ramping Mamanya dan
ingin beranjak pergi dari sana, akan tetapi langkah itu tertahan karna
terdengar suara kunci terputar membuatnya berbalik lagi dan dilihatnya Arvina
yang begitu lusuh, kering, tak bersemangat lalu di peluknya anak semata
wayangnya itu dengan erat dan penuh rasa kasih sayang .Di giringnya Arvina ke
ranjang yang begitu berantakan “Na…sekarang kamu cerita sama mama, kenapa kamu
sampe kaya orang gila di jalanan dan di bawa pulang oleh anak buah papa ’’
pinta Mamanya sambil mengelus kepala Arvina di atas pangkuanya “Ma..mungkin
Mama akan tertawa mendengar kenapa Arvina jadi begini …Arvina Cuma gak bisa
nerima kenyataan kalo Davin udah mutusin Arvina padahal Arvina masih sayang
sama Davin dan dia mutusin Arvina tanpa alasan yang jelas ’’ jelas Arvina
ditemani dengan air mata membasahi pipi lembutnya “ohhhh……jadi itu yang membuat
anak mama gk mau kuliah and beraktivitas seperti biasanya ????? huuuu..sayang
walaupun begitu kamu gk boleh dong menyiksa diri sendiri dengan gk mau
makan,beraktivitas itu malah akan
membuat kamu tambah sakit ,,,coba mulai sekarang bangun semangat baru …hidup
baru,,,dan satu lagi kalo memang kamu masih penasaran dengan alasan mengapa
Davin mutusin kamu , cari dia dimanapun ia berada dan hadapi dengan tegar
apapun alasanya ,,pokonya arvina gk boleh cengeng di hadapan davin ’’ advice
mamanya membuat Arvina bangkit dan mengapus sisa air matanya semangat berkobar
di benaknya dan tanpa menghiraukan mamanya Arvina langsug beranjak ke kamar
mandi untuk menyegarkan tubuh yang sudah tiga hari belakangan ini ia
abaikan.Wanita paruh baya yang berpenampilan modis apalagi buat kalangan
ibu-ibu itu hanya bisa tersenyum geleng kepala melihat tingkah anaknya yang
kurang lebih dua bulan belakangan ini masuk universitas ternama di Jakarta yang
masih bertingkah seperti anak masih SMP.
***
Satu
minggu tak terasa ia jalani hanya untuk mencari dimana mantan kekasihnya yang
kini tak muncul kembali bagai di telan bumi , teman akrab, keluarga , sepupu ,
teteangga telah ia telusuri untuk maencari tau Davin ada di mana , akan tetapi
pencarian selama satu minggu itu nihil.Suatu hari dimana ia begitu cape dan
putusasa mencari tau keberadaan Davin. Arvina beristirahat sebentar di sebuah
lestoran sampig rumah sakit “PERSADA” Arvina sengaja mengambil meja dekat
jendela kaca supaya dapat melihat orang berlalu lalang di jalanan supaya dapat
menghilangkan kebosanannya dan ,,,kini tatapanya lurus kearah jalan ditemani
pikiran-pikiran yang berkecamuk di benaknya membuat wajah cantik itu tak
berekspresi ,,,higga akhirnya sang pelayan mengantarkan pesanan tapi ia tak
meghiraukan pelayan itu tiba-tiba raut
wajahnya berubah kaget dan langsug berdiri karna samar-samar ia melihat sesosok
Davin keluar dari rumah sakit persada itu sambil membawa amplop coklat
berukuran besar , tampa piker panjang Arvina langsung berlari mengejar sosok
tersebut ditemani suara teriakan menyebut nama Davin berulang kali ,,,hingga
suara itu mampu membuat seorang laki-laki yang hendak memasuki sedan merah itu
terhenti karna mendengar namanya di sebut .Arvina lagsug mematug ketika sosok
itu kini berbalik dan benar saja dia adalah Davin yang di carinya selama ini
,,,wajah dua insan itu kini bertemu pandag dengan jarak yang sedikit
jauh,,,Arvina mematung bagaikan zombie entah rasa apa yang kini mengeluti hatinya bahagiakah karna telah melihat Davin
di hadapanya lagi ,,atau sakit hati
karna di tinggal pergi????tatapan Arvina buyar karna Bagas yang
tiba-tiba datang dari belakang menyapanya”na …ngapain di sini?” peratnyaan
Bagas membuat tatapan Arvina berpaling ke arahnya “eh…Cuma nunggu temen , ka
Bagas sendiri???”Arvina mlontrkn prtnyaan balik “temenin adek chek up” jawaban
singkat Bagas tak di respon karna arah pandangan Arvina kini tertuju pada Davin
yang kini sudah masuk ke dalam mobil “na…tunggu temen di dalem aja sekalian
makan!!!!!”tawar Bagas perhatian , tapi tak ada respon dari Arvina ia hanya
fokus pada mobil sedan yang kini berusaha keluar dari arena parkiran (na
..mogga ka Bagas adalah orang yang terbaik buat kamu) ujar Davin dalam hati
ketika melintas di hadapan Arvina dan Bagas mengunakan sedan merahnya
,,,pandagan Arvina masih mengekori sedan merah yang kini pergi begitu saja yang
berarti membawa Davin pergi jugga ,,,krtika ia sadar atas kepergian Davin tampa
basa basi Arvina langsung berlari mengejar sedan merah itu tampa menghiraukan
Bagas sedikitpun ia tetap berlari memangil nama Davin berulang kali di sertai
hujan air mata ,,,Davin sedikit melirik kearah kaca sepion mobilnya ia tak
kuasa melihat mantan pacarnya yang hingga kapanpun masih ia sayangi berlari
sesekali tersandug dan bagkit lagi mengejar ke pergiannya
.Ciiiiiiiiiiiiittttttttttt…………..suara rem mendadak itu berasal dari sedan merah
yang kini berjalan mundur medekati langkh Arvina yang sedikit lagi ambruk
,,,dengan sigap Davin keluar dari mobil dan langsung menopang pundak Arvina
yang lima jegkal lagi bersatu dengan aspal jalanan “na…kamu gk perlu ngelakuin
semua ini,,,kamu gk perlu menyiksa diri seperti ini,,,asal kamu tau sampai
kapanpun aku akan selalu menyayangi kamu
hingga kapanpun ,,,tapi untuk saat ini aku gak bisa nemenin kamu ,,dan aku gk
bisa mempertahankan hubungan kita’’ jelas Davin panjang lebar yang membuat air
mata Arvina semakin deras “vin aku mohon jangan tingalian aku…,aku sayang kamu”
ujar Arvina, nasehat mamanya tak ada satupun yang di ingat ia begitu lemah
“na..aku juga sayang sama kamu, tapi aku gk bisa meanljutkan hubungan kita”
“lalu apa alas an kamu mutusin aku vin ,apakah ada gadis laiii???” perkataan
Arvina terhenti karna jari Davin kini mengonci mulutnya”na…suatu hari nanti
kamu pasti mengerti” jawab Davin sambil mengapus sisa air mata Arvina yang
sedikit reda dan mengajaknya bangkit dari aspal abu ke hitam hitaman itu
“na…percayalah aku akan selalu ada di sisimu, menjaggamu, bersamamu, hingga
kapanpun “advice Davin membelai rambut lurus sepunggung Arvina dan mendekapnya
dalam pelukan hangat .Tak lama setelah itu Bagas datag menghampiri tapi ia tak
berkata apa- apa karna telah mendapat aba- aba dari Davin untk tidak mengangu
,,,,tak enak hati pada Bagas Davinpun mengendorkan pelukan yang akhirnya lepas
barulah Davin memberi aba-aba dengan
sebuah angukan yang berarti bawa dia pergi darinya pada Bagas .Kini sedan merah itu melaju
kencang tanpa ada yang menghalanginya.
***
Warna putih
kini memenuhi pelupuk mata sejauh mata memandang warna itu selalu hadir.Di
dalam ruangan yang berbau obat-obatan itu Davin
terbaring lemah dengan kabel berwarna warni tersambung ke tubuhnya yang
terlihat kering nan kurus , sudah dua mingg ini ia bearbaring di ruang fif A
rumah sakit Persada itu .Davin hanya bisa bergerak dan berbicara secukupnya
…wanita separuh baya yang selalu menemaninya masih semangat membujuk anak
sulungnya dari dua bersaudara itu untuk makan”vin kamu harus makan ….belakangan
ini kamu gk pernah mau makan , gimana mau sembuh,,,”adevic mamanya megajugkan
sendok berisi bubur ayam kesukaan Davin “ma walaupun Davin makan satu baskom
juga gk bakalan bisa nambah umur Davin yang tingal sebentar ini” ujar Davin
menyungigkan senyum tanpa harapan “vin kamu harus percaya kalo allah akan
memberikan mujizat kepada kamu ” “ma ,,papa dan abag kemana?? Davin kangen siapa tau Davin terakhir kali melihat papa
dan abag” ujar Davin mengalihkan pembicaraan …mendangar prkataan Davin tanpa
disadar wanita paruh baya itu meneteskan air mata haru dan tak sangup bila ia
kehilangan anaknya``ma…kenapa mama menangis ?? Davin gk mau liat mama sedih ”
pinta davin mengapus air mata mamanya yang mengalir membasahi pipi lembut itu
.”vin kamu gk mau kalo Arvina datang menjenguk kamu ??” tawar mamanya brusaha
membgkitkan semangat Davin…karna hanya Arvinalah yang mampu membuat Davin
bersemangat hidup setelah pihak rumah sakit menetapkan bhwa ia mengidap kangker
otak “ma Davin gk sangup melihat cewek yang Davin sayangi menitiskan air mata
gara- gara melihat Davin yang sebentr lagi akan mati ” jelas Davin melempar
pandangan ke luar jendela kamar “vin kalo emang kamu gk mau , mama gk bakaln
maksa kamu sayang”dukug mamanya membelai rambut Davin yang hitam
terawa``ma…Davin minta tolong jika suatu saat nanti Davin gak ketemu sama abang
, tolong sampaikan padanya , jagga Arvina dengan baik, bahagiain dia demi Davin
” mamanya hanya bisa mengangukan kepala menitiskan airmata mendengar pesan
-pesan terakhir Davin.
***
Pagi yang
sepi alam tak secerah hari biasanya ….hari dimana semua pegawai cuti dan
berlibur dengan keluarganya tapi berbeda buat Arvina ketika ia terbangun dari
tidur raut wajah yang di gambarkan sudah gelisah tak ada tersirat kebahagiaan
di wajahnya menyambut hari libur , ia selalu trelihat cemas entah apa yang di
pikirkan “na …sarapan dulu papa udah nunggu di bawah” perintah mamanya yang
kini berdiri di ambang pintu menyaksikan anaknya yang melamun di depan meja
rias …karna tak ada respon dari Arvina wanita swparuh baya itu masuk dan
menghampiri putrinya “na…kamu kenapa lagi ??? jangan bilang kamu inget sama
Davin lagi , dua minggu belakangan ini kamu sudah berhasil lupain Davin,,,mama
gak mau liat kamu sedihlagi” pinta mamanya menepuk pundak Arvina memberi
semangat “ma …na gk tau kenapa tadi pagi selekas bangun tidur pikiran na
langsuk tertuju pada Davin ,,,,dan na gak tau kenapa, na khawatir banget sama
Davin” jelas Arvina pada mamanya yang hanya tersenyum manis medengar curhatn
putrinya “klo memag begitu sekarang na turun sarapan dan turuti kata hati na
kemanapun kata hati na, ikutin dia mama
akan selalu dukung na,,,,dari belakang”
ujar mamanya memberi semangat .Tampa piker panjang Arvina langsung
bergabug bersama papa mamanya di meja makan dan 15 menit setelah ia bersiap
siap ia langsug pamit dan pergii menelusuri kemana arah hatinya.
***
Roda itu
berhenti berputar tepat di depan rumah sakit “PERSADA” Arvina bingung kenapa hatinya ingin ke sini
tempat dimana dua minggu lalu ia bertemu dengan Davin untuk terakhir kalinya
setelah Davin memutuskannya .Walaupun ada kebingungan di benaknya kenapa
dirinya ada di sini kakinya tetap melangkah menelusuri koredor panjang yang di
penuhi oleh sederetan penunggu.Langkah kakinya membawa dirinya hingga lantai
dua ia berjalan seperti orang tolol yang tak tau arah sehingga ia di kagetkan
oleh Bagas yang datang dari arah belakang “na…ngapain di sini??” Tanya Bagas
mengagetkan Arvina “eh…ka bagas….gk tau kenapa hati na bawa na sampai ke
siniaaaaaaaa” jelas Arvina masih tetap memandang lurus ke ujung koredor yang di
akhiri oleh sebuah ruangan yang bertuliskan “KAMAR MAYAT” “btw ka Bagas ngapain
di sini ??” “ohh…ka Bagas mau gantiin jaga soalnya kasian mama dan papa dari
tadi malam di sini” Arvina hanya tersenyum simpul mendengar alasan Bagas, waktu
begitu cepat hingga mreka tak sadar satu menit telah berlalu hingga perbincangan meraka terputus akibat
teriakan dari kamar no 125 “daviiiiiiiiiiiiiiiinnn…….”suara wanita paruh baya
itu begitu nyaring hingga memenuhu seantero rumah sakit dan di sambut oleh
suara tangisan meraug raug…tampa piker panjang Bagas langsung berlari menuju
dimana asal suara itu di ikuti dengan Arvina yang tak tau apa apa tapi ikut
berlari ingin tau ada apa.Tak ada lagi yang dapat di lakukan Bagas kain putih
itu telah membentag menyelimuti tubuh adik semata wayangnya , kedua orang
tuanya kini duduk pasrah di lantai di hujani air mata .Bagas mematung bagaikan
zombie hingga tak sadar kalo Arvina kini berada di dalam ruangan itu juga
…binggung kenapa orang tua Davin ada di sini dan menangisi sesosok orang yang
kini terbaring kaku di atas ranjang di selimuti kain putih….Arvina bertanya
tanya dalam hati siapa yang terbujur kaku tak bernyawa itu ???? tampa pikir dua
kali ia langsung mendekati ranjang itu dan dengan perlahan ia membuka kain
putih itu…..DDDDAARRRR….petir bagaikan menyambar tubuhnya yang kini berada di
samping mayat sang kekasih yang sampai detik ajalnya ia masih
menyayanginya…dunia bagaikan runtuh ….napasnya terasa terhenti …edaran darahnya
terasa tersumbat oleh penderitaan yang ia alami ternyata hatinya membawanya ke
sini …Arvina masih tak percaya dengan apa yang di saksikan di hadapanya kekasih
yang meningalkanya selama kurang lebih 3 minggu kini akan pergi untuk selamanya. Air mata membasahi pipi
lembutnya ..tubuhnya serasa ingin ambruk berusaha menjagkau tubuh yang tak
bernyawa dan tak akan kembali lagi untuk
selamanya…Arvina memeluk erat tubuh kaku yang dingin itu dengan segenap rasa
kasih sayangnya lalu dua orang berpakaian putih- putih memisahkanya dari tubuh
tak bernyawa itu Arvina berusaha meronta rota akan tetapi kekuatan yang ia
miliki terbatas …kata- kata yang keluar dari mulut tipis Arvina hanya nama
Davin dan Davin akan tetapi nama itu lenyap ketika Arvina berada dalam pelukan
Bagas dan tak sadarkan diri lagi.
***
Amplop
berwarna biru mudaa itu kini telah berada di tanganya …seusai dari pemakaman
Davin, tante Anes mama Davin menyampaikan amanat dari Davin untuk memberikan
sepucuk surat buat Arvina Marista sang kekasih hati.Dengan perlahan Arvina
membuka amplop biru muda itu di iringi dengan perasaan tak tau apa yang saat
itu ia rasakan
Arvina….
Aku telah berjanji kepadamu bahwa
suatu saat nanti
Kamu akan tau …alasan kenapa aku
meningalkanmu
Hari dimana kamu membuka amplop
biru muda ini telah
Menjawap semuanya …mungkin aku
begitu bodoh karna
Melepaskan cewek secantik,
sepintar,sebaik dirimu …….
Tapi aku tak akan pernah bisa
melihatmu menderita karna
Melihat keadaanku yang kurang
sehat …maaf jika selama
Ini aku selalu menghindar darimu
, karna saat itu aku
Sedang melakukan terapi …karna
virus kangker telah mengerogoti
Otaku …aku tak ingin semua itu
membebani pikiranmu ….
Maka dari itu lebih baik aku menjauh darimu
…umurku
Jugga tidak akan bisa menemani
hidupmu untuk selamanya…
Arvina……
Aku minta maaf jika selama kamu
bersamaku ….aku selalu
Membuatmu marah , kecewa, sedih menjalani hari harimu …
Mungkin di balik semua ini ada
hikmah yang lebih besar
Buatmu …yakinlah bahwa allah
telah menyediakan pengantiku
Yang lebih baik dari aku…jagga
selalu hatimu saat kau jauh
Dari orang yang kamu
sayangi……..
Davin
pernandes
Arvina
duduk bersimpuh di samping kuburan yang masih basah dan memerah itu ,air
matanya kini tak bisa tertahankan lagi kertas putih itu kini telah basah di
hujani air mata …perlahan ia meremas kertas itu dan menjejalkan kedalam
gundukan tanah kuburan berserta
tangannya …ia mendongak ke langit biru nan luas berharap suatu saat nanti ia
dapat bertemu dengan Davin.
0 komentar:
Posting Komentar