Jumat, 27 Desember 2013

Selimutkan Rinduku bersama malam-Mu

Diposting oleh Unknown di 16.15

Selimutkan Rinduku bersama malam-Mu
oleh: Septin Agustina

Sunyi..selubungi malam mengusik indah yang terlontar jauh…
Masih hangat terasa..hangat yang membelai yang mengusik manja..
Daku damba kasihmu biar jadi pedoman buat penunjuk jalan ku gapai impian
Angin..kau nyanyikan lagu untuk permataku kenang selalu..
Bayu..sampaikan berita daku kini ceria aman dan bahagia..
Selimutkan rinduku bersama malam-Mu..
Hadirlah dalam mimpiku..agar kau selalu ada disisiku..
Rindu..belain kasihmu..rindu senyumanmu penawara lukaku..
Dengarlah laguku hadiah untukmu sebagai penunjuk jalan ku genggam selamanya
Alunan lagu nasyid asal Malaysia itu mengalun merdu di telingaku.Membuatku teringat akan keluargaku di Indonesia. Sebenarnya, ini tak bisa dikatakan sebagai keluarga, karena aku hanya hidup dengan adikku. Hhh..mungkin jika dia tak ada, aku sudah mengakhiri hidupku dari 3 tahun yang lalu. Tapi inilah aku sekarang, masih bisa menghirup oksigen, masih bisa berdiri tegak tak ada cacat sedikitpun dan…aku masih tetap tampan. Akhhh….dadaku terasa sesak tiap kali tiap kali ku ingat kampung halamanku. “Mubarrak…..Mubarrak!” suara opah Rosyidah membuyarkan lamunanku seketika. “Ya opah…aku hendak kesane…..” rasanya selama 3 tahun disini membuatku merasa menjadi warga negara disini, karena tata bahasaku telah berubah menjadi aksen bak orang Malaysia. Tak lama aku telah sampai di depan opah. Ibu yang  telah berumur setengah abad lebih ini menyambutku dengan senyum yang di kulum. Hmm….sungguh beruntungnya aku yang dianggap sebagai cucunya hanya dengan sekali bertemu. Dan hidup nyaman di dalam rumah megah berlantai dua ini. Aku tak dapat membayangkan menjadi kuli kelapa sawit disini. “Mubarrak….opah hendak pergi sebentar. Kalau saje si Delisha itu datang pulang sekolah, suruh budak satu itu ganti pakaian. Dan ajari budak itu mengaji. Opah tak kuase lagi mengurus budak satu itu…” Opah terus saja berkeluh kesah tentang cucu satu-satunya itu. Aku menahan tawaku melihat  opah mengomel panjang lebar seperti itu. Aku jadi ingat serial Upin & Ipin. “Kenape lah Mubarrak? Opah salah cakap, buat kau tertawa?” Aku hanya tersenyum, membuat opah mengerutkan keningnya lalu beranjak sambil mengucapkan salam. Aku mengantar opah sampai depan gerbang.
                 Tak lama setelah opah pergi, suara sepatu si kecil Delisha berketuk-ketuk di rumah yang besar ini. Lalu seperti lagu yang telah ku hafal. Delisha mengucapkan salam seperti Upin & Ipin kepada datok.  “Assalamu’alaikum…Bara…Oh…Bara!” lalu aku datang mengejutkannya lalu menggelitikinya. Sampai ia mau bilang ‘kakak’. Tapi kali ini aku hanya datang menghampirinya dan mengelus kepalanya yang dibalut jilbab putih berenda bunga tulip. “Delisha, ayo…gantilah pakaiannye, kakak hendak tunggu di kamar merdeka belajar, boleh?”
               “Bolehke…bolehke…!” Delisha berlari ke kamarnya mengambil kitab Iqra’ sedangkan aku menunggu di ruang ‘merdeka belajar’. Dulu aku heran kenapa ruang keluarga yang isinya tv plasma besar, DVD, LCD, serta berbagai alat elektronik ini dinamakan seperti itu. Tapi, setelah ku pikir-pikir…..ternyata ada benarnya juga. Ruangan ini memang untuk
refreshing, bukan untuk belajar. Tapi akulah yang mempelopori tempat ini untuk mengajari si kecil Delisha. Setelah aku selesai mengajari Delisha mengaji, ia langsung berlari menaruh kitab Iqra’nya di atas buffet lalu mengambil remot tv dan mencari channel favoritnya. Apa lagi kalau bukan serial Upin & Ipin. Ia menonton sambil menikmati es krim favoritnya. Aku jadi teringat akan masa laluku…
***
                  “Kakak mau kemana?”      
                   “Mau sekolah lah..! Emang kamu mau ikut?” adikku mengangguk antusias. “Mmm….boleh.Tapi sampai pintu depan rumah ya?” aku menjahilinya. “Iih….kakak jahil banget sih!! Ok…aku gak jadi ikut tapi…entar bawain es krim cornetto rasa stroberi yaa..” Aku mengangguk ragu menuruti permintaan Permata. Aku bergegas pergi ke sekolahku yang berjarak 2,5 kilo meter dari rumahku. Permata….adikku satu-satunya dan merupakan keluargaku satu-satunya di dunia ini. Ibuku? aku tak tahu ada dimana sekarang. Apalagi ayahku, sejak aku berumur 5 tahun telah menghilang. Aku tak tahu apakah beliau sudah meninggal atau masih menghirup oksigen di belahan bumi  ini. Yang pastinya waktu aku terbangun dari tidurku, yang aku temukan hanya aku dan adikku di rumah yang kecil ini. Dan mulai saat itu, kami tak pernah melihat orang tua kami. Uang saku? aku sebenarnya sangat geram. Bisa-bisanya mereka pergi meninggalkan kami tanpa meninggalkan uang sepeserpun. Akulah yang harus membanting tulang untuk kehidupan kami berdua dengan umurku yang masih 11 tahun ini. Sementara Permata yang seharusnya masuk TK seperti teman-teman sebayanya, hanya bisa berangan-angan dengan selalu memakai sepatu pantofel lusuh dan tas begambar Betty Bob di punggungnya. Biasanya sehabis zhuhur ia telah duduk di depan rumah menungguku pulang sekolah. Seperti siang ini, setelah mendengar derap-derap langkahku  memakai sepatu yang solnya sudah tipis sekali. Saat melihat sosokku, Permata langsung jingkrak-jingkrak tak   karuan. “Assalamu’alaikum!” ucapku sambil mengusap peluh keringatku yang sedari tadi mengalir di pelipisku.
            “Mana? mana es krimnya kak? yang rasa stroberi kan?”
            “Eh kalo’  orang ngucapin salam itu di jawab dulu!”
           “Oke deh..! Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuuuuuuh! Sekarang mana es krimnya” Permata menatapku datar. Adikku yang malang ia memiliki kelainan pada wajahnya sehingga bagaimanapun ekspresinya hanya yang terlihat adalah ekspresi datar yang bahasa kerennya ‘without expression’. Tapi walaupun begitu ia tetaplah Permata yang berkilau dan tak ternilai harganya bagiku. Aku menyodorkan es krim Cornetto mini cookies & cream yang setengah encer. “Iih..kok gini sih kak? Kalo’ kayak gini sih gak bakalan puas  ampe  5 kotak,kak..!” Ia merengut kesal, kukenal dari suaranya. Aku mencoba menjelaskan padanya   “Permata, itu kakak beli dengan upah nyuci 2 bak besar piring di lesehan Bang Mandra.” aku menghela nafas berat.
             “Tapi ini kan udah hampir cair kak….!” suaranya melunak.
“Makanya makan cepetan!” aku meninggalkannya termangu sendirian.
             “Kak Mubarrak kenapelah tak cakap dari tadi?” aku agak tersentak mendengar bocah kecil ini menegurku. “Es krimnya habis sudah?” aku mencoba mengalihkan perhatiannya agar tak bertanya lagi. “Huh…bingunglah aku sama orang macam kak Barra.” Delisha mengganti channel-nya ke channel lain. Kali ini ia menonton serial kartun yang mengisahkan tentang kakak beradik yang hidup sebatang kara. Serial kartun itu seakan mengisahkan tentang kehidupanku. Akkhhh….rasanya seperti kebetulan saja semua ini. Aku seakan terlempar ke masa laluku saat SMP.
                              ***
               Semilir angin di taman sekolah ini membuatku semakin semangat membaca buku      pelajaranku .Sepi..sunyi… sendiri. “Bar…! Loe beneran gak mau nih ikutan main futsal entar bareng kita?” Radian  membuyarkan materi yang hampir baru saja ku hafalkan. “Sorry banget Yan, aku bener-bener gak bisa ikutan, kamu tau sendiri kan, besok ulangan ilmu Astronomi?”
              “Alaah…loe gak belajar juga ntar dapat A+, lagian di sana, cewek-cewek  pada nungguin loe…” Radian mengecilkan  volume suaranya  “Ssst…mereka dah pada bawa papan n’ kertas manila yang tulisannya tu ada bilang gini
Bara..Mr.Si-mple-ku,chayoo!’  n’ ‘BARA…Mr.Perfection-ku Fighting!!!  N’ yang lebih parah lagi nih man! ‘Bara…You’re My MAN!! YOU’RE MY DESTINY. Huh..dikira ne film korea apa???”
            “Astaghfirullah! lebay banget tuh cewek-cewek.!”aku menepuk-nepuk pundaknya lalu meninggalkannya. “Gak da loe gak rame ,bro!”
               “Have fun yaa..! ucapku setengah berteriak. High Intelegency Boarding School,sekolah swasta  terfavorit yang bermi-m pi pun aku tak pernah untuk bersekolah disiniAku bersyukur sekali mendapat beasiswa untukbersekolah disini.
Saat SMP dulu aku disarankan untuk mengikuti test masuk  di sekolah ini dan diantara teman-temanku hanya aku yang lulus. Namun aku sempat berfikir dengan siapa nantinya adikku akan tinggal? Dan siapa yang akan membiayainya? Memang Allah Maha Kuasa, Dia telah mengatur semua itu. Dan dengan Kuasa-Nya aku dikaruniai wajah yang tampan, tubuh tinggi jangkung dan kulit putih bersih alami serta otak yang encer.
               Waktu terus bergulir dan akhirnya aku tamat sekolah dengan nilai tertinggi di kota ku ini. Begitu pula dengan adikku, ia pun telah tamat dari sekolahnya dengan nilai yang sangat pas-pasan. Aku tahu ia tidak bodoh. Namun ia hanya membutuhkan proses pemahaman yang lebih lama daripada anak seusianya. Sesuatu yang paling ku sesali dan membuatku terpukul adalah, aku tak bisa mendaftarkan dia ke SMP atau sederajatnya di sekitar kotaku. Selain karena aku tak memiliki biaya untuk menyekolahkannya, disini yang ada hanya SMP swasta. Aku juga tak melanjutkan sekolahku ke perguruan tinggi. Sebenarnya aku disarankan untuk mengikuti beasiswa masuk  Stanford University di USA. Namun aku tolak dengan sangat berat hati. Aku mengkhawatirkan adikku. Dengan siapa dia tinggal nanti? Tetanggaku yang memiliki hati mulia itu telah pindah rumah. Lalu siapa yang akan membiayai hidupnya nanti? Miris memang tapi inilah yang terjadi. Aku jadi teringat kata-kata bang Mandra dulu, “Bar..inilah hidup kadang susah,kadang senang.Karena kita gak hidup sama malaikat.Kalo’ kita hidup sama malaikat, abang tak mungkin jadi penjual di kios kecil ini. Dan kau? Tak mungkin hidup susah seperti ini. Jadi, kau harus nerima dengan hati yang legowo.” Di tengah kegalauan hatiku, aku akhirnya memutuskan mencari pekerjaan di kota metropolitan ini. Dan sekarang aku telah menjadi tukang kebun di salah satu rumah guruku waktu SMP. Setiap kali aku pulang ke rumah, aku selalu mendapati adikku memandang teman-temannya yang memakai seragam SMP. Hatiku terasa sesak sampai akhirnya aku mengambil keputusan yang paling gila. Aku melangkah menuju tempat majikanku sekaligus guruku untuk membicarakan keputusanku. “Mmm…pak saya ingin membicarakan sesuatu.” beliau menyeruput tehnya lalu mengangguk. Aku menghela nafas. “Eee..saya…mau mengundurkan diri, pak!Saya mau pergi merantau ke negeri tetangga.” seketika itu air mukanya berubah.” Apa saya kurang menggajimu, Mubarrak?” beliau menekankan sekali saat menyebutkan namaku. Aku tahu beliau sangat menyayangiku sampai-sampai beliau malah ingin mengangkatku sebagai anaknya. Namun karena sikap seganku padanya, aku menolak dengan halus. “Tidak pak! Tidak sama sekali! Saya hanya ingin melihat adik saya bisa melanjutkan sekolahnya” aku menunduk takut. “Kau kira dengan menjadi TKI kau bisa menjadi Milliarder, hem??” aku tertohok dengan ucapannya itu. Namun keputusanku sudah bulat aku tak mau mundur.” Dia harus bersekolah pak, dan tidak ada yang membiayainya selain saya.” Beliau menatapku tajam. “Kenapa tak kau katakan dari dulu, hem? Saya yang akan membiayainya sekolah sampai ia tamat perguruan tinggi.” suaranya tegas meyakinkanku dan seakan membuatku goyah untuk pergi. Tapi sampai perguruan tinggi? Itu bukan biaya yang sedikit.” Tapi, pak..semua itu membutuhkan biaya yang sangat mahal. Saya tidak mau merepotkan bapak sekeluarga.”
                 ”Saya akan menyekolahkan adikkmu di sekolah saya, di kelas unggulan.” lagi-lagi aku terkejut dengan setiap kata yang diucapkan. “Tapi pak adik saya…” belum lagi aku melanjutkan perkataanku, beliau mengeluarkan handphone Hi-Tech keluaran terbaru itu lalu menelpon seseorang. Lamat-lamat ku dengar beliau mungkin sedang berbicara pada salah satu petugas TU di sekolahku yang dulu itu. Buliran keringat sebesar bulir-bulir jeruk mengalir di pelipisku. Ditengah-tengah pikiranku membayangkan biaya yang tidak sedikit itu..
                  “Pikirkan matang-matang keputusan bodohmu itu Mubarrak. Masih banyak jalan menuju Roma.” beliau meninggalkan diriku yang sedang gamang dengan keputusanku.
                  Akhirnya kini adikku memakai seragam yang seperti diidam-idamkannya di sekolah High Intelegency Boarding School pula. Sesekali waktu aku datang mengunjunginya, sekedar untuk memastikan keadaannya. Sontak semua murid senior di sekolah itu seakan kedatangan artis terkenal yang kesasar. Namun, seperti biasa, aku tak mempedulikan mereka. Di kelasnya, Permata di jadikan leader. Agar ia lebih aktif kata wali kelasnya saat aku tak sengaja bertemu dengan beliau. Aku tahu masuk di kelas unggulan sangat berat bagi Permata, yang dituntut oleh pelajaran full di kelasnya. Sampai suatu ketika saat aku mengunjunginya. “Kak….aku gak bisa sekolah disini, pelajarannya banyak banget. Rasanya otakku mau pecah sama PR-PRnya, kak! Pokoknya aku mau pindah ke kelas reguler!” Memang sangat berat bagi Permata yang memiliki IQ di bawah rata-rata anak-anak seusianya. “Kamu udah bilang sama wali kelasmu?”
     “Udah. Tapi…..”                                          
                  “Tapi apa,Ta?”
                  “Beliau bilang kalo’ aku mau pindah, aku bakalan digantung  di pohon ketapang, kak. Jahat banget kan?” Aku tertawa menanggapinya. “Iih…kok ketawa sih? Apanya yang lucu, kak?”
                 “Itu tandanya kamu disayang sama gurumu. Ya udah entar kakak coba ngomong sama Kepala Sekolahnya ya…” Aku beranjak pergi lalu melambaikan tanganku sampai aku tak melihat sosoknya berjalan menyusuri koridor. Setelah itu aku langsung menuju ruang Kepala Sekolah. Aku mengucapkan salam agar beliau menyadari kehadiranku. Seketika udara panas di luar tadi menjadi sejuk setelah memasuki ruangan besar yang ber-AC ini. Aku dipersilahkan duduk lalu langsung menguta- rakan maksudku.
                  “Tidak, Mubarrak! Dia harus tetap berada di kelas unggulan. Bagaimanapun itu. Saya percaya ia bisa melewati masa-masa sulitnya!” intonasi suaranya membuatku bergidik. Siapa yang berani menolak perintahnya. Yang ku tahu tak pernah ada staf guru yang membantah setiap ucapannya. Aku menjadi merasa sangat berhutang budi pada guruku ini. Bagaimana aku bisa membalas semua kebaikan guru kesayanganku in? Sedangkan membayangkan masa depanku saja tak mungkin aku bisa merubah hidupku ini. Akhirnya setelah memikirkan matang-matang aku pergi merantau hanya dengan berbekal ilmuku dan ijazah SMA.
                                                                                                    ***
                Malam hari di Johor Baharu Malaysia..
                Aku berjalan di tengah hiruk-pikuk keramaian penduduk wilayah metropolitan Johor Baharu.Aku berjalan sampai ku dapati masjid besar untuk beristirahat. Dini hari, aku terbangun oleh suara khas muazzin  Malaysia. Aku langsung mengambil air wudhu lalu ikut shalat subuh berjama’ah. Aku berdo’a semoga Allah memudahkan jalanku dalam mencari pekerjaan disini. Aku keluar dari masjid setelah aku membersihkan diri di kamar mandi masjid ini. Aku menyusuri jalanan Johor Baharu dengan takjub. Sampai mataku menangkap sosok gadis kecil yang berlari meninggalkan neneknya. Tapi..ia berlari menuju tengah jalan tanpa menyadari ada sebuah truk container melaju sekitar 3 meter darinya. Dan…ciiitttttt!!! Aku mengerjapkan mataku untuk kedua kalinya. Memeriksa diriku apakah masih berada di dunia atau telah di syurga.
                ”Delisha…cemas benar opah!” Seorang nenek yang kutaksir umurnya setengah abad lebih itu berjalan meraih cucunya dariku sambil terisak. Aku mengerti arti kekhawatirannya itu. Aku langsung menyerahkan bocah nekat ini pada neneknya. 
                ”Kau tak ada barang luke?” bocah itu menggeleng polos sambil menunjukkan boneka yang menurutnya telah ia selamatkan. “Subahanallah…sungguh keajaiban selamatlah kau dari kecelakaan! Terima kasih banyak saye ucapkan nak, kau tak luke?” suaranya terdengar cemas. “Ya..alhamdulillah. Kalau begitu saya pergi dulu. Assalamu’alaikum.”
                 “Tunggu barang sebentar anak mude. Sepertinya asal kau dari Indonesia, benar? Siapelah nama kau?” Aku mengangguk. “Nama saya Mubarrak. Saya datang kesini untuk mencari pekerjaan.”
                “Nak, sulit kali dapat kerjaan disini apalagi kau pendatang disini. Ayo nak mari ikut opah.”
                Sekarang aku disini menjadi anggota keluarga opah Rosyidah sekaligus guru ngaji untuk Delisha dengan gaji yang lebih dari cukup menurutku.                                                     
                                                                         ***
            “Mubarrak! Sudah maghrib.Sudah ambil air wudhu kau?” Aku lumayan terkesiap dengan kehadiran opah.  Astaghfirullah aku tak sadar sudah masuk waktu maghrib. Setelah selesai  membaca al-Qur’an, aku tak ada kerjaan lagi. Aku membuka akun facebook di laptop milik almarhum Pak Cik Jauhari. Opah menyuruhku memakainya karena tidak ada yang memakainya. Aku melihat iklan disamping kanan yang menarik perhatianku. Disana tertulis  ‘Permata gadis cilik kelas 3 SMP High Intelegency Boarding School Menciptakan Buku Sience yang sangat mudah dipahami. Buku best seller yang  masuk nominasi Book Literatur AwardsAku mengklik  situs tersebut dan masyaAllah…memang benar. Ia adikku Permata. Dan penghargaan atas karyanya akan diberikan 2 hari lagi. Tanpa kusadari air mataku menetes. Aku tak peduli dengan imejku sebagai lelaki. Aku sangat terharu. Adikku yang usil. Adikku yang IQ-nya di bawah rata-rata kini telah berubah menjadi bintang yang bersinar. Aku turun dari kamarku menuju taman belakang tempat opah dan Delisha bercanda. Aku menceritakan semuanya dan opah ikut terharu. Beliau mengiyakan keinginanku. Pagi harinya aku telah siap. Opah tergopoh-gopoh mendatangiku dan menyodorkan  setelan Tuxedo silver padaku, serta sepasang sepatu kanvas  yang telah disemir klimis. “Opah berbuat macam apa ni?”
                  “Ini pak cikmu punya. Semoga saje cukup di badan kau. Tak pantas pakai paju macam kau pakai tu ke acara resmi.” Opah memelukku erat seakan melepaskan kepergian cucunya.”Terima kasih banyak opah,doakan saye selamat  di perjalan -an.”Setelah berpamitan dengan opah dan si kecil Delisha,aku langsung berangkat menuju Kuala Lumpur Airport diantar sopir pribadi opah.
                Dikaulah cahaya tika malam menjelma kasih-Mu…membawa ke syurga dalam ridho yang Esa…
                                                                                             ***
                 Kini aku telah berada di Conventional Hall Jakarta Selatan.Dengan tuxedo silver aku melangkah ke pintu utama. Baru saja aku datang,aku langsung dipersilahkan untuk duduk di kursi tamu khusus paling depan.Aku agak heran,apa
mereka ini tahu aku adalah kakak Permata?Sampai tibalah waktu yang di tunggu-tunggu.Aku melihat Permata diberikan penghargaan oleh bapak Menteri Pendidikan.Semua orang bertepuk tangan aku pun tak kalah semangat bertepuk tangan dan tak henti-hentinya mengucap syukur pada Allah.”Saya sangat bersyukur atas semua ini.Namun itu semua tak lepas dari rahmat-Nya.Tak lupa pula saya ucapkan terima kasih pada orang-orang yang memotivasikan saya sehingga saya bisa melahi-rkan karya ini.Terutama kak Mubarrak yang rela tidak makan seharian hanya dengan 1 buah eskrim Cornetto mini.”Para tamu yang tadinya terharu sekarang malah tertawa lalu mengalihkan pandangannya padaku.Sorotan kamera juga langsung terfokus padaku membuatku lumayan speechless.Setelah acara selesai Permata langsung berlari ke arahku dan memelukku sambil terisakTiga tahun berpisah rasanya ia sudah banyak berubah.”Kak,nyuri jas dimana tuh?Kok bagus banget!”
            “Eeh..enak aja ini kakak beli lah!”
            “Gak percaya!”Kami tertawa bersama.Sudah lama sekali aku tak mengalami moment ini.”Eh..ngomong-ngomong siapa sih yang bimbing kamu sampe bisa sehebat ini?”
            “Oh…aku hampir lupa kak.Tunggu sebentar ya?”Ia berlari menuju kursi paling ujung dan berbicara pada seorang
 gadis berjilbab putih dengan payet biru.Kini ia berjalan ke arahku bersama Permata.”Kak..ini nih mbak Aya yang sabar
                                                                                                  4
 ngebimbing aku belajar sampe’ bisa kayak gini.”Aku merasakan desiran dalam hatiku saat ia mengatupkan kedua tangan -nya.Subahanallah!Ia sungguh menawan dengan balutan jilbabnya yang terulur lebar.Dan satu lagi ia menundukkan pandangannya.Sekali lagi menundukkan pandangannya.Dialah satu-satunya gadis yang  kutemui tak memandangku lama-lama,mengerling genit,dan PDKT padaku.Sadar tak ada yang bersuara ”Eee..makasih banyak ya udah bimbing Permata belajar.
                 “Sama-sama.Itu juga karena semangat Permata.”Kami terdiam lagi.”Mm..Permata,mbak pergi dulu ya..”
                 “Yaah..mbak,padahal aku mau ngajak mbak ngobrol-ngbrol dulu sama kak Bara.”
                 “Lain kali aja ya,Ta..Assalamu’alaikum!”
                 “Wa’alaikumsalam.”Aku dan Permata menjawab bersamaan.”Hayoo..terpesona ya liat mbak Aya?”
                 “Huh..sok tau kamu!”
                 “Eh..tapi mbak Aya’ belum punya pacar looh!Dia gak mau pacaran.”
                 “Wah..kakak gak bisa PDKT donk?ucapku bercanda.”Tapi kakak bisa ngelamar jadi calon suaminya.Hm..tapi liat tampang kakak yang gak kuliah,mbak Aya’ bisa ilfeel.”Aku pura-pura berfikir.”Hm..salamin ya ma mbak Aya’-nya bilangin tungguin kakak.Kakak mau kuliah dulu trus ngelamar dia.”dalam hati aku menguatkan azamku untuk kuliah segera.”Yang bener kak?”katanya tak percaya.”Iyalaah..masa’sih kakak bo’ong!Makanya jagain mbak Aya’-nya biar gak  dilamar ma orang lain”Aku berjalan beriringan dengan Permata.”Siip deh kak!Hmm..ngomong-ngomong kok kakak tambah cakep sih?Apalagi pake’ style gituan kayak artis-artis korea aja!”
               “Ah..masa’ sih?Pantes aja dari kakak mulai datang tadi langsung di jepret-jepret kameramen.”
               “Huuh ge-er week!!!”Permata berlari takut ku jahili.Tapi kali aku tak mengejarnya.Aku menyilangkan tanganku di dada sambil bersandar di depan tugu taman kota sambil menatap langit malam.Sedangkan Permata duduk di ayunan sambil menikmati es krim Big Cornetto rasa stroberi.Bukan Cornetto mini harga 2ooo-an.

Tunjuk satu bintang..dan raihlah.Jangan putus asa dan menyerah.Saatnya kan tiba..bintangmu bersinar..saat impianmu jadi nyata…

0 komentar:

Posting Komentar

 

Titin Agustina Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting