"Siapa yang tak suka bersua Allah, maka Allah pun tak suka bersua dengannya." (HR Bukhari dan Muslim).
Dia takut bertemu Allah, karena menyadari keterbatasan dan
keteledoran dirinya. Dia tak ubahnya orang yang menunda pertemuan dengan
kekasih, karena masih sibuk menyiapkan pertemuan dengannya, agar
pertemuan itu benar-benar menyenangkannya. Jadi tidak dianggap sebagai
ketidaksukaan terhadap pertemuan itu. Tandanya, dia selalu mengadakan
persiapan dan tidak menyibukkan diri dengan urusan orang lain. Jika
tidak, maka dia sama saja dengan orang yang tenggelam dalam keduniaan.
Sedangkan orang sadar selalu mengingat mati, karena kematian itu
merupakan saat yang dijanjikan untuk bertemu sang kekasih. Tentu saja
dia tidak lupa saat pertemuan dengan kekasih. Biasanya orang yang
seperti ini menganggap lamban saat datangnya pertemuan itu. Dia lebih
suka segera lepas dari tempat yang dipenuhi orang-orang yang durhaka,
lalu berpindah ke sisi Rabbul-alamin, sebagaimana yang dikatakan
sebagian diantara mereka, “Sang kekasih datang dair atas sana”.
Jadi, keengganan orang yang bertaubat terhadap kematian masih bisa
ditolerir. Sementara ada orang lain yang justru mengharapkan kematian.
Yang lebih tinggi derajatnya adalah orang yang menyerahkan urusannya
kepada Allah, sehingga dia tidak memilih hidup dan tidak memilih mati
untuk dirinya. Yang paling dia sukai adalah apa yang disukai
pelindungnya. Cinta semacam ini berubah menjadi kepasrahan dan
penyerahan diri. Ini merupakan puncak tujuan.
Bagaimana pun juga, mengingat mati itu ada pahala dan keutamaannya.
Orang yang tenggelam dalam keduniaan, mengingat mati justru untuk
mendekatkannya kepada keduniaan itu.
Hamid Al-Qushairy berkata, “Setiap orang di antara
kita yakin akan datangnya kematian, sementara kita tidak melihat
seseorang bersiap-siap menghadapi kematian itu. Setiap orang di antara
kita yakin adanya surga, sementara kita tidak melihat ada yang berbuat
agar bisa masuk surga. Setiap orang di antara kita yakin adanya neraka,
sementara kita tidak melihat orang yang takut terhadap neraka. Untuk apa
kalian bersenang-senang? Apa yang sedang kalian tunggu? Tiada lain
adalah kematian. Kalian akan mendatangi Allah dengan membawa kebaikan
ataukah keburukan. Maka hampirilah Allah dengan cara yang baik.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah mengingat perusak kelezatan-kelezatan, yaitu mati.” (HR Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban).
Al-Hasan Al-Bashry berkata, “Kematian melecehkan
dunia dan tidak menyisakan kesenangan bagi orang yang berakal. Selagi
seseorang mengharuskan hatinya untuk mengingat mati, maka dunia terasa
kecil di matanya dan segala apa yang ada di dalamnya menjadi remeh.
Jika Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu ingat mati, maka
dia menggigil seperti burung yang sedang menggigil. Setiap malam dia
mengumpulkan para fuqaha, lalu mereka saling mengingatkan kematian dan
hari kiamat, lalu mereka semua menangis, seakan-akan di hadapan mereka
ada mayat.
Syumaith bin Ajlan berkata, “Siapa yang menjadikan kematian pusat perhatiannya, maka dia tidak lagi peduli terhadap kesempitan dunia dan kelapangannya.”
Ketahuilah bahwa bencana kematian itu amat besar. Banyak orang yang
melalaikan kematian karena mereka tidak memikirkan dan mengingatnya.
Kalau pun ada yang mengingatnya, toh dia mengingatnya dengan hati yang
lalai, sehingga tidak ada gunanya dia mengingat mati. Cara yang harus
dilakukan seorang hamba ialah mengosongkan hati tatkala mengingat
kematian yang seakan-akan ada di hadapannya, seperti orang yang hendak
bepergian ke daerah yang berbahaya atau tatkala hendak naik perahu
mengarungi lautan, yang tentunya dia mengingat kecuali perjalanannya.
Cara yang paling efektif baginya ialah mengingat keadaan dirinya dan
orang-orang yang sebelumnya, mengingat kematian dan kemusnahan mereka.
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Orang yang berbahagia ialah yang bisa mengambil pelajaran dari orang lain.”
Abu Darda’ Radhiyallahu anhu berkata, “Jika engkau mengingat orang-orang yang sudah meninggal, maka jadikanlah dirimu termasuk mereka yang sudah meninggal.”
Ada baiknya jika dia memasuki kuburan dan mengingat orang-orang yang
sudah dipendam disana. Selagi hatinya mulai condong kepada keduniaan,
maka hendaklah dia berpikir bahwa dia pasti akan meninggalkannya dan
harapan-harapannya pun menjadi pupus.
Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam memegangi kedua pundakku lalu beliau bersabda, “Jadilah di dunia seakan-akan engkau adalah orang asing atau seorang pelancong.” (HR Bukhary dan Ahmad).
Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata, “Jika engkau
berada pada sore hari, maka janganlah menunggu sore harinya.
Pergunakanlah kesehatanmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu.”
Dari Al-Hasan rohimahullah , dia berkata, “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa salam bertanya kepada para sahabat, “Apakah setiap orang di antara kalian ingin masuk surga?” Mereka menjawab, “Benar wahai Rasulullah.” Beliau Shalallahu Alaihi Wa salam bersabda, “Pendekkanlah
angan-angan, buatlah ajal kalian ada di depan mata kalian dan malulah
kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” (Diriwayatkan Ibnu
Abid-Dunya)
Dari Abu Zakaria At-Taimy, dia berkata, “Tatkala
Sulaiman bin Abdul Malik berada di Masjidil Haram, tiba-tiba ada yang
menyodorkan selembar batu yang berukir. Lalu dia meminta orang yang
dapat membacanya. Ternyata di batu itu tertulis: Wahai anak
Adam, andaikan engkau tahu sisa umurmu, tentu engkau tidak akan
berangan-angan yang muluk-muluk, engkau akan beramal lebih banyak lagi
dan engkau tidak akan terlalu berambisi. Penyesalanmu akan muncul jika
kakimu sudah tergelincir dan keluargamu sudah pasrah terhadap keadaan
dirimu, dan engkau akan menigngalkan anak serta keturunan. Saat itu
engkau tidak bisa kembali lagi ke dunia dan tidak bisa lagi menambah
amalmu. Berbuatlah untuk menghadapi hari kiamat, hari yang diwarnai
penyesalan dan kerugian.”
Ketahuilah, munculnya angan-angan yang muluk-muluk ini ada dua hal:
1. Cinta Kepada Dunia.
Jika manusia sudah menyatu dengan keduniaan, kenikmatan dan
belenggunya, maka hatinya merasa berat untuk berpisah dengan dunia,
sehingga di dalam hatinya tidak terlintas pikiran tentang mati. Padahal
kematianlah yang akan memisahkan dirinya dengan dunia. Siapa pun yang
membenci sesuatu, tentu akan menjauhkan sesuatu itu dari dirinya.
Manusia selalu dibayang-bayangi angan-angan yang batil. Dia
berangan-angan sesuai dengan kehendaknya, seperti hidup terus di dunia,
mendapatkan seluruh barang yang dibutuhkannya, seperti harta benda,
tempat tinggal, keluarga dan sebab-sebab keduniaan lainnya. Hatinya
hanya terpusat pada hal-hal ini, sehingga lalai mengingat mati dan tidak
membayangkan kedekatan kematiannya.
Andakain di dalam hatinya sesekali melintas pikiran tentang kematian
dan perlu bersiap-siap menghadapinya, tentu dia bersikap waspada dan
mengingat dirinya. Namun dia hanya berkata, “Hari-hari ada di depanmu
hingga engkau menjadi dewasa. Setelah itu engkau bertaubat.” Setelah
dewasa dia berkata, “Sebentar lagi engkau akan menjadi tua.” Setelah tua
dia berkata, “Tunggulh hingga rumah ini rampung atau biar kuselesaikan
terlebih dahulu perjalananku.” Dia menunda-nunda dan terus
menunda-nunda, hingga selesainya kesibukan demi kesibukan dan hari demi
hari, hingga ajal menjemputnya tanpa disadarinya, dan saat itulah dia
akan merasakan penyesalan yang mendalam.’
Kebanyakan teriakan para penghuni neraka ialah kata-kata,
“Andaikata”. Mereka berkata, “Aduhai aku benar-benar menyesal”, yang
juga menggambarkan kata-kata “Andaikata”. Sumber dari seluruh
angan-angan ini adalah cinta kepada dunia dan lalai terhadap sabda Nabi
Shalallahu Alaihi Wa Sallam, “Cintailah apa pun sekehendakmu, toh engkau
akan berpisah dengannya.” (Diriwayatkan Al-Hakimn dan Abu Nu’aim)
2. Kebodohan
Hal ini terjadi karena manusia tidak mempergunakan masa mudanya,
menganggap kematian masih lama datangnya karena dia masih muda. Apakah
pemuda semacam ini tidak menghitung bahwa orang-orang yang berumur
panjang di wilayahnya tidak lebih dari sepuluh orang? Mengapa jumlah
ornag tua hanya sedikit? Karena banyak manusia yang meninggal dunia
selagi muda. Berbarengan dengan meninggalnya satu orang tua, ada seribu
bayi dan anak muda yang meninggal dunia. Dia tertipu oleh kesehatannya
dan tidak tahu bahwa kematian bisa menghampirinya secara tiba-tiba,
sekalipun dia menganggap kematian itu masih lama. Sakit bisa menimpanya
secara tiba-tiba. Jika dia jatuh sakit, maka kematian tidak jauh
darinya.
Andaikan dia mau berpikir dan menyadari bahwa kematian itu tidak
mempunyai waktu yang pasti, entah pada musim panas, gugur atau semi,
siang atau malam, tidak terikat pada umur tertentu, muda atau tua, tentu
dia akan menganggap serius urusan kematian ini dan tentu dia akan
bersiap-siap menyongsongnya.
Memang perjalanan menuju akhirat merupakan suatu perjalanan yang
panjang. Suatu perjalanan yang banyak aral dan cobaan, yang dalam
menempuhnya kita memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang tidak
sedikit. Yaitu suatu perjalanan yang menentukan apakah kita termasuk
penduduk surga atau neraka.
Perjalanan itu adalah kematian yang akan menjemput kita, yang
kemudian dilanjutkan dengan pertemuan kita dengan alam akhirat. Karena
keagungan perjalanan ini, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa salam telah bersabda:
“Andai saja engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan sedikit tertawa dan banyak menangis”. (Mutafaq ‘Alaih)
Maksudnya apabila kita tahu hakekat kematian dan keadaan alam akhirat
serta kejadian-kejadian di dalamnya niscaya kita akan ingat bahwa
setelah kehidupan ini akan ada kehidupan lain yang lebih abadi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dan kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. (Al-A’la: 17).
Akan tetapi kadang kita lupa akan perjalanan itu dan lebih memilih kehidupan dunia yang tidak ada nilainya di sisi Allah.
Marilah kita siapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk menyempurnakan
perjalanan itu, yaitu dengan melakukan ketaatan-ketaatan kepada Allah
Subhanahu wa ta’ala ;. Dan marilah kita perbanyak taubat dari segala
dosa-dosa yang telah kita lakukan.
Ingatlah di kala nyawa kita dicabut oleh malaikat maut. Nafas kita
tersengal, mulut kita dikunci, anggota badan kita lemah, pintu taubat
telah tertutup bagi kita. Di sekitar kita terdengar tangisan dan
rintihan handai taulan yang kita tinggalkan. Pada saat itu tidak ada
yang bisa menghindarkan kita dari sakaratul maut. Tiada daya dan usaha
yang bisa menyelamatkan kita dari kematian. Allah Subhannahu wa Ta’ala
berfirman:
“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya”. (Qaaf: 19)
Allah juga berfirman:
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan-mu, kendatipun kamu berada di benteng yang kuat”. (An-Nisaa’: 78)
Cukuplah kematian sebagai nasehat, cukuplah kematian menjadi-kan hati
bersedih, cukuplah kematian menjadikan air mata berlinang. Perpisahan
dengan saudara tercinta. Penghalang segala kenikmatan dan pemutus segala
cita-cita.
Marilah kita tanyakan kepada diri kita sendiri, kapan kita akan mati ? Di mana kita akan mati ?
Demi Allah, hanya Allah-lah yang mengetahui jawabannya, oleh
karenanya marilah kita selalu bertaubat kepada Allah dan jangan kita
menunda-nunda dengan kata nanti, nanti dan nanti.
Alam Kubur ,Awal perjalanan kita di Akherat. **
Khalifah kaum muslimin yang keempat Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu jika melihat perkuburan beliau menangis mengucurkan air mata hingga membasahi jenggotnya.
Suatu hari ada seorang yang bertanya:
“Tatkala mengingat surga dan neraka engkau tidak menangis, mengapa engkau menangis ketika melihat perkuburan?” Utsman pun menjawab, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya liang kubur adalah awal perjalanan
akhirat. Jika seseorang selamat dari (siksaan)nya maka perjalanan
selanjutnya akan lebih mudah. Namun jika ia tidak selamat dari
(siksaan)nya maka (siksaan) selanjutnya akan lebih kejam.” (HR. Tirmidzi, beliau berkata, “hasan gharib”. Syaikh al-Albani menghasankannya dalam Misykah al-Mashabih)
Bagaimanakah perjalanan seseorang jika ia telah masuk di alam kubur? Hadits panjang al-Bara’
bin ‘Azib yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dishahihkan oleh Imam
al-Hakim dan Syaikh al-Albani menceritakan perjalanan para manusia di
alam kuburnya:
Suatu hari kami mengantarkan jenazah salah seorang sahabat Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dari golongan Anshar. Sesampainya di
perkuburan, liang lahad masih digali. Maka Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam pun duduk (menanti) dan kami juga duduk terdiam di
sekitarnya seakan-akan di atas kepala kami ada burung gagak yang
hinggap. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memainkan sepotong
dahan di tangannya ke tanah, lalu beliau mengangkat kepalanya seraya
bersabda, “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur!” Beliau
ulangi perintah ini dua atau tiga kali.
Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Seandainya seorang yang beriman sudah tidak lagi menginginkan dunia dan
telah mengharapkan akhirat (sakaratul maut), turunlah dari langit para
malaikat yang bermuka cerah secerah sinar matahari. Mereka membawa kain
kafan dan wewangian dari surga lalu duduk di sekeliling mukmin tersebut
sejauh mata memandang. Setelah itu turunlah malaikat pencabut nyawa dan
mengambil posisi di arah kepala mukmin tersebut. Malaikat pencabut nyawa
itu berkata, `Wahai nyawa yang mulia keluarlah engkau untuk menjemput
ampunan Allah dan keridhaan-Nya`. Maka nyawa itu (dengan mudahnya)
keluar dari tubuh mukmin tersebut seperti lancarnya air yang mengalir
dari mulut sebuah kendil. Lalu nyawa tersebut diambil oleh malaikat
pencabut nyawa dan dalam sekejap mata diserahkan kepada para malaikat
yang berwajah cerah tadi lalu dibungkus dengan kafan surga dan
diberi wewangian darinya pula. Hingga terciumlah bau harum seharum
wewangian yang paling harum di muka bumi.
Kemudian nyawa yang telah dikafani itu diangkat ke langit. Setiap
melewati sekelompok malaikat di langit mereka bertanya, `Nyawa siapakah
yang amat mulia itu?` `Ini adalah nyawa fulan bin fulan`, jawab para
malaikat yang mengawalnya dengan menyebutkan namanya yang terbaik ketika
di dunia. Sesampainya di langit dunia mereka meminta izin untuk
memasukinya, lalu diizinkan. Maka seluruh malaikat yang ada di langit
itu ikut mengantarkannya menuju langit berikutnya. Hingga mereka sampai
di langit ketujuh. Di sanalah Allah berfirman, `Tulislah nama hambaku
ini di dalam kitab ‘Iliyyin. Lalu kembalikanlah ia ke (jasadnya di)
bumi, karena darinyalah Aku ciptakan mereka (para manusia), dan
kepadanyalah Aku akan kembalikan, serta darinyalah mereka akan Ku
bangkitkan.`
Lalu nyawa tersebut dikembalikan ke jasadnya di dunia. Lantas
datanglah dua orang malaikat yang memerintahkannya untuk duduk. Mereka
berdua bertanya, `Siapakah rabbmu?`, `Rabbku adalah Allah` jawabnya.
Mereka berdua kembali bertanya, `Apakah agamamu?`, `Agamaku Islam`
sahutnya. Mereka berdua bertanya lagi, `Siapakah orang yang telah diutus
untuk kalian?` “Beliau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”
jawabnya. `Dari mana engkau tahu?` tanya mereka berdua. `Aku membaca
Al-Qur’an lalu aku mengimaninya dan mempercayainya`. Tiba-tiba
terdengarlah suara dari langit yang menyeru, `(Jawaban) hamba-Ku benar!
Maka hamparkanlah surga baginya, berilah dia pakaian darinya lalu
bukakanlah pintu ke arahnya`. Maka menghembuslah angin segar dan
harumnya surga (memasuki kuburannya) lalu kuburannya diluaskan sepanjang
mata memandang.
Saat itu datanglah seorang (pemuda asing) yang amat tampan
memakai pakaian yang sangat indah dan berbau harum sekali, seraya
berkata, `Bergembiralah, inilah hari yang telah dijanjikan dulu bagimu`.
Mukmin tadi bertanya, `Siapakah engkau? Wajahmu menandakan kebaikan`.
`Aku adalah amal salehmu` jawabnya. Si mukmin tadi pun berkata, `Wahai
Rabbku (segerakanlah datangnya) hari kiamat, karena aku ingin bertemu
dengan keluarga dan hartaku.
Adapun orang kafir, di saat dia dalam keadaan tidak mengharapkan
akhirat dan masih menginginkan (keindahan) duniawi, turunlah dari langit
malaikat yang bermuka hitam sambil membawa kain mori kasar. Lalu mereka
duduk di sekelilingnya. Saat itu turunlah malaikat pencabut nyawa dan
duduk di arah kepalanya seraya berkata, `Wahai nyawa yang hina keluarlah
dan jemputlah kemurkaan dan kemarahan Allah!`. Maka nyawa orang kafir
tadi ‘berlarian’ di sekujur tubuhnya. Maka malaikat pencabut nyawa tadi
mencabut nyawa tersebut (dengan paksa), sebagaimana seseorang yang
menarik besi beruji yang menempel di kapas basah. Begitu nyawa tersebut
sudah berada di tangan malaikat pencabut nyawa, sekejap mata diambil
oleh para malaikat bermuka hitam yang ada di sekelilingnya, lalu nyawa
tadi segera dibungkus dengan kain mori kasar. Tiba-tiba terciumlah bau
busuk sebusuk bangkai yang paling busuk di muka bumi.
Lalu nyawa tadi dibawa ke langit. Setiap mereka melewati
segerombolan malaikat mereka selalu ditanya, `Nyawa siapakah yang amat
hina ini?`, `Ini adalah nyawa fulan bin fulan` jawab mereka dengan
namanya yang terburuk ketika di dunia. Sesampainya di langit dunia,
mereka minta izin untuk memasukinya, namun tidak diizinkan. Rasulullah
membaca firman Allah:
“Tidak akan dibukakan bagi mereka (orang-orang kafir)
pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga, sampai seandainya
unta bisa memasuki lobang jarum sekalipun.” (QS. Al-A’raf: 40)
Saat itu Allah berfirman, `Tulislah namanya di dalam Sijjin di
bawah bumi`, Kemudian nyawa itu dicampakkan (dengan hina dina).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah ta’ala:
“Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah
ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau
diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 31)
Kemudian nyawa tadi dikembalikan ke jasadnya, hingga datanglah
dua orang malaikat yang mendudukannya seraya bertanya, `Siapakah
rabbmu?`, `Hah hah… aku tidak tahu` jawabnya. Mereka berdua kembali
bertanya, `Apakah agamamu?` “Hah hah… aku tidak tahu` sahutnya. Mereka
berdua bertanya lagi, `Siapakah orang yang telah diutus untuk kalian?`
“Hah hah… aku tidak tahu` jawabnya. Saat itu terdengar seruan dari
langit, `Hamba-Ku telah berdusta! Hamparkan neraka baginya dan bukakan
pintu ke arahnya`. Maka hawa panas dan bau busuk neraka pun bertiup ke
dalam kuburannya. Lalu kuburannya di ‘press’ (oleh Allah) hingga tulang
belulangnya (pecah dan) menancap satu sama lainnya.
Tiba-tiba datanglah seorang yang bermuka amat buruk memakai
pakaian kotor dan berbau sangat busuk, seraya berkata, `Aku datang
membawa kabar buruk untukmu, hari ini adalah hari yang telah dijanjikan
bagimu`. Orang kafir itu seraya bertanya, `Siapakah engkau? Wajahmu
menandakan kesialan!`, `Aku adalah dosa-dosamu` jawabnya. `Wahai Rabbku,
janganlah engkau datangkan hari kiamat` seru orang kafir tadi. (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (XXX/499-503) dan dishahihkan oleh al-Hakim dalam Al-Mustadrak (I/39) dan al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hal. 156)
Itulah dua model kehidupan orang yang telah masuk liang kubur. Jika
kita menginginkan untuk menjadi orang yang dibukakan baginya pintu ke
surga dan diluaskan liang kuburnya seluas mata memandang maka mari kita
berusaha untuk memperbanyak untuk beramal saleh di dunia ini.
Suatu amalan tidak akan dianggap saleh hingga memenuhi dua syarat:
- Ikhlas hanya semata mata kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
- Sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Banyak sekali dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan landasan dua syarat di atas.
Di antara dalil syarat pertama adalah firman Allah ta’ala:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam agama yang lurus, dan supaya
mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah
agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Di antara dalil syarat kedua adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya (III/1344 no 1718))
Allah menghimpun dua syarat ini dalam firman-Nya di akhir surat Al-Kahfi:
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Maka mari kita manfaatkan kehidupan dunia yang hanya sementara ini
untuk benar-benar beramal saleh. Semoga kelak kita mendapatkan
kenikmatan di alam kubur serta dihindarkan dari siksaan di dalamnya,
amin.
Wallahu ta’ala a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
share artikel ini dari [http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2010/03/05/mengingat-kematian-dan-kehidupan-sesudahnya/]

0 komentar:
Posting Komentar