Permataku
Album :
Munsyid : Mirwana
http://liriknasyid.com
Munsyid : Mirwana
http://liriknasyid.com
Sunyi...selubungi malam...
Mengusik minda yang terlontar jauh...
Masih hangat terasa ...
Tangan yang membelai yang mengusik manja...
Daku damba kasihmu...
Biar jadi pedoman...
Buat penyuluh jalan kugapai impian...
Angin...kau nyanyikan lagu...
Untuk permataku...tenang selalu...
Bayu...sampaikan berita...
Daku kini ceria...aman dan bahgia...
Selimutkan rinduku bersama malammu...
Hadirlah...kau dalam mimpiku...
Agar kau selalu...ada disisiku...
Rindu belaian kasihmu...Rindu senyumanmu...
Penawar lukaku...
Dengarkan laguku...hadiah untukmu...
Jasa dan baktimu ku kenang selamanya...
Dikaulah cahaya...
Bila malam menjelma...
Kasihmu membawa ke syurga...
Dan redha yang Esa.
Senin,9 februari 2014 dari saat sang fajar menyingsing sampai
muncul guratan warna senja
Ku
katakan pada langit
Aku
tidak sedih
Tapi
ia tetap menggemuruhkan suaranya
Ku
katakan pada hujan
Aku
tidak menangis
Tapi
ia tetap menurunkan rinai-rinainya
Aku
bertanya,kenapa?
Karena
kau istimewa
-----------------------------------------------------------------
Aku
berjalan menapaki bumi
Mengagumi
setiap tingkah laku manusia
Tentu
saja ini adalah hal yang baru
Aku
baru saja turun ke bumi
Meninggalkan
kayangan
Sampai
aku lupa bagaimana caranya kembali
Aneh...
Dasar
bidadari aneh!
-------------------------------------------------------------
Sudah
ku bilang
Aku
tidak butuh sayap
Karena
itu hanya akan memberatkan ku
Sampai
hari itu
Hari
aku turun ke bumi
Hari
dimana aku begitu gembira
Hari pertama
aku bertemunya
Hari
saat ku tak ingin kembali ke kayangan
Dan
tak sadar
Ia
telah mematahkan sayapku
------------------------------------------------------------------------
Aku
tidak boleh mencintainya
Tidak
boleh!
Ini
bukan waktunya
Aku
harus kembali sebelum terlambat
Sebelum
ia berhasil mencuri hatiku
Membawa
hatiku pergi
Dan
tak menyisakan sedikitpun
Lalu
aku menoleh
Melihat
mata yang penuh cinta itu
Lalu
aku tak sadar lagi
Mati
rasa....
----------------------------------------------------
Malam itu
aku sadar
Cukup!
Tak boleh lebih
Menatap
mata itu
Bagai
menenggelamkan diri dalam samudra cinta
Sedangkan
kau tak pandai berenang
Itu
sama saja dengan
Membiarkan
dirimu
Tenggelam
didalamnya
------------------------------------------------------------
Aku
pernah berharap
‘kan
bertemu dengan seseorang
Yang
menampakkan cerminanku
Tapi
aku lupa mengatakan pada Tuhan
Jangan
lelaki!
Jangan
sekarang!
-------------------------------------------------------------
Dulu...
Aku
tak tahu
Hati
ini akan kulabuhkan kemana
Tapi
saat aku melihat dermaga
Yang
begitu mengagumkan
Meneriaki
ku ‘tuk cepat-cepat berlabuh
Aku
ingin menyurutkan kapalku
Aku
belum memiliki simpul tali yang kuat untuk mengaitkan kapalku
-------------------------------------------------------------------------------------------
Hari
ini ...
Aku
sangat bahagia
Tersenyum
sendiri...
Menyusuri
rerumputan
Menapaki
jalan
Sampai
ku temukan pohon rindang
Ingin
ku katakan padanya
Pada
rumput...
Pada
pohon...
Pada
angin....
Pada
langit...
Pada
semua...
Bahwa aku
sedang JATUH CINTA
----------------------------------------------------------
Salahkah
...
jika
aku ingin ditemaninya?
Walau
sepenuhnya ia bukan milikku
Salahkah....
Jika
aku mengungkapkan rasaku?
Walau
sebenarnya ini tak wajar
Salahkah...
Jika
aku mengatakan bahwa aku membutuhkannya?
Walau
sebenarnya aku tahu ini berlebihan
Salahkah...
Jika
aku mengungkapkan semuanya?
Begitu
mencintainya...
Begitu
merindukannya...
Begitu
membutuhkannya...
Aku
memilih diam
Walau
lisan dan hatiku tak sejalan
Tak
usah!
Ya ,
tak usah!
Aku
tahu dan aku mengerti
Aku
tahu jawabannya...
------------------------------------------------------------
Kau
adalah cerminan diriku
Kau
adalah bagian dari diriku
Begitu
katanya
Ya,akupun
merasakannya
Hanya
saja...ada bagian yang ia lupakan
Bagian
yang tak ia sadari
Sepotong
kata hati yang tak pernah bisa ku ungkapkan
Tapi
tak apalah...
Aku
yang harusnya paham
Bahwa
hati ini butuh istirahat
---------------------------------------------------------------------
Kau
tak perlu berfikir....
Tak
perlu memahami...
Tak
perlu melihat....
Cukup
dengarkan isyarat hatiku
Aku
menyayangimu dan membutuhkanmu disampingku
------------------------------------------------------------------------------
Ku
katakan pada angin
Aku
ingin mendengar suaranya
Tapi
angin tak mengacuhkanku
Kukatakan
pada awan yang berarak
Aku
mencintainya
Tapi awan
tak bergeming
Kukatakan
pada hujan
Aku
merindukannya
Tapi
hujan tak menghiraukanku
Lalu
ku dongakkan kepala
Menatap
sang cakrawala
Kukatakan
bahwa aku membutuhkannya
Tapi
ia juga tak mendengar
Akhirnya
ku benamkan wajah ini
Ku
bisikkan pada sang fajar
Maafkan
aku
Jikaku
terlalu mencintaimu...
----------------------------------------------------------------
Part I
Aku
menantikan malam ini
Sangat....
Aku
ingin menikmati tawanya
Menikmati
setiap bait kata yang ia ucapkan
Yang
selalu menjadi penawar lukaku
Menikmati
cintanya,kasihnya,dan perasaan rindunya
Maka
ku bisikkan pada sang rembulan
Ku
titipkan salam untuknya
Kuperintahkan
pada bintang-bintang
Agar
ia tetap memancarkan sinarnya
Ku
singkap awan kelabu
Agar
aku bisa menikmati
Indah
cahaya matanya saat menatapku
Tapi
aku lupa memberitahukan pada sang waktu
Untuk
menghentikan langkahnya
Ya, ku
kira sang waktu dapat membaca jerit hatiku
Sudahlah
! tak apa-apa
---------------------------------------------------------------------
Part II
Jika
langit tak dapat mendengarkanku
Dan
angin bahkan tak tak mampu menyampaikan rinduku
Bahkan
sang waktu pun tak mau berpihak padaku
Baiklah!
Setidaknya
pena ini dapat menggoreskan
Pada secarik
kertas
Rasa
rindu ini
dalam
tiap goresan kata
---------------------------------------------------------------------
Part III
Kini...
Sunyi
menyelubungi malam
Sang
rembulan mencoba mengihburku
Ku
katakan ,
Tak
perlu!
Sungguh,aku
baik-baik saja!
Ku utus
langit untuk menyanyikan lagu pada permataku
Bayu....sampaikan
berita padanya
Bahwa
aku baik-baik saja
------------------------------------------------------------------------------------
Malam
itu ku putuskan tuk habiskan waktu untuk berdialog dengan langit.
Langit
“mengapa
tak kau ungkapkan saja?”
Aku
“kau
lebih tahu aku daripada diriku sendiri”
Langit
“kenapa
tak kau titipkan pada udara?pada angin agar ia bisa menyadari rasa rindumu? ”
Aku
“aku
tak ingin memberatkannya dengan ada ku dan tak ingin membebaninya dengan rasa
rinduku”
Langit
“aku
tidak setuju!!!”
Aku
“mengapa?”
Langit
“harusnya
kau hentikan langkahnya dan katakan padanya bahwa kau ingin ditemani olehnya
malam ini....atau aku yang harus menyampaikan padanya?”
Aku
“tidak,
terimakasih! Tapi menurutku kau tak perlu melakukan hal itu, langit. Aku adalah
wanita dan aku...”
Langit
“tapi
aku tak senang melihat senyumanmu hilang hanya dengan rasa yang kau pendam itu,
akan kukatakan padanya malam ini!
Aku
“tunggu...!
kau belum mengerti. Ada hal yang mungkin mudah untuk kau pahami tapi sulit
untuk ku terima...”
Langit
“aku
tak peduli. Dia harus tahu!”
Aku
“dengarkan
aku...! hati ini butuh istirahat....”
Langit
“hatimu?
Atau hatinya?”
Aku
“hati
kami...”
langit
terdiam bukan tak mengerti,
bukan
tak memahami arti perkataanku.
Tapi
ia sedang berfikir.
Aku
tahu itu.
Ku
benamkan wajahku
agar
langit tak melihat air
yang
menggenang di pelupuk mataku.
Ku
biarkan angin menyanyikan lagu untuk mengisi kesunyian ini.
Kubiarkan
malam menyelimuti rinduku
Lalu kudengar
langit membisikkan kata”sambutlah sang fajar dengan senyuman, aku tak mau
melihat diriku memendungkan warna di hari barumu”
Tapi
esoknya kulihat langit mendung
Sudah
ku bilang
Ia
lebih tahu aku
Daripada
diriku sendiri
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dear langit,
Kau tahu?
Manusia tak peka itu
Telah
membuatku jatuh cinta padanya
Mengahayalkannya...memimpikan
dalam dekapannya
Dear langit,
Ia tak pernah tahu
Betapa istimewanya ia dihatiku
Ia tak pernah sadar
Betapa sering aku
memikirkannya
Ia membuatku hampir tak bisa
bernapas
Dear langit,
Jika cinta kami adalah cerita
dalam sebuah buku
Kami akan bertemu di halaman
paling awal
dan halaman paling akhir
kan tertulis...
betapa ku bersyukur dengan
hidup yang kami lalui bersama
Dear langit,
Ia mungkin berasal dari surga
yang dikirim ke bumi
untukku, hanya untukku
ugh! Dia bak malaikat tak
bersayap
Dear langit,
aku benar-benar terpukau
mungkin 1000 malam tak cukup
untukku menceritakan
tentangnya padamu
mungkin segudang kertas dan
berliter-liter tinta
tak cukup untukku menulis
semua rasa yang telah ia
tumbuhkan di hati ini
--------------------------------------------------------------------------
mawar itu...
harusnya aku tak
menciumi wanginya
jika saja aku kan
tahu akibatnya seperti ini
bahkan aku curiga,jika
kemana-mana wanginya selalu membayangiku..
jangan-jangan
mawar ini mawar ajaib!!!
Wanginya membawa
kerinduan
Oh sebentar lagi aku bisa
gila olehnya
0 komentar:
Posting Komentar