Senin, 10 Maret 2014

it's always been you

Diposting oleh Unknown di 19.19
Permataku
Album :
Munsyid : Mirwana
http://liriknasyid.com

Sunyi...selubungi malam...
Mengusik minda yang terlontar jauh...
Masih hangat terasa ...
Tangan yang membelai yang mengusik manja...
Daku damba kasihmu...
Biar jadi pedoman...
Buat penyuluh jalan kugapai impian...
Angin...kau nyanyikan lagu...
Untuk permataku...tenang selalu...
Bayu...sampaikan berita...
Daku kini ceria...aman dan bahgia...
Selimutkan rinduku bersama malammu...
Hadirlah...kau dalam mimpiku...
Agar kau selalu...ada disisiku...
Rindu belaian kasihmu...Rindu senyumanmu...
Penawar lukaku...
Dengarkan laguku...hadiah untukmu...
Jasa dan baktimu ku kenang selamanya...
Dikaulah cahaya...
Bila malam menjelma...
Kasihmu membawa ke syurga...
Dan redha yang Esa.

Senin,9 februari 2014 dari saat sang fajar menyingsing sampai muncul guratan warna senja
Ku katakan pada langit
Aku tidak sedih
Tapi ia tetap menggemuruhkan suaranya
Ku katakan pada hujan
Aku tidak menangis
Tapi ia tetap menurunkan rinai-rinainya
Aku bertanya,kenapa?
Karena kau istimewa
-----------------------------------------------------------------

Aku berjalan menapaki bumi
Mengagumi setiap tingkah laku manusia
Tentu saja ini adalah hal yang baru
Aku baru saja turun ke bumi
Meninggalkan kayangan
Sampai aku lupa bagaimana caranya kembali
Aneh...
Dasar bidadari aneh!
-------------------------------------------------------------
Sudah ku bilang
Aku tidak butuh sayap
Karena itu hanya akan memberatkan ku
Sampai hari itu
Hari aku turun ke bumi
Hari dimana aku begitu gembira
Hari pertama aku bertemunya
Hari saat ku tak ingin kembali ke kayangan
Dan tak sadar
Ia telah mematahkan sayapku
------------------------------------------------------------------------
Aku tidak boleh mencintainya
Tidak boleh!
Ini bukan waktunya
Aku harus kembali sebelum terlambat
Sebelum ia berhasil mencuri hatiku
Membawa hatiku pergi
Dan tak menyisakan sedikitpun
Lalu aku menoleh
Melihat mata yang penuh cinta itu
Lalu aku tak sadar lagi
Mati rasa....
----------------------------------------------------
Malam itu aku sadar
Cukup! Tak boleh lebih
Menatap mata itu
Bagai menenggelamkan diri dalam samudra cinta
Sedangkan kau tak pandai berenang
Itu sama saja dengan
Membiarkan dirimu
Tenggelam didalamnya
------------------------------------------------------------
Aku pernah berharap
‘kan bertemu dengan seseorang
Yang menampakkan cerminanku
Tapi aku lupa mengatakan pada Tuhan
Jangan lelaki!
Jangan sekarang!
-------------------------------------------------------------
Dulu...
Aku tak tahu
Hati ini akan kulabuhkan kemana
Tapi saat aku melihat dermaga
Yang begitu mengagumkan
Meneriaki ku ‘tuk cepat-cepat berlabuh
Aku ingin menyurutkan kapalku
Aku belum memiliki simpul tali yang kuat untuk mengaitkan kapalku
-------------------------------------------------------------------------------------------
Hari ini ...
Aku sangat bahagia
Tersenyum sendiri...
Menyusuri rerumputan
Menapaki jalan
Sampai ku temukan pohon rindang
Ingin ku katakan padanya
Pada rumput...
Pada pohon...
Pada angin....
Pada langit...
Pada semua...
Bahwa aku sedang JATUH CINTA
----------------------------------------------------------
Salahkah ...
jika aku ingin ditemaninya?
Walau sepenuhnya ia bukan milikku
Salahkah....
Jika aku mengungkapkan rasaku?
Walau sebenarnya ini tak wajar
Salahkah...
Jika aku mengatakan bahwa aku membutuhkannya?
Walau sebenarnya aku tahu ini berlebihan
Salahkah...
Jika aku mengungkapkan semuanya?
Begitu mencintainya...
Begitu merindukannya...
Begitu membutuhkannya...
Aku memilih diam
Walau lisan dan hatiku tak sejalan
Tak usah!
Ya , tak usah!
Aku tahu dan aku mengerti
Aku tahu jawabannya...
------------------------------------------------------------
Kau adalah cerminan diriku
Kau adalah bagian dari diriku
Begitu katanya
Ya,akupun merasakannya
Hanya saja...ada bagian yang ia lupakan
Bagian yang tak ia sadari
Sepotong kata hati yang tak pernah bisa ku ungkapkan
Tapi tak apalah...
Aku yang harusnya paham
Bahwa hati ini butuh istirahat
---------------------------------------------------------------------
Kau tak perlu berfikir....
Tak perlu memahami...
Tak perlu melihat....
Cukup dengarkan isyarat hatiku
Aku menyayangimu dan membutuhkanmu disampingku
------------------------------------------------------------------------------
Ku katakan pada angin
Aku ingin mendengar suaranya
Tapi angin tak mengacuhkanku
Kukatakan pada awan yang berarak
Aku mencintainya
Tapi awan tak bergeming
Kukatakan pada hujan
Aku merindukannya
Tapi hujan tak menghiraukanku
Lalu ku dongakkan kepala
Menatap sang cakrawala
Kukatakan bahwa aku membutuhkannya
Tapi ia juga tak mendengar
Akhirnya ku benamkan wajah ini
Ku bisikkan pada sang fajar
Maafkan aku
Jikaku terlalu mencintaimu...
----------------------------------------------------------------
Part I
Aku menantikan malam ini
Sangat....
Aku ingin menikmati tawanya
Menikmati setiap bait kata yang ia ucapkan
Yang selalu menjadi penawar lukaku
Menikmati cintanya,kasihnya,dan perasaan rindunya
Maka ku bisikkan pada sang rembulan
Ku titipkan salam untuknya
Kuperintahkan pada bintang-bintang
Agar ia tetap memancarkan sinarnya
Ku singkap awan kelabu
Agar aku bisa menikmati
Indah cahaya matanya saat menatapku
Tapi aku lupa memberitahukan pada sang waktu
Untuk menghentikan langkahnya
Ya, ku kira sang waktu dapat membaca jerit hatiku
Sudahlah ! tak apa-apa
---------------------------------------------------------------------
Part II
Jika langit tak dapat mendengarkanku
Dan angin bahkan tak tak mampu menyampaikan rinduku
Bahkan sang waktu pun tak mau berpihak padaku
Baiklah!
Setidaknya pena ini dapat menggoreskan
Pada secarik kertas
Rasa rindu ini
dalam tiap goresan kata
---------------------------------------------------------------------
Part III
Kini...
Sunyi menyelubungi malam
Sang rembulan mencoba mengihburku
Ku katakan ,
Tak perlu!
Sungguh,aku baik-baik saja!
Ku utus langit untuk menyanyikan lagu pada permataku
Bayu....sampaikan berita padanya
Bahwa aku baik-baik saja
------------------------------------------------------------------------------------
Malam itu ku putuskan tuk habiskan waktu untuk berdialog dengan langit.
Langit
“mengapa tak kau ungkapkan saja?”
Aku
“kau lebih tahu aku daripada diriku sendiri”
Langit
“kenapa tak kau titipkan pada udara?pada angin agar ia bisa menyadari rasa rindumu? ”
Aku
“aku tak ingin memberatkannya dengan ada ku dan tak ingin membebaninya dengan rasa rinduku”
Langit
“aku tidak setuju!!!”
Aku
“mengapa?”
Langit
“harusnya kau hentikan langkahnya dan katakan padanya bahwa kau ingin ditemani olehnya malam ini....atau aku yang harus menyampaikan padanya?”
Aku
“tidak, terimakasih! Tapi menurutku kau tak perlu melakukan hal itu, langit. Aku adalah wanita dan aku...”
Langit
“tapi aku tak senang melihat senyumanmu hilang hanya dengan rasa yang kau pendam itu, akan kukatakan padanya malam ini!

Aku
“tunggu...! kau belum mengerti. Ada hal yang mungkin mudah untuk kau pahami tapi sulit untuk ku terima...”
Langit
“aku tak peduli. Dia harus tahu!”
Aku
“dengarkan aku...! hati ini butuh istirahat....”
Langit
“hatimu? Atau hatinya?”
Aku
“hati kami...”
langit terdiam bukan tak mengerti,
bukan tak memahami arti perkataanku.
Tapi ia sedang berfikir.
Aku tahu itu.
Ku benamkan wajahku
agar langit tak melihat air
yang menggenang di pelupuk mataku.
Ku biarkan angin menyanyikan lagu untuk mengisi kesunyian ini.
Kubiarkan malam menyelimuti rinduku
Lalu kudengar langit membisikkan kata”sambutlah sang fajar dengan senyuman, aku tak mau melihat diriku memendungkan warna di hari barumu”
Tapi esoknya kulihat langit mendung
Sudah ku bilang
Ia lebih tahu aku
Daripada diriku sendiri
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dear langit,
Kau tahu?
Manusia tak peka itu
Telah membuatku jatuh cinta padanya           
Mengahayalkannya...memimpikan dalam dekapannya
Dear langit,
Ia tak pernah tahu
Betapa istimewanya ia dihatiku
Ia tak pernah sadar
Betapa sering aku memikirkannya
Ia membuatku hampir tak bisa bernapas
Dear langit,                      
Jika cinta kami adalah cerita dalam sebuah buku
Kami akan bertemu di halaman paling awal
dan halaman paling akhir
kan tertulis...          
betapa ku bersyukur dengan hidup yang kami lalui bersama
Dear langit,
Ia mungkin berasal dari surga yang dikirim ke bumi
untukku, hanya untukku
ugh! Dia bak malaikat tak bersayap
Dear langit,
aku benar-benar terpukau
mungkin 1000 malam tak cukup
untukku menceritakan tentangnya padamu
mungkin segudang kertas dan berliter-liter tinta
tak cukup untukku menulis
semua rasa yang telah ia tumbuhkan di hati ini
--------------------------------------------------------------------------
mawar itu...
harusnya aku tak menciumi wanginya
jika saja aku kan tahu  akibatnya seperti ini
bahkan aku curiga,jika kemana-mana wanginya selalu membayangiku..
jangan-jangan mawar  ini mawar ajaib!!!
Wanginya membawa kerinduan
Oh sebentar lagi aku bisa gila olehnya

0 komentar:

Posting Komentar

 

Titin Agustina Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting