Jumat, 27 Desember 2013

Penantian Tak Berhujung

Diposting oleh Unknown di 16.18

Penantian Tak Berhujung
oleh: Maharani

Angin itu berhembus kencang menerbangkan debu-debu dan dedaunan kering di jalanan, ia bagaikan orang yang tak mempunyai semangat hidup lagi , ia merasa hidup di dunia tak berpenghuni, rambut indah yang ia miliki kini terbang ria bersama debu-debu jahat yang membuat rambut indahnya kini menjadi lusuh, kulit putihnya kini kusam, terlebih lagi sinar matahari yang menyengat kulitnya. Akan tetapi ia tak peduli untuk hal itu saat ini ia pun tak tau kemana arah tujuan langkahnya yang lemah lunglai tak tau arah , air mata yang mengguyur pipi yang kusam kini sedikit terlihat putih karna basuhan tangan dan air mata yag sedari tadi mengalir “kenapa semua ini harus terjadi …kenapa???apa salahku …apa aku kurang perhatian sama kamu, apa aku kurang cantik buat kamu , apa aku kurang pintar buat kamu, apa aku kurang kaya buat kamu, apa kekuranganku?????

apa ada orang ketiga yang dapat menggantikan posisiku di hatimu???”. Hatinya brgejolak dengan pertanyaan- pertanyaan yang kini muncul di benaknya, ia tak tau apa yang harus di lakukan, kaos ungu yang ia kenakan kini setengah basah, pundaknya kini naik turun  ia tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan yang tak tentu arah, tubuh semampainya kini telah bersandar di depan tiang lampu lalu lintas, semua pengendara yang saat itu sedang menuruti perintah si bulat merah di jalan tertuju padanya. Entah orang mau berkata dia gila atau apalah ia tak peduli yang ada di dalam benaknya hanyalah apa yang membuat kekasih hatinya melepaskannya dari hubungan yang telah di bangun selama 3 tahun belakangan ini. Ia tertunduk  lemah  di pingir jalan memeluk kedua lututnya, dari  kejauhan terlihat seorang laki-laki turun dari BMW hitam kinclong berjalan cepat kearahnya “Na…” nama singkat itu keluar dari mulut laki-laki bertubuh atletis berkemeja dongker garis-garis dan celana hitam kulot, sepatu kinclong kantor. Mendengar namanya disebut ia sedikit mendongak berharap kekasihnya hadir kembali, akan tetapi harapan itu nihil ternyata laki-laki itu adalah salah satu karyawan papanya “Arvina…”ucap laki-laki itu kembali, ya Arvina nama gadis  itu. Arvina tak berekspresi sedikitpun melihat kehadiran laki-laki itu… tapi terlihat jelas dari tampangnya yang urak-urakan dan air mata yang masih mengalir deras bahwa gadis itu dilanda kesedihan “Na ..ngapain di sini, kamu sakit..???” tanya laki-laki itu tapi tak ada jawaban yang terlontar dari mulut tipis Arvina ia hanya memandang sejauh mata memandang berharap kekasihnya datang mengejar kepergiannya “Na.. ikut pulang yuk..,’’ tawar Bagas ,,ya Bagas nama laki-laki itu. Tawaran Bagas tak menerima respon juga, akan tetapi Bagas tau kalo anak direkturnya  sudah ngambek butuh waktu lama untuk mengembalikanya seperti semula maka dari itu tanpa pikir panjang Bagas langsung mengangkat tubuh semampai itu kedalam mobil karena si bulat merah telah di gantikan saudaranya si bulat hijau bersamaan dengan bunyi kelakson mobil di belakang mobil Bagas berbunyi nyaring tak sabaran ingin melanjutkan perjalananya.
***
    “Na…buka pintunya sayang udah tiga hari kamu nggak  makan’’ bujuk wanita separuh baya yang kini berdiri di depan pintu krem yang menjulang tinggi terkunci rapat “kalo kamu ada masalah kasi tau Mama sayang’’ bujukan-bujukan Mamanya tak satupun di dengar ia hanya memandang bingkai yang di dalamnya terdapat foto Davin, sang mantan kekasih hati yang begitu sangat ia cintai yang baru tiga hari ia putus tanpa alasan yang jelas …itulah yang tak bisa di terima Arvina, ketika ia sudah mulai mencintainya setulus hati segenap jiwa dan perasaannya yang begitu mendalam, tiba-tiba Davin memutuskanya tanpa alasan yang jelas …”Na …ini mama , mama kangen mau liat senyum riang kamu, wajah cantikmu, tolong buka pintunya sayang’’ bujukan itu entah kesekian kalinya ia masih tetap dengan posisi semula hingga sampailah bujukan terakhir  “Na… apa kabar dangan Davin ,? kalo ada masalah dengannya biar Mama bantu menyelesaikannya’’ pegal mulai melanda kaki ramping Mamanya dan  ingin beranjak pergi dari sana, akan tetapi langkah itu tertahan karna terdengar suara kunci terputar membuatnya berbalik lagi dan dilihatnya Arvina yang begitu lusuh, kering, tak bersemangat lalu di peluknya anak semata wayangnya itu dengan erat dan penuh rasa kasih sayang .Di giringnya Arvina ke ranjang yang begitu berantakan “Na…sekarang kamu cerita sama mama, kenapa kamu sampe kaya orang gila di jalanan dan di bawa pulang oleh anak buah papa ’’ pinta Mamanya sambil mengelus kepala Arvina di atas pangkuanya “Ma..mungkin Mama akan tertawa mendengar kenapa Arvina jadi begini …Arvina Cuma gak bisa nerima kenyataan kalo Davin udah mutusin Arvina padahal Arvina masih sayang sama Davin dan dia mutusin Arvina tanpa alasan yang jelas ’’ jelas Arvina ditemani dengan air mata membasahi pipi lembutnya “ohhhh……jadi itu yang membuat anak mama gk mau kuliah and beraktivitas seperti biasanya ????? huuuu..sayang walaupun begitu kamu gk boleh dong menyiksa diri sendiri dengan gk mau makan,beraktivitas  itu malah akan membuat kamu tambah sakit ,,,coba mulai sekarang bangun semangat baru …hidup baru,,,dan satu lagi kalo memang kamu masih penasaran dengan alasan mengapa Davin mutusin kamu , cari dia dimanapun ia berada dan hadapi dengan tegar apapun alasanya ,,pokonya arvina gk boleh cengeng di hadapan davin ’’ advice mamanya membuat Arvina bangkit dan mengapus sisa air matanya semangat berkobar di benaknya dan tanpa menghiraukan mamanya Arvina langsug beranjak ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh yang sudah tiga hari belakangan ini ia abaikan.Wanita paruh baya yang berpenampilan modis apalagi buat kalangan ibu-ibu itu hanya bisa tersenyum geleng kepala melihat tingkah anaknya yang kurang lebih dua bulan belakangan ini masuk universitas ternama di Jakarta yang masih bertingkah seperti anak masih SMP.  
***
      Satu minggu tak terasa ia jalani hanya untuk mencari dimana mantan kekasihnya yang kini tak muncul kembali bagai di telan bumi , teman akrab, keluarga , sepupu , teteangga telah ia telusuri untuk maencari tau Davin ada di mana , akan tetapi pencarian selama satu minggu itu nihil.Suatu hari dimana ia begitu cape dan putusasa mencari tau keberadaan Davin. Arvina beristirahat sebentar di sebuah lestoran sampig rumah sakit “PERSADA” Arvina sengaja mengambil meja dekat jendela kaca supaya dapat melihat orang berlalu lalang di jalanan supaya dapat menghilangkan kebosanannya dan ,,,kini tatapanya lurus kearah jalan ditemani pikiran-pikiran yang berkecamuk di benaknya membuat wajah cantik itu tak berekspresi ,,,higga akhirnya sang pelayan mengantarkan pesanan tapi ia tak meghiraukan pelayan itu  tiba-tiba raut wajahnya berubah kaget dan langsug berdiri karna samar-samar ia melihat sesosok Davin keluar dari rumah sakit persada itu sambil membawa amplop coklat berukuran besar , tampa piker panjang Arvina langsung berlari mengejar sosok tersebut ditemani suara teriakan menyebut nama Davin berulang kali ,,,hingga suara itu mampu membuat seorang laki-laki yang hendak memasuki sedan merah itu terhenti karna mendengar namanya di sebut .Arvina lagsug mematug ketika sosok itu kini berbalik dan benar saja dia adalah Davin yang di carinya selama ini ,,,wajah dua insan itu kini bertemu pandag dengan jarak yang sedikit jauh,,,Arvina mematung bagaikan zombie entah rasa apa yang kini mengeluti  hatinya bahagiakah karna telah melihat Davin di hadapanya lagi ,,atau sakit hati  karna di tinggal pergi????tatapan Arvina buyar karna Bagas yang tiba-tiba datang dari belakang menyapanya”na …ngapain di sini?” peratnyaan Bagas membuat tatapan Arvina berpaling ke arahnya “eh…Cuma nunggu temen , ka Bagas sendiri???”Arvina mlontrkn prtnyaan balik “temenin adek chek up” jawaban singkat Bagas tak di respon karna arah pandangan Arvina kini tertuju pada Davin yang kini sudah masuk ke dalam mobil “na…tunggu temen di dalem aja sekalian makan!!!!!”tawar Bagas perhatian , tapi tak ada respon dari Arvina ia hanya fokus pada mobil sedan yang kini berusaha keluar dari arena parkiran (na ..mogga ka Bagas adalah orang yang terbaik buat kamu) ujar Davin dalam hati ketika melintas di hadapan Arvina dan Bagas mengunakan sedan merahnya ,,,pandagan Arvina masih mengekori sedan merah yang kini pergi begitu saja yang berarti membawa Davin pergi jugga ,,,krtika ia sadar atas kepergian Davin tampa basa basi Arvina langsung berlari mengejar sedan merah itu tampa menghiraukan Bagas sedikitpun ia tetap berlari memangil nama Davin berulang kali di sertai hujan air mata ,,,Davin sedikit melirik kearah kaca sepion mobilnya ia tak kuasa melihat mantan pacarnya yang hingga kapanpun masih ia sayangi berlari sesekali tersandug dan bagkit lagi mengejar ke pergiannya .Ciiiiiiiiiiiiittttttttttt…………..suara rem mendadak itu berasal dari sedan merah yang kini berjalan mundur medekati langkh Arvina yang sedikit lagi ambruk ,,,dengan sigap Davin keluar dari mobil dan langsung menopang pundak Arvina yang lima jegkal lagi bersatu dengan aspal jalanan “na…kamu gk perlu ngelakuin semua ini,,,kamu gk perlu menyiksa diri seperti ini,,,asal kamu tau sampai kapanpun aku akan selalu menyayangi  kamu hingga kapanpun ,,,tapi untuk saat ini aku gak bisa nemenin kamu ,,dan aku gk bisa mempertahankan hubungan kita’’ jelas Davin panjang lebar yang membuat air mata Arvina semakin deras “vin aku mohon jangan tingalian aku…,aku sayang kamu” ujar Arvina, nasehat mamanya tak ada satupun yang di ingat ia begitu lemah “na..aku juga sayang sama kamu, tapi aku gk bisa meanljutkan hubungan kita” “lalu apa alas an kamu mutusin aku vin ,apakah ada gadis laiii???” perkataan Arvina terhenti karna jari Davin kini mengonci mulutnya”na…suatu hari nanti kamu pasti mengerti” jawab Davin sambil mengapus sisa air mata Arvina yang sedikit reda dan mengajaknya bangkit dari aspal abu ke hitam hitaman itu “na…percayalah aku akan selalu ada di sisimu, menjaggamu, bersamamu, hingga kapanpun “advice Davin membelai rambut lurus sepunggung Arvina dan mendekapnya dalam pelukan hangat .Tak lama setelah itu Bagas datag menghampiri tapi ia tak berkata apa- apa karna telah mendapat aba- aba dari Davin untk tidak mengangu ,,,,tak enak hati pada Bagas Davinpun mengendorkan pelukan yang akhirnya lepas barulah Davin  memberi aba-aba dengan sebuah angukan yang berarti bawa dia pergi darinya  pada Bagas .Kini sedan merah itu melaju kencang tanpa ada yang menghalanginya.
***
  Warna putih kini memenuhi pelupuk mata sejauh mata memandang warna itu selalu hadir.Di dalam ruangan yang berbau obat-obatan itu Davin  terbaring lemah dengan kabel berwarna warni tersambung ke tubuhnya yang terlihat kering nan kurus , sudah dua mingg ini ia bearbaring di ruang fif A rumah sakit Persada itu .Davin hanya bisa bergerak dan berbicara secukupnya …wanita separuh baya yang selalu menemaninya masih semangat membujuk anak sulungnya dari dua bersaudara itu untuk makan”vin kamu harus makan ….belakangan ini kamu gk pernah mau makan , gimana mau sembuh,,,”adevic mamanya megajugkan sendok berisi bubur ayam kesukaan Davin “ma walaupun Davin makan satu baskom juga gk bakalan bisa nambah umur Davin yang tingal sebentar ini” ujar Davin menyungigkan senyum tanpa harapan “vin kamu harus percaya kalo allah akan memberikan mujizat kepada kamu ” “ma ,,papa dan abag kemana?? Davin kangen  siapa tau Davin terakhir kali melihat papa dan abag” ujar Davin mengalihkan pembicaraan …mendangar prkataan Davin tanpa disadar wanita paruh baya itu meneteskan air mata haru dan tak sangup bila ia kehilangan anaknya``ma…kenapa mama menangis ?? Davin gk mau liat mama sedih ” pinta davin mengapus air mata mamanya yang mengalir membasahi pipi lembut itu .”vin kamu gk mau kalo Arvina datang menjenguk kamu ??” tawar mamanya brusaha membgkitkan semangat Davin…karna hanya Arvinalah yang mampu membuat Davin bersemangat hidup setelah pihak rumah sakit menetapkan bhwa ia mengidap kangker otak “ma Davin gk sangup melihat cewek yang Davin sayangi menitiskan air mata gara- gara melihat Davin yang sebentr lagi akan mati ” jelas Davin melempar pandangan ke luar jendela kamar “vin kalo emang kamu gk mau , mama gk bakaln maksa kamu sayang”dukug mamanya membelai rambut Davin yang hitam terawa``ma…Davin minta tolong jika suatu saat nanti Davin gak ketemu sama abang , tolong sampaikan padanya , jagga Arvina dengan baik, bahagiain dia demi Davin ” mamanya hanya bisa mengangukan kepala menitiskan airmata mendengar pesan -pesan terakhir Davin.
***
     Pagi yang sepi alam tak secerah hari biasanya ….hari dimana semua pegawai cuti dan berlibur dengan keluarganya tapi berbeda buat Arvina ketika ia terbangun dari tidur raut wajah yang di gambarkan sudah gelisah tak ada tersirat kebahagiaan di wajahnya menyambut hari libur , ia selalu trelihat cemas entah apa yang di pikirkan “na …sarapan dulu papa udah nunggu di bawah” perintah mamanya yang kini berdiri di ambang pintu menyaksikan anaknya yang melamun di depan meja rias …karna tak ada respon dari Arvina wanita swparuh baya itu masuk dan menghampiri putrinya “na…kamu kenapa lagi ??? jangan bilang kamu inget sama Davin lagi , dua minggu belakangan ini kamu sudah berhasil lupain Davin,,,mama gak mau liat kamu sedihlagi” pinta mamanya menepuk pundak Arvina memberi semangat “ma …na gk tau kenapa tadi pagi selekas bangun tidur pikiran na langsuk tertuju pada Davin ,,,,dan na gak tau kenapa, na khawatir banget sama Davin” jelas Arvina pada mamanya yang hanya tersenyum manis medengar curhatn putrinya “klo memag begitu sekarang na turun sarapan dan turuti kata hati na kemanapun kata hati na, ikutin dia  mama akan selalu dukung na,,,,dari belakang”  ujar mamanya memberi semangat .Tampa piker panjang Arvina langsung bergabug bersama papa mamanya di meja makan dan 15 menit setelah ia bersiap siap ia langsug pamit dan pergii menelusuri kemana arah hatinya.
***
        Roda itu berhenti berputar tepat di depan rumah sakit “PERSADA”  Arvina bingung kenapa hatinya ingin ke sini tempat dimana dua minggu lalu ia bertemu dengan Davin untuk terakhir kalinya setelah Davin memutuskannya .Walaupun ada kebingungan di benaknya kenapa dirinya ada di sini kakinya tetap melangkah menelusuri koredor panjang yang di penuhi oleh sederetan penunggu.Langkah kakinya membawa dirinya hingga lantai dua ia berjalan seperti orang tolol yang tak tau arah sehingga ia di kagetkan oleh Bagas yang datang dari arah belakang “na…ngapain di sini??” Tanya Bagas mengagetkan Arvina “eh…ka bagas….gk tau kenapa hati na bawa na sampai ke siniaaaaaaaa” jelas Arvina masih tetap memandang lurus ke ujung koredor yang di akhiri oleh sebuah ruangan yang bertuliskan “KAMAR MAYAT” “btw ka Bagas ngapain di sini ??” “ohh…ka Bagas mau gantiin jaga soalnya kasian mama dan papa dari tadi malam di sini” Arvina hanya tersenyum simpul mendengar alasan Bagas, waktu begitu cepat hingga mreka tak sadar satu menit telah berlalu  hingga perbincangan meraka terputus akibat teriakan dari kamar no 125 “daviiiiiiiiiiiiiiiinnn…….”suara wanita paruh baya itu begitu nyaring hingga memenuhu seantero rumah sakit dan di sambut oleh suara tangisan meraug raug…tampa piker panjang Bagas langsung berlari menuju dimana asal suara itu di ikuti dengan Arvina yang tak tau apa apa tapi ikut berlari ingin tau ada apa.Tak ada lagi yang dapat di lakukan Bagas kain putih itu telah membentag menyelimuti tubuh adik semata wayangnya , kedua orang tuanya kini duduk pasrah di lantai di hujani air mata .Bagas mematung bagaikan zombie hingga tak sadar kalo Arvina kini berada di dalam ruangan itu juga …binggung kenapa orang tua Davin ada di sini dan menangisi sesosok orang yang kini terbaring kaku di atas ranjang di selimuti kain putih….Arvina bertanya tanya dalam hati siapa yang terbujur kaku tak bernyawa itu ???? tampa pikir dua kali ia langsung mendekati ranjang itu dan dengan perlahan ia membuka kain putih itu…..DDDDAARRRR….petir bagaikan menyambar tubuhnya yang kini berada di samping mayat sang kekasih yang sampai detik ajalnya ia masih menyayanginya…dunia bagaikan runtuh ….napasnya terasa terhenti …edaran darahnya terasa tersumbat oleh penderitaan yang ia alami ternyata hatinya membawanya ke sini …Arvina masih tak percaya dengan apa yang di saksikan di hadapanya kekasih yang meningalkanya selama kurang lebih 3 minggu kini akan pergi  untuk selamanya. Air mata membasahi pipi lembutnya ..tubuhnya serasa ingin ambruk berusaha menjagkau tubuh yang tak bernyawa  dan tak akan kembali lagi untuk selamanya…Arvina memeluk erat tubuh kaku yang dingin itu dengan segenap rasa kasih sayangnya lalu dua orang berpakaian putih- putih memisahkanya dari tubuh tak bernyawa itu Arvina berusaha meronta rota akan tetapi kekuatan yang ia miliki terbatas …kata- kata yang keluar dari mulut tipis Arvina hanya nama Davin dan Davin akan tetapi nama itu lenyap ketika Arvina berada dalam pelukan Bagas dan tak sadarkan diri lagi.
                                                                        ***
    Amplop berwarna biru mudaa itu kini telah berada di tanganya …seusai dari pemakaman Davin, tante Anes mama Davin menyampaikan amanat dari Davin untuk memberikan sepucuk surat buat Arvina Marista sang kekasih hati.Dengan perlahan Arvina membuka amplop biru muda itu di iringi dengan perasaan tak tau apa yang saat itu ia rasakan
         Arvina….
             Aku telah berjanji kepadamu bahwa suatu saat nanti
             Kamu akan tau …alasan kenapa aku meningalkanmu
             Hari dimana kamu membuka amplop biru muda ini telah
             Menjawap semuanya …mungkin aku begitu bodoh karna
              Melepaskan cewek secantik, sepintar,sebaik dirimu …….
              Tapi aku tak akan pernah bisa melihatmu menderita karna
              Melihat keadaanku yang kurang sehat …maaf jika selama
              Ini aku selalu menghindar darimu , karna saat itu aku
              Sedang melakukan terapi …karna virus kangker telah mengerogoti
              Otaku …aku tak ingin semua itu membebani pikiranmu ….
               Maka  dari itu lebih baik aku menjauh darimu …umurku
               Jugga tidak akan bisa menemani hidupmu untuk selamanya…
               Arvina……
                Aku minta maaf jika selama kamu bersamaku ….aku selalu
                Membuatmu  marah , kecewa, sedih menjalani hari harimu …
                Mungkin di balik semua ini ada hikmah yang lebih besar
                Buatmu …yakinlah bahwa allah telah menyediakan pengantiku
                Yang lebih baik dari aku…jagga selalu hatimu saat kau jauh
                Dari orang yang kamu sayangi……..
                                                       Davin pernandes
      Arvina duduk bersimpuh di samping kuburan yang masih basah dan memerah itu ,air matanya kini tak bisa tertahankan lagi kertas putih itu kini telah basah di hujani air mata …perlahan ia meremas kertas itu dan menjejalkan kedalam gundukan tanah kuburan  berserta tangannya …ia mendongak ke langit biru nan luas berharap suatu saat nanti ia dapat bertemu dengan Davin.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Titin Agustina Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting