Rabu 25 desember 2013
Diketik 26 desember 2013 14.20 WITA to 18.00
WITA
Kali ini bukan malam-malam seperti sebelumnya. Bukan malam minggu
bukan pula malam jumat (apa hubungannya ya? Ah whatever). Kuberitahukan padamu
kawan...kau takkan percaya, yeah begitu pula denganku. Aku saja yang jadi
pemeran utama disini tak percaya dengan kejadian ini, ini benar-benar nyata,
tapi mungkin kalian yang tak pernah mengalami akan merasa bahwa kejadian ini
tak pernah terjadi yeah walaupun pernah entah itu dimana, ya aku juga pun
berfikir begitu secara gitu...hidup ini bukan a fairytale tapi aku bisa
menjamin bahwa kisah dibawah ini benar-benar terjadi hanya saja aku susah
menuliskan sesuai dengan apa yang aku temui di lapangan hahaha seperti
penelitian saja, tapi aku serius ini benar-benar terjadi. Hmm..tapi satu yang
jadi masalah, dimana kenyataan takkan mudah bersatu dengan khayalan, mungkin
sebagian dari kalian merasa ada yang salah (mbak...harusnya khayalan tak mudah
bersatu dengan kenyataan)oh tapi maaf kawan...maksudku tak seperti itu, yang ku
maksud disini adalah...dimana sebuah kenyataan harus bisa ku satukan dengan
khayalan. Ya benar, aku harus bisa menyatukan sebuah kisah realita dengan
sedikit khayalanku yeah! (Kenapa harus gitu? Kan bisa tuh sekali-kali tulis aja
realita nya,susah amat!) ya kau benar kawan...tapi jika ku tuliskan realitanya
maka ending kisah ini akan datar ya datar dan tak terlalu menarik. Aku juga
sebenarnya ingin menyempaikan lewat tulisanku ini bahwa betapa kenyataan itu
sulit sekali di satukan dengan apa yang ada di khayalan. Kisah ini insyaAllah
cocok dengan kawan-kawan yang dalam khayalannya menanti seseorang yang tepat
dalam idaman selama ini dan berharap menemukannya dalam dunia
nyata(aseeekkkk!!!). Tapi jika saat kau menemukannya tapi agak tak sesuai
dengan apa yang kau impikan selama ini, maka jangan sedih jangan kecewa,
bercerminlah apakah kekurangan dia lebih banyak daripada kekuranganmu? Hehehe
bukan maksud menggurui, tapi terkadang kita memang terlalu sibuk mencari
kesempurnaan sampai-sampai setiap kita menemukan kecacatan sedikit maka kita
merasa itu merupaka kesalah besar. Come on! Hidup itu gak selama nya diseriusin
kadang kita juga perlu merelaksasikan hidup ini(hehe kayak jantung aja di
relaksasiin). Oke..hehe maaf kebanyakan cuap-cuap nih dari tadi si penulis
bosen baca ya? Yayaya Jadi disini...tujuanku adalah untuk menghibur kalian,oleh
karena itu aku menaruh bumbu-bumbu khayalanku sedikit, jadi, jika saat membaca
kisah ini dan menemukan letak ketidaknyambungannya...pada saat itulah si
penulis mengerahkan sekuat tenaga untuk menyatukan 2 dunia tapi apa daya..sulit
sekali rasanyaL. Dan akhirnya setelah di aduk-aduk
(walaupun sebenarnya tak bisa bersatu okelah, semoga bisa dimengerti, kalaupun
tak bisa dimengerti, ngertiin aja ya susah amat!nah lho?hehe ntar ada garis
khatulistiwa eh ada garis underscot yang ngebatasin sebuah kerumitan
ketidakdapatnya menembus sebuah batas-batas ketidakmungkinan) dan..akhirnyaa
jadilah sebuah kisah menarik(mudah-mudahan aamiin ya Rabb). It’s ok! Kasi aku
waktu Tarik napas dulu sebentar. Hmmmfff
-__- bismillahirrahmanirrahiim
Malam itu...aku benar-benar jengkel, kecewa, nyesek, hmm ada yang
bisa memberikanku kosa kata untuk rasa ini?. Okelah tak apa...akan ku teruskan.
Dia..ya dia...aku heran mengapa dia selalu membuat hatiku tak karuan,
kehilangan kata-kata, dan kadang ingin jingkrak-jingkrak sendiri ups! Stop !
jangan terlalu terbawa suasana, bukan karena apa-apa tapi yaahh..pokonya tak
usah lah, aku yakin jika kamu terbawa suasana maka semua akan terlihat seperti
love story hueekk, novel cengeng dan lagu-lagu galau overperasaan itu. Well,
jujur aku memang suka semuanya, tapi entah kenapa, akhir-akhir ini aku merasa
tak suka lagi mengkhayal. Aku lebih senang segala sesuatu yang realistis!!!
Bosan aja menghayal tidak karuan dan akhirnya aku takkan siap rasanya saat aku
harus terhempas ke bumi saat aku merasakan terbang ke awang-awang.
“ video call yuk!”. “nggak!!!” aku menolak
tegas. Yaa sudah ku bilang, aku ingin yang realistis, gak mau yang dunia maya. Dia
adalah teman chatting ku selama setahun lebih ini, ya it’s like LDR. Dia merasa
aku berlaku tak adil. “ kenapa teman-temanmu bebas melihat wajahmu, sedangkan
aku tidak? Mengapa ia bisa memegang tanganmu ? menatap mu lama-lama? Memijit?
Memeluk? Hey STOP !STOP! apa-apaan nih? Aku paling tidak senang di tuduh yang
tidak-tidak emm maksudku memang tapi itu benar. Tapi sungguh, aku tak suka jika
sudah seperti ini, calm down...senja, “tunggu...tunggu...maksud ku bukan
memeluk yang seperti itu, tapi...”
“tapi apa?”
“tapi...”aku menggigit bibir, memikirkan
kata-kata yang pas. Hmm..tapi kok tidak ada ide sama sekali yaa? Okelah aku
angkat bendera putih.
“tuh kan..kamu aja gak bisa jawab, meluk ya
meluk pasti melingkarkan tangannya ke padamu kan?”
“tapi...dia banci...dia sepertinya tak nafsu
juga pada wanita”
“bukankah itu sama ? jika aku dipeluk oleh
seorang cewek tomboy ?”
“oh gitu??? Ya udah terserah kamu mau
definisiin kayak gimana” aku mulai merasa hmmmff sabar...gak usah memperburuk
masalah senja. Aku meyakinkan diriku sendiri. Aku bukan tipe orang yang mau
menjelaskan panjangn lebar, toh nanti takkan ia mengerti keadaanku.
“oh besok aku mau ganti nomor ponsel, lagi
bentar liburan mau jalan-jalan sekalian cari temen yaa sekedar buat have fun
lah, tapi tenang aja. My heart just for you”
“oh bagus tuh..kenapa besok? Sekarang aja tuh
diganti. Sekarang aja tuh cari teman buat have fun!!!” mood ku sudah hilang.
Terserah...omong kosong cinta, setia, atau apalah nama istilah-istilah yang
membuatku merasa makin hilang mood saja.
“ kamu marah?”
“nggak!!!”
“tuh kan kamu marah...nada bicaramu sudah
berbeda dari setengah jam yang lalu. Tenang...aja Cuma temen kok...kamu gak
usah khawatir. Aku sudah bilang. Aku Cuma sayangnnya sama kamu.”
“siapa yang marah??? Terserah kamu sih...mau
cari temen kek, mau ngapain aja terserah kamu,,,sekalian aja pelukan atau
whateverlah sama siapa aja maumu. Apa peduliku??!!!”
“kamu marah??? Bagaimana rasanya? Sakit kan?
Gitu lah perasaan ku saat tiap kali kamu ceritain hal-hal yang pernah kamu
lakuin disana. Sakit...sakiitt senja...aku baru saja menyebutkan rencanaku,
kamu udah semarah itu, bagaimana jika aku benar-benar melakukannya? Dan
kamu...aku hanya ingin satu hal. Dan itu hal kecil. Kamu gak mau lakuin. Katamu...aku
adalah orang spesialmu. Tapi apa buktinya? Kalau udah marah gini..aku pasti aku
yang minta maaf. Kamu nyadara gak? Kalo kamu salah..kamu gak pernah minta maaf
sama aku. Selalu aku yang salah dan kamu yang benar. Aku tau, kita emang beda
kamu cewek dan aku cowok. Hmm..dan sekarang, aku gak mau minta maaf.” Dia
terdiam.
“udah???” aku benar-benar sudah tak mau
berbicara lagi. Percuma, ya percuma. Rasanya yaa bagaimana yaa...memang aku ini
barang? Jika tak setuju dengan apa yang aku lakukan, ya sudah pergi saja. Aku
benar-benar merasa sudah...aargghh.
“aku tau apa yang kau lakukan bukan inginmu. Ya
aku ngerti. Hmmm...ya aku memang cowok yang ingin semuanya harus perfectionist
jadi jika ada yang kurang aku merasa rapuh. Hmm...kamu bisa pahami kan?”
“ oh gitu?!!!”
“ayolah senja...haruskah aku yang minta maaf?”
“siapa juga suruh kamu minta maaf?!!!” aku
sudah benar-benar merasa terlukai. Dia berkali-kali mengatakan kata-kata
romantis yang memang benar adanya. Bahkan ia menceritakan apapun yang bisa
membuat mood ku kembali tapi aku yaah begitulah aku, paling tak senang dituduh
yang tidak tidak, ya memang benar adanya tapi aku benar-benar merasa arghh
mungkin semua cewek akan merasakan apa yang ku rasakan. Tak ada guna
menjelaskan, aku aku...sudah benar-benar merasa ... ya hanya wanita yang tahu
rasa ini.
“ baiklah...aku minta maaf. Aku memang salah...aku
memang bodoh maksudku aku aku memang tak mengerti apa yang kau rasakan.
Sekarang aku mohon kamu ngomong dong. Jangan diem gini, gimana aku bisa
ngerti...kalo kamu gak mau ngomong sepatah kata pun?”
“ kamu tau..hah? kamu tahu...aku paling gak
seneng dituduh yang nggak-enggak sama orang yang aku sayang...”
“baiklah...jadi kamu mau menjelaskan apa yang
tidak aku mengerti?”
Aku benar-benar
sudah tak ada gairah lagi untuk melakukan apa-apa. Yang kulakukan adalah duduk
dan terdiam.
“ayolah...senja,,,”
“udah malem, aku mau tidur”
“please...jangan kayak gini dong, kita bisa
ngomong baik-baik kan? Ayolah...”
“hmm aku ngantuk...aku mau tidur.”
“hmm...kamu bilang paling gak seneng dituduh
yang nggak-enggak sama orang yang kamu sayang, sekarang aku juga mau kamu tahu...aku
paling gak seneng saat orang yang paling aku sayangi tak mau menjelaskan kenapa
ia marah padaku...”
“hmm terserah kamu dah...aku lagi males males
banget!”
“aku udah minta maaf, aku udah berusaha buat
kamu tersenyum lagi, mengembalikan mood mu lagi. Membuktikkan bahwa aku
bener-bener sayang sama kamu, terus saja memikirkan mu. Jadi..ku mohon jangan
kau tak acuhkan ku seperti ini. Bayangin aja rasanya jika kamu yang harus di
posisi ku. Aku juga sakit sakitt rasanya, harus lelah mengharapkanmu. Tapi kamu
selalu saja tak mengerti aku. Tiap aku mengatakan sayang padamu...aku merasa
benar-benar deg-degan tiap kata itu ku ucapkan. Tapi kamu..sekalipun tak pernah
mau menyatakan rasa itu. Apa sebenarnya yang membuatmu merasa tak bisa? Tak ada
kan? Iya kan”
Aku benar-benar
paling malas jika sudah pada suasana ini. Dan tahukah apa yang ku lakukan
kawan? Ya aku hanya terdiam dan terdiam...seandainya kau tahu..aku mencintaimu
juga dengan caraku. Bila mereka dengan mudahnya bisa. Maka aku berbeda. Dan kau
tak perlu menyuruhku untuk menjadi dirimu juga agar ku bisa merasakan rasa
sakit hatimu. Sungguh tak perlu! Kau sepertinya belum tahu...aku juga seorang
cewek lemah ya...cewek kebanyakan...jika pun aku salah, ya aku tak mau
disalahkan, tak mau diberondong dengan pertanyaan yang harusnya aku bisa jawab,
tak mau dihakimi seperti ini. Ya...aku memang selama ini selalu berpura-pura
tegar di depanmu, tapi di belakangmu...tak usah lah kau tahu toh tak penting
juga bagimu.
“senja...senjaa...ngomong dong,,jangan diem
gini,,hmm apa yang harus aku lakuin biar kamu mau maafin aku?oke ini memang
bukan yang pertama kali aku melukai mu seperti ini, tapi bukankah kamu yang
selalu bilang kalau aku harus jujur jika aku memiliki unek-unek ku tentang mu
dan kamu akan menerima dengan baik kan? Tapi sekarang..aku ngomong kamu diemin
aku kayak gini. Please...senyum lagi, aku bener-bener gak tenang liat kamu
diemin aku kayak gini. Lebih baik kamu marah daripada harus diemin aku kayak
gini...”
Percuma..percuma..kamu
mau ngomong panjang lebar. Aku udah bener-bener coba sabar tiap kali harus
bertengkar sama kamu. Sudahlah tak usah memaksa untuk mengerti keadaanku. Tak
perlu. Aku memang jauh dari kesempurnaan yang kau inginkan. dan selamanya kau
takkan mengerti itu. Jadi cukuplah sampai disini. Biar saja aku terluka. Toh
aku bukan cewek cengeng yang sedikit-sedikit nangis, aku adalah cewek tegar.
Toh aku juga sudah terbiasa terlukai seperti ini. Jadi tak perlu susah-susah
mengkhawatrikan aku dengan apapun yang terjadi saat ini. Sungguh, aku tak apa-apa...
Sampai beberapa
menit berlalu tak ada hasil, dia tetap berusaha melakukan apapun untuk
mengembalikan senyum ku. Dan aku..tetap diam tak bergeming walaupun personel OVJ
bahkan YKS kau datangkan. Aku tetap pada pendirianku, jadi sebenarnya aku mugkin
memiliki bakat terpendam untuk menjadi pemenang peserta TAHAN TAWA di TransTV,
ya bisa jadi!
“baiklah jika memang kamu tak mau juga memaafkan
ku, lihat gedung berlantai 4 itu? Aku akan lompat dari atas sana.” Ia
menunjukkan dengan sangat percaya diri, seakan-akan itu tak sulit dilakukan
baginya.
“oh...coba
aja!” dia fikir ini film-film & novel-novel cengeng di Gramedia itu apa?
Huh,,,aku tidak sebodoh itu untuk di bohongi..itu gaya lama. Dan sudah
basi..yeah I knew that.
-----------------------------------------------------------------------------------------
Kulihat dia mulai
bangkit dari duduknya. Meninggalkan jaket kulitnya yang berwarna krem di
samping kursi panjang tempat ia duduk tadi, dan mulai berjalan agak berlari ke
gedung tinggi itu. Aku diam saja. Sampai bayangannya hilang. Dan ponselku
berbunyi...aku baru sadar ternyata dia hanya membawa ponselnya tadi.
“halo...senja...aku udah di mau sampai ke
lantai 4...”benar ia sudah sampai disana, ku dengar derap langkahnya menaiki
tangga(oh no! Jantungku rasanya berdenyut tak karuan)dan tak sampai beberapa
detik kulihat seseorang memakai baju v-shirt putih dengan celana hitam yang
agak terlipat sedikit sengaja karena tadi basah oleh rumput-rumput di sekitar
bukit ini ya siapa lagi itu kalau bukan dia astagaaa dia benar-benar sudah
kehilangan logikanya.
“halo..still there? Maafin aku ya, aku gak
main-main..”
“oh ya??”
“aku serius”
“ya udah lompat aja!”
“yakin gak nyesel?”
“gak akan!!”
“okelah kalo gitu”dia mulai berjalan ke arah
pinggir atap gedung itu. Ya bisa kulihat sedikit, tapi jika ia benar-benar
lompat..sepertinya takkan terlihat karena setelah ia ke pinggir yang paling
pinggir..aku sudah tak bisa melihatnya dengan jelas. Dan aku mulai khawatir
“kamu ngpain disana????” aku sudah tak bisa
menyembunyikan rasa khawatirku yang tak terkendali.
“aku udah bilang kan...aku mau lompat dari
lantai 4 ini, karena kamu gak maafin aku... sssshhh tut tut tut” kudengar hanya
suara angin...Tuhaan, bangunkan aku jika ini hanya mimpi...
“kamu....” issshhhh...sial, dia gila
benar-benar nekat... sekarang giliranku...cemas, takut, dan aargghh tak tahu
apa yang harus ku lakukan. Sial sial...kenapa juga harus beneran ,ah aku tak
percaya, aku mengirimi ia pesan “aku tahu, kau tak benar-benar melakukannya” 1
menit,2 3 4 5 tak ada jawaban. Ku kirimi ia pesan lagi “ gaya lama, udah
basi,aku tahu kamu bohong!” 1 menit 2 3 4 5 6 oke oke...aku benar-benar tak
bisa bersandiwara lagi, aku akhirnya menelponnya, “nomor yang anda tuju sedang
tid...” isshhh menyebalkan...air mataku sudah menggenang di pelupuk mataku. Aku
harus menghubungi siapa pun ya siapapun itu temannya...ku hubungi tak ada
jawaban... sampai aku menyerah...benar-benar menyerah. Mungkin sebagian dari
kalian akan melakukan apa yang ada dalam pikiranku..ya menyusulnya ke gedung
itu untuk memastikan apa ia benar-benar melakukan hal bodoh bin gila itu. Tapi
sebelum aku bangkit...aku mendengar suara deruan mobil ambulan dan kerumunan
orang. Aku benar-benar syok, tubuhku gemetar...aku diam dan duduk lagi sambil
melipat kaki ku memeluk lutut ku erat-erat dan membenamkan wajahku,,bukan bukan
karena dingin nya udara tapi aku..aku...
“senja...”
Aku sempat
mengangkat muka ku sebentar mendengar suara yang sangat ku kenali itu.
Tapi...tidak tidak itu hanya halusinasi ku, aku yakin...itu mungkin itu karena
rasa sayang dan rasa ketidakinginanku kehilangan dia.
“senja...kamu baik-baik aja kan?”aku menoleh ke
belakang dengan hati-hati...takut melihat kenyataan bahwa sebenarnya tak ada
orang. Dan ternyataa...ku lihat senyum yang selalu membuatku merasa nyaman di
dekatnya.
“kamu...kamu...” aku benar-benar kehilangan
kata-kata dibuatnya, aku aku ingin memeluknya memukul-mukul dadanya, aku
benar-benar hampir merasa menyesal seumur hidupku. Tapi yang aku lakukan hanya
hanya diam tak bergeming dan melemparinya dengan jaket kulit dan sepatu nya,,,
“maaf ya...aku minta maaf banget ,kamu mau
maafin aku kan?” sempat-sempatnya ia tersenyum sambil memeluk erat jaketnya.
Tak tahu bagaimana aku hampir frustasi dengan apa yang kulihat tadi.”kamu masih
heran kan? Sini coba liat deh gedung yang tadi ku naiki. Kali ini aku
benar-benar memperhatikan gedung bertingkat itu. Oh My Rabb... ternyata ini
rumah sakit pantas saja ada ambulan tadi tepat dibawahnya dan kerumunan orang
tadi...oh itu hal biasa jika ambulan baru datang di depan unit emergency. Dan
akhirnya aku malu sendiri memertawakan kebodohanku sendiri.
“fajar...kamu jangan buat aku ketakutan kayak
gitu lagi,,, aku bener-bener merasa takut takuutt banget kehilangan kamu. Kami
duduk di kursi panjang tadi. Kulihat ia memperhatikanku menunduk.” Kamu nangis
??? yaelaah gak segitunya kali ah hahaha” sial ia masih saja bisa mencandaiku
seperti itu.” Siapa yang nangis?? PD banget siih ditangisin!!”aku menjawab
ketus
“tapi bener lho...aku memang tadi hampir
bener-bener lompat...tapi kalo inget kamu bakalan nangis...aku urungkan niatku.
Aku bener-bener sayang sama kamu senja,aku ingin kita bersama selalu bersama
selamanya,,,jadi mau kan maafin aku?”
“iya..asalkan....”
“asalkan....”
“kamu gak usah ngelakuin hal-hal gila kayak
tadi lagi...nanti siapa lagi yang akan menjadi fajar ku, shoulder to cry on
ku,dan guardian angel ku?”
“insyaALLAH...yuk pulang udah malam banget nih
aku juga ngantuk” ia mengulurkan tangannya...aku mau menolak tapi hatiku hmm di
jalan setapak ini aku menggenggam erat tangannya melingkarkan di lengannya,dan
menyandarkan kepalaku di bahunya. Terimakasih ya Allah..telah kau kirimkan
seseorang yang membuatku merasa tenang dan nyaman.

0 komentar:
Posting Komentar