Senin, 10 Maret 2014

when a real story can't fused with a fiction

Diposting oleh Unknown di 18.58


Rabu 25 desember 2013
Diketik 26 desember 2013 14.20 WITA to 18.00 WITA
Kali ini bukan malam-malam seperti sebelumnya. Bukan malam minggu bukan pula malam jumat (apa hubungannya ya? Ah whatever). Kuberitahukan padamu kawan...kau takkan percaya, yeah begitu pula denganku. Aku saja yang jadi pemeran utama disini tak percaya dengan kejadian ini, ini benar-benar nyata, tapi mungkin kalian yang tak pernah mengalami akan merasa bahwa kejadian ini tak pernah terjadi yeah walaupun pernah entah itu dimana, ya aku juga pun berfikir begitu secara gitu...hidup ini bukan a fairytale tapi aku bisa menjamin bahwa kisah dibawah ini benar-benar terjadi hanya saja aku susah menuliskan sesuai dengan apa yang aku temui di lapangan hahaha seperti penelitian saja, tapi aku serius ini benar-benar terjadi. Hmm..tapi satu yang jadi masalah, dimana kenyataan takkan mudah bersatu dengan khayalan, mungkin sebagian dari kalian merasa ada yang salah (mbak...harusnya khayalan tak mudah bersatu dengan kenyataan)oh tapi maaf kawan...maksudku tak seperti itu, yang ku maksud disini adalah...dimana sebuah kenyataan harus bisa ku satukan dengan khayalan. Ya benar, aku harus bisa menyatukan sebuah kisah realita dengan sedikit khayalanku yeah! (Kenapa harus gitu? Kan bisa tuh sekali-kali tulis aja realita nya,susah amat!) ya kau benar kawan...tapi jika ku tuliskan realitanya maka ending kisah ini akan datar ya datar dan tak terlalu menarik. Aku juga sebenarnya ingin menyempaikan lewat tulisanku ini bahwa betapa kenyataan itu sulit sekali di satukan dengan apa yang ada di khayalan. Kisah ini insyaAllah cocok dengan kawan-kawan yang dalam khayalannya menanti seseorang yang tepat dalam idaman selama ini dan berharap menemukannya dalam dunia nyata(aseeekkkk!!!). Tapi jika saat kau menemukannya tapi agak tak sesuai dengan apa yang kau impikan selama ini, maka jangan sedih jangan kecewa, bercerminlah apakah kekurangan dia lebih banyak daripada kekuranganmu? Hehehe bukan maksud menggurui, tapi terkadang kita memang terlalu sibuk mencari kesempurnaan sampai-sampai setiap kita menemukan kecacatan sedikit maka kita merasa itu merupaka kesalah besar. Come on! Hidup itu gak selama nya diseriusin kadang kita juga perlu merelaksasikan hidup ini(hehe kayak jantung aja di relaksasiin). Oke..hehe maaf kebanyakan cuap-cuap nih dari tadi si penulis bosen baca ya? Yayaya Jadi disini...tujuanku adalah untuk menghibur kalian,oleh karena itu aku menaruh bumbu-bumbu khayalanku sedikit, jadi, jika saat membaca kisah ini dan menemukan letak ketidaknyambungannya...pada saat itulah si penulis mengerahkan sekuat tenaga untuk menyatukan 2 dunia tapi apa daya..sulit sekali rasanyaL. Dan akhirnya setelah di aduk-aduk (walaupun sebenarnya tak bisa bersatu okelah, semoga bisa dimengerti, kalaupun tak bisa dimengerti, ngertiin aja ya susah amat!nah lho?hehe ntar ada garis khatulistiwa eh ada garis underscot yang ngebatasin sebuah kerumitan ketidakdapatnya menembus sebuah batas-batas ketidakmungkinan) dan..akhirnyaa jadilah sebuah kisah menarik(mudah-mudahan aamiin ya Rabb). It’s ok! Kasi aku waktu Tarik napas dulu sebentar. Hmmmfff  -__- bismillahirrahmanirrahiim
Malam itu...aku benar-benar jengkel, kecewa, nyesek, hmm ada yang bisa memberikanku kosa kata untuk rasa ini?. Okelah tak apa...akan ku teruskan. Dia..ya dia...aku heran mengapa dia selalu membuat hatiku tak karuan, kehilangan kata-kata, dan kadang ingin jingkrak-jingkrak sendiri ups! Stop ! jangan terlalu terbawa suasana, bukan karena apa-apa tapi yaahh..pokonya tak usah lah, aku yakin jika kamu terbawa suasana maka semua akan terlihat seperti love story hueekk, novel cengeng dan lagu-lagu galau overperasaan itu. Well, jujur aku memang suka semuanya, tapi entah kenapa, akhir-akhir ini aku merasa tak suka lagi mengkhayal. Aku lebih senang segala sesuatu yang realistis!!! Bosan aja menghayal tidak karuan dan akhirnya aku takkan siap rasanya saat aku harus terhempas ke bumi saat aku merasakan terbang ke awang-awang.
“ video call yuk!”. “nggak!!!” aku menolak tegas. Yaa sudah ku bilang, aku ingin yang realistis, gak mau yang dunia maya. Dia adalah teman chatting ku selama setahun lebih ini, ya it’s like LDR. Dia merasa aku berlaku tak adil. “ kenapa teman-temanmu bebas melihat wajahmu, sedangkan aku tidak? Mengapa ia bisa memegang tanganmu ? menatap mu lama-lama? Memijit? Memeluk? Hey STOP !STOP! apa-apaan nih? Aku paling tidak senang di tuduh yang tidak-tidak emm maksudku memang tapi itu benar. Tapi sungguh, aku tak suka jika sudah seperti ini, calm down...senja, “tunggu...tunggu...maksud ku bukan memeluk yang seperti itu, tapi...”
“tapi apa?”
“tapi...”aku menggigit bibir, memikirkan kata-kata yang pas. Hmm..tapi kok tidak ada ide sama sekali yaa? Okelah aku angkat bendera putih.
“tuh kan..kamu aja gak bisa jawab, meluk ya meluk pasti melingkarkan tangannya ke padamu kan?”
“tapi...dia banci...dia sepertinya tak nafsu juga pada wanita”
“bukankah itu sama ? jika aku dipeluk oleh seorang cewek tomboy ?”
“oh gitu??? Ya udah terserah kamu mau definisiin kayak gimana” aku mulai merasa hmmmff sabar...gak usah memperburuk masalah senja. Aku meyakinkan diriku sendiri. Aku bukan tipe orang yang mau menjelaskan panjangn lebar, toh nanti takkan ia mengerti keadaanku.
“oh besok aku mau ganti nomor ponsel, lagi bentar liburan mau jalan-jalan sekalian cari temen yaa sekedar buat have fun lah, tapi tenang aja. My heart just for you”
“oh bagus tuh..kenapa besok? Sekarang aja tuh diganti. Sekarang aja tuh cari teman buat have fun!!!” mood ku sudah hilang. Terserah...omong kosong cinta, setia, atau apalah nama istilah-istilah yang membuatku merasa makin hilang mood saja.
“ kamu marah?”
“nggak!!!”
“tuh kan kamu marah...nada bicaramu sudah berbeda dari setengah jam yang lalu. Tenang...aja Cuma temen kok...kamu gak usah khawatir. Aku sudah bilang. Aku Cuma sayangnnya sama kamu.”
“siapa yang marah??? Terserah kamu sih...mau cari temen kek, mau ngapain aja terserah kamu,,,sekalian aja pelukan atau whateverlah sama siapa aja maumu. Apa peduliku??!!!”
“kamu marah??? Bagaimana rasanya? Sakit kan? Gitu lah perasaan ku saat tiap kali kamu ceritain hal-hal yang pernah kamu lakuin disana. Sakit...sakiitt senja...aku baru saja menyebutkan rencanaku, kamu udah semarah itu, bagaimana jika aku benar-benar melakukannya? Dan kamu...aku hanya ingin satu hal. Dan itu hal kecil. Kamu gak mau lakuin. Katamu...aku adalah orang spesialmu. Tapi apa buktinya? Kalau udah marah gini..aku pasti aku yang minta maaf. Kamu nyadara gak? Kalo kamu salah..kamu gak pernah minta maaf sama aku. Selalu aku yang salah dan kamu yang benar. Aku tau, kita emang beda kamu cewek dan aku cowok. Hmm..dan sekarang, aku gak mau minta maaf.” Dia terdiam.
“udah???” aku benar-benar sudah tak mau berbicara lagi. Percuma, ya percuma. Rasanya yaa bagaimana yaa...memang aku ini barang? Jika tak setuju dengan apa yang aku lakukan, ya sudah pergi saja. Aku benar-benar merasa sudah...aargghh.
“aku tau apa yang kau lakukan bukan inginmu. Ya aku ngerti. Hmmm...ya aku memang cowok yang ingin semuanya harus perfectionist jadi jika ada yang kurang aku merasa rapuh. Hmm...kamu bisa pahami kan?”
“ oh gitu?!!!”
“ayolah senja...haruskah aku yang minta maaf?”
“siapa juga suruh kamu minta maaf?!!!” aku sudah benar-benar merasa terlukai. Dia berkali-kali mengatakan kata-kata romantis yang memang benar adanya. Bahkan ia menceritakan apapun yang bisa membuat mood ku kembali tapi aku yaah begitulah aku, paling tak senang dituduh yang tidak tidak, ya memang benar adanya tapi aku benar-benar merasa arghh mungkin semua cewek akan merasakan apa yang ku rasakan. Tak ada guna menjelaskan, aku aku...sudah benar-benar merasa ... ya hanya wanita yang tahu rasa ini.
“ baiklah...aku minta maaf. Aku memang salah...aku memang bodoh maksudku aku aku memang tak mengerti apa yang kau rasakan. Sekarang aku mohon kamu ngomong dong. Jangan diem gini, gimana aku bisa ngerti...kalo kamu gak mau ngomong sepatah kata pun?”
“ kamu tau..hah? kamu tahu...aku paling gak seneng dituduh yang nggak-enggak sama orang yang aku sayang...”
“baiklah...jadi kamu mau menjelaskan apa yang tidak aku mengerti?”
Aku benar-benar sudah tak ada gairah lagi untuk melakukan apa-apa. Yang kulakukan adalah duduk dan terdiam.
“ayolah...senja,,,”
“udah malem, aku mau tidur”
“please...jangan kayak gini dong, kita bisa ngomong baik-baik kan? Ayolah...”
“hmm aku ngantuk...aku mau tidur.”
“hmm...kamu bilang paling gak seneng dituduh yang nggak-enggak sama orang yang kamu sayang, sekarang aku juga mau kamu tahu...aku paling gak seneng saat orang yang paling aku sayangi tak mau menjelaskan kenapa ia marah padaku...”
“hmm terserah kamu dah...aku lagi males males banget!”
“aku udah minta maaf, aku udah berusaha buat kamu tersenyum lagi, mengembalikan mood mu lagi. Membuktikkan bahwa aku bener-bener sayang sama kamu, terus saja memikirkan mu. Jadi..ku mohon jangan kau tak acuhkan ku seperti ini. Bayangin aja rasanya jika kamu yang harus di posisi ku. Aku juga sakit sakitt rasanya, harus lelah mengharapkanmu. Tapi kamu selalu saja tak mengerti aku. Tiap aku mengatakan sayang padamu...aku merasa benar-benar deg-degan tiap kata itu ku ucapkan. Tapi kamu..sekalipun tak pernah mau menyatakan rasa itu. Apa sebenarnya yang membuatmu merasa tak bisa? Tak ada kan? Iya kan”
Aku benar-benar paling malas jika sudah pada suasana ini. Dan tahukah apa yang ku lakukan kawan? Ya aku hanya terdiam dan terdiam...seandainya kau tahu..aku mencintaimu juga dengan caraku. Bila mereka dengan mudahnya bisa. Maka aku berbeda. Dan kau tak perlu menyuruhku untuk menjadi dirimu juga agar ku bisa merasakan rasa sakit hatimu. Sungguh tak perlu! Kau sepertinya belum tahu...aku juga seorang cewek lemah ya...cewek kebanyakan...jika pun aku salah, ya aku tak mau disalahkan, tak mau diberondong dengan pertanyaan yang harusnya aku bisa jawab, tak mau dihakimi seperti ini. Ya...aku memang selama ini selalu berpura-pura tegar di depanmu, tapi di belakangmu...tak usah lah kau tahu toh tak penting juga bagimu.
“senja...senjaa...ngomong dong,,jangan diem gini,,hmm apa yang harus aku lakuin biar kamu mau maafin aku?oke ini memang bukan yang pertama kali aku melukai mu seperti ini, tapi bukankah kamu yang selalu bilang kalau aku harus jujur jika aku memiliki unek-unek ku tentang mu dan kamu akan menerima dengan baik kan? Tapi sekarang..aku ngomong kamu diemin aku kayak gini. Please...senyum lagi, aku bener-bener gak tenang liat kamu diemin aku kayak gini. Lebih baik kamu marah daripada harus diemin aku kayak gini...”
Percuma..percuma..kamu mau ngomong panjang lebar. Aku udah bener-bener coba sabar tiap kali harus bertengkar sama kamu. Sudahlah tak usah memaksa untuk mengerti keadaanku. Tak perlu. Aku memang jauh dari kesempurnaan yang kau inginkan. dan selamanya kau takkan mengerti itu. Jadi cukuplah sampai disini. Biar saja aku terluka. Toh aku bukan cewek cengeng yang sedikit-sedikit nangis, aku adalah cewek tegar. Toh aku juga sudah terbiasa terlukai seperti ini. Jadi tak perlu susah-susah mengkhawatrikan aku dengan apapun yang terjadi saat ini. Sungguh, aku tak apa-apa...
Sampai beberapa menit berlalu tak ada hasil, dia tetap berusaha melakukan apapun untuk mengembalikan senyum ku. Dan aku..tetap diam tak bergeming walaupun personel OVJ bahkan YKS kau datangkan. Aku tetap pada pendirianku, jadi sebenarnya aku mugkin memiliki bakat terpendam untuk menjadi pemenang peserta TAHAN TAWA di TransTV, ya bisa jadi!
“baiklah jika memang kamu tak mau juga memaafkan ku, lihat gedung berlantai 4 itu? Aku akan lompat dari atas sana.” Ia menunjukkan dengan sangat percaya diri, seakan-akan itu tak sulit dilakukan baginya.
 “oh...coba aja!” dia fikir ini film-film & novel-novel cengeng di Gramedia itu apa? Huh,,,aku tidak sebodoh itu untuk di bohongi..itu gaya lama. Dan sudah basi..yeah I knew that.
-----------------------------------------------------------------------------------------
Kulihat dia mulai bangkit dari duduknya. Meninggalkan jaket kulitnya yang berwarna krem di samping kursi panjang tempat ia duduk tadi, dan mulai berjalan agak berlari ke gedung tinggi itu. Aku diam saja. Sampai bayangannya hilang. Dan ponselku berbunyi...aku baru sadar ternyata dia hanya membawa ponselnya tadi.
“halo...senja...aku udah di mau sampai ke lantai 4...”benar ia sudah sampai disana, ku dengar derap langkahnya menaiki tangga(oh no! Jantungku rasanya berdenyut tak karuan)dan tak sampai beberapa detik kulihat seseorang memakai baju v-shirt putih dengan celana hitam yang agak terlipat sedikit sengaja karena tadi basah oleh rumput-rumput di sekitar bukit ini ya siapa lagi itu kalau bukan dia astagaaa dia benar-benar sudah kehilangan logikanya.
“halo..still there? Maafin aku ya, aku gak main-main..”
“oh ya??”
“aku serius”
“ya udah lompat aja!”
“yakin gak nyesel?”
“gak akan!!”
“okelah kalo gitu”dia mulai berjalan ke arah pinggir atap gedung itu. Ya bisa kulihat sedikit, tapi jika ia benar-benar lompat..sepertinya takkan terlihat karena setelah ia ke pinggir yang paling pinggir..aku sudah tak bisa melihatnya dengan jelas. Dan aku mulai khawatir
“kamu ngpain disana????” aku sudah tak bisa menyembunyikan rasa khawatirku yang tak terkendali.
“aku udah bilang kan...aku mau lompat dari lantai 4 ini, karena kamu gak maafin aku... sssshhh tut tut tut” kudengar hanya suara angin...Tuhaan, bangunkan aku jika ini hanya mimpi...
“kamu....” issshhhh...sial, dia gila benar-benar nekat... sekarang giliranku...cemas, takut, dan aargghh tak tahu apa yang harus ku lakukan. Sial sial...kenapa juga harus beneran ,ah aku tak percaya, aku mengirimi ia pesan “aku tahu, kau tak benar-benar melakukannya” 1 menit,2 3 4 5 tak ada jawaban. Ku kirimi ia pesan lagi “ gaya lama, udah basi,aku tahu kamu bohong!” 1 menit 2 3 4 5 6 oke oke...aku benar-benar tak bisa bersandiwara lagi, aku akhirnya menelponnya, “nomor yang anda tuju sedang tid...” isshhh menyebalkan...air mataku sudah menggenang di pelupuk mataku. Aku harus menghubungi siapa pun ya siapapun itu temannya...ku hubungi tak ada jawaban... sampai aku menyerah...benar-benar menyerah. Mungkin sebagian dari kalian akan melakukan apa yang ada dalam pikiranku..ya menyusulnya ke gedung itu untuk memastikan apa ia benar-benar melakukan hal bodoh bin gila itu. Tapi sebelum aku bangkit...aku mendengar suara deruan mobil ambulan dan kerumunan orang. Aku benar-benar syok, tubuhku gemetar...aku diam dan duduk lagi sambil melipat kaki ku memeluk lutut ku erat-erat dan membenamkan wajahku,,bukan bukan karena dingin nya udara tapi aku..aku...
“senja...”
Aku sempat mengangkat muka ku sebentar mendengar suara yang sangat ku kenali itu. Tapi...tidak tidak itu hanya halusinasi ku, aku yakin...itu mungkin itu karena rasa sayang dan rasa ketidakinginanku kehilangan dia.
“senja...kamu baik-baik aja kan?”aku menoleh ke belakang dengan hati-hati...takut melihat kenyataan bahwa sebenarnya tak ada orang. Dan ternyataa...ku lihat senyum yang selalu membuatku merasa nyaman di dekatnya.
“kamu...kamu...” aku benar-benar kehilangan kata-kata dibuatnya, aku aku ingin memeluknya memukul-mukul dadanya, aku benar-benar hampir merasa menyesal seumur hidupku. Tapi yang aku lakukan hanya hanya diam tak bergeming dan melemparinya dengan jaket kulit dan sepatu nya,,,
“maaf ya...aku minta maaf banget ,kamu mau maafin aku kan?” sempat-sempatnya ia tersenyum sambil memeluk erat jaketnya. Tak tahu bagaimana aku hampir frustasi dengan apa yang kulihat tadi.”kamu masih heran kan? Sini coba liat deh gedung yang tadi ku naiki. Kali ini aku benar-benar memperhatikan gedung bertingkat itu. Oh My Rabb... ternyata ini rumah sakit pantas saja ada ambulan tadi tepat dibawahnya dan kerumunan orang tadi...oh itu hal biasa jika ambulan baru datang di depan unit emergency. Dan akhirnya aku malu sendiri memertawakan kebodohanku sendiri.
“fajar...kamu jangan buat aku ketakutan kayak gitu lagi,,, aku bener-bener merasa takut takuutt banget kehilangan kamu. Kami duduk di kursi panjang tadi. Kulihat ia memperhatikanku menunduk.” Kamu nangis ??? yaelaah gak segitunya kali ah hahaha” sial ia masih saja bisa mencandaiku seperti itu.” Siapa yang nangis?? PD banget siih ditangisin!!”aku menjawab ketus
“tapi bener lho...aku memang tadi hampir bener-bener lompat...tapi kalo inget kamu bakalan nangis...aku urungkan niatku. Aku bener-bener sayang sama kamu senja,aku ingin kita bersama selalu bersama selamanya,,,jadi mau kan maafin aku?”
“iya..asalkan....”
“asalkan....”
“kamu gak usah ngelakuin hal-hal gila kayak tadi lagi...nanti siapa lagi yang akan menjadi fajar ku, shoulder to cry on ku,dan guardian angel ku?”
“insyaALLAH...yuk pulang udah malam banget nih aku juga ngantuk” ia mengulurkan tangannya...aku mau menolak tapi hatiku hmm di jalan setapak ini aku menggenggam erat tangannya melingkarkan di lengannya,dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Terimakasih ya Allah..telah kau kirimkan seseorang yang membuatku merasa tenang dan nyaman.



0 komentar:

Posting Komentar

 

Titin Agustina Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting